f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ijtihad perempuan kartini

Hari Kartini dan Upaya Menghidupkan Ijtihad Perempuan

Setiap tanggal 21 April nama Kartini akan dikenang. Kita diingatkan pada keberanian seorang perempuan untuk berpikir dan bersuara di tengah keterbatasan zamannya. Ia bukan hanya simbol emansipasi, tetapi juga penanda bagaimana seorang perempuan dapat membaca realitas sosial dan menawarkan gagasan yang membebaskan—semua itu ia lakukan dengan pena, nalar, dan juga hati.

Sosok Kartini bisa kita sebut sebagai feminis Jawa yang memperjuangkan kesetaraan dan keadilan. Tidak semua hal yang bernuansa feminis itu buruk. Bahkan, saat ini kita membutuhkan metode dan pendekatan keilmuan yang ramah terhadap perempuan dan kaum marginal. Islam memang sudah mengatur bagaimana relasi perempuan dan laki-laki. Namun yang menjadi problem adalah lingkungan sosial kita kerapkali menyelewengkan tafsir agama untuk menjustifikasi kepentingan yang jauh dari pesan-pesan Qurani.

Di tengah derasnya arus peringatan Hari Kartini yang kerap berhenti pada seremonial simbolis, kita diajak kembali merenungi: bagaimana agar warisan berpikir Kartini bisa terus hidup? Sudahkah kita memberi ruang yang cukup bagi perempuan untuk terlibat dalam ruang-ruang pengetahuan—yakni proses berpikir dan memahami ajaran Islam secara mendalam, kritis, dan kontekstual?

Kartini dan Tradisi Pengetahuan Perempuan

Salah satu hal yang paling menonjol dari kepribadian Kartini adalah ia sosok perempuan yang gemar belajar yaitu menulis dan mebaca. Pada usia 12 tahun Kartini mulai dipingit sampai jodoh datang menghampirinya. Cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan kandas karena tidak mendapatkan izin dari ayahnya. Bagi adat Jawa dahulu, perkataan ayah, paman atau saudara laki-laki sama derajatnya dengan undang-undang Negara yang tidak bisa diganggu gugat.

Selama dalam masa pingitan Kartini tidak menyerah dan putus asa. Kartini menyadari bahwa merenung dan menangis tidak akan mewujudkan cita-citanya. Sosok Kartini yang tumbuh sebagai perempuan kritis karena gemar membaca dan menulis ini tidak terlepas dari support system sang kakak, R.M Panji Sosrokartono.

Baca Juga  R.A. Kartini: Ingatan yang Direduksi, Perlawanan yang Dibungkam Zaman (Sebuah Refleksi untuk Hari Kartini, 21 April 2026)

Ia pernah berpesan kepada Kartini bahwa jiwa bisa dipasung namun tidak dengan pikiran. Pesan kakaknya ini tertanam kuat dalam jiwa dan pikiran Kartini sehingga ia berusaha banyak membaca buku, koran, dan majalah berbahasa Belanda untuk menambah pengetahuannya.

Interaksi yang dibangun Kartini bersama teman korespondensinya merupakan jalan diplomasi untuk mengenal berbagai golongan di luar dirinya. Gagasan progresifnya banyak dituangkan melalui tulisan. Pergulatan Kartini dengan buku dan dialog antar budaya menumbuhkan kepekaan terhadap masalah sosial di lingkungannya.

Apa yang dilakukan Kartini (menulis lewat surat) adalah salah satu upaya perempuan dalam membangun tradisi pengetahuan. Ia adalah salah satu tokoh pelopor dalam melahirkan tradisi berpikir perempuan yang kritis terhadap struktur sosial dan agama. Ia tidak hanya menerima apa adanya, tetapi berusaha mencari jawaban dan solusi melalui pendidikan dan pengetahuan. Meskipun ia dipingit di dalam rumah, dengan berani ia tetap menyuarakan gagasan lewat tulisan.

Pada beberapa kondisi perempuan saat ini, relasi kuasa masih sangat tinggi sehingga berdampak pada terbatasanya akses perempuan membagikan pengetahuan mereka di ruang publik. Maka, membangun tradisi dengan menceritakan pengalaman perempuan apapun bentuknya dalam kehidupan menjadi keharusan. Kita upayakan agar pemikiran dan pengalaman perempuan dapat tersampaikan secara terstruktur, sistematis dan dituangkan ke dalam suatu bentuk dokumentasi sehingga lebih mudah dipahami dan disebarluaskan untuk orang lain.

Dengan tradisi ini, pengalaman perempuan dapat menjadi explicit knowledge sebagai perspektif dan pengetahuan kolektif, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai sesuatu yang adil serta maslahat bagi kemanusiaan universal.

Menghidupkan Ijtihad Perempuan

Pada masa Kartini pendidikan agama masih menggunakan banking concept of education. Di mana sistem pendidikan masih belum memberikan ruang kreativitas dan keingintahuan pelajar. Kartini pernah merasa kesal karena guru mengajinya pernah memarahi Kartini ketika menanyakan makna dari kata-kata Al-Qur’an yang diajarkan kepadanya.

Baca Juga  Transformasi Peran Wanita di Masa Depan: Inspirasi dari Kartini

Menginjak usia dewasa, Kartini semakin merindukan tafsir Al-Qur’an agar dapat dipelajari guna memperdalam ajaran agamanya. Mengenai agama, awalnya Kartini pernah mengkritik praktek keagamaan masyarakat yang mayoritas masih menganut taklid buta. Kartini resah dengan keadaan, ia ingin memiliki sikap keagamaan yang matang tidak sekedar ikut-ikutan. Hal ini menandakan bahwa pemikiran kritis Kartini terhadap agama sudah melampaui zamannya kala itu.

Hari ini, jumlah majelis taklim yang digerakkan perempuan sudah sangat banyak. Namun, cenderung fokus pada aspek moral, fiqh ibadah, atau spiritualitas individual, alih-alih menjadi ruang pengembangan ijtihad kritis. Hal itu bagus dan harus diapresiasi, namun belum cukup membuka jalan bagi perempuan untuk menjadi scholars atau mujtahidah. Padahal pengalaman keislaman perempuan yang kompleks bisa menjadi sumber pengetahuan berharga. Sayangnya, pemikiran mereka jarang terdokumentasi sebagai wacana yang terlembaga.

Ai Fatimah Nur Fuad (Guru Besar Bidang Keilmuan Islam) menjelaskan bahwa penting bagi kita memunculkan kembali ulama-ulama perempuan melalui proses pendidikan dan pembelajaran, lewat media-media baru, lewat budaya populer, lewat penerbitan buku-buku dan lewat kegiatan-kegiatan publik agar masyarakat lebih terbuka dan lebih sensitif gender (Suara Muhammadiyah, 2020)

Karena itu, menghidupkan tradisi ijtihad perempuan menjadi kebutuhan. Sehingga mereka tidak hanya menjadi objek penafsiran, tetapi juga sebagai subjek penuh yang memiliki otoritas dalam proses pengembangan pemikiran Islam. Ijtihad perempuan bukanlah soal menggantikan peran ulama laki-laki, tetapi sebagai upaya kolaboratif dalam memperkaya khazanah keilmuan Islam dengan perspektif yang lebih beragam dan relevan dengan kondisi perempuan masa kini.

Ada satu buku yang menurut penulis bagus dan layak dijadikan rujukan para Ulama Indonesia, atau para pemuka agama dalam mengembangkan keilmuan Islam masa kini yakni Wanita Ahli Tafsir Abad Modern: Sebuah Revolusi Besar dari Kesarjanaan Kaum Hawa karya Retno Prayudi, dan Abd. Hamid.

Baca Juga  Membijaksanakan (Tuduhan) Selingkuh

Dalam konteks Indonesia, buku ini relevan untuk mendorong pengembangan tafsir yang lebih inklusif dan responsif terhadap pengalaman perempuan. Dengan mengangkat tokoh-tokoh mufassirah modern, buku ini memberikan inspirasi bagi perempuan Indonesia untuk lebih aktif dalam bidang keilmuan Islam, khususnya dalam tafsir al-Qur’an.

Ekosistem Ilmu yang Inklusif bagi Perempuan

Untuk menghidupkan kembali ijtihad perempuan, diperlukan ekosistem yang mendukung partisipasi aktif perempuan dalam dunia keilmuan Islam. Hal ini mencakup akses terhadap pendidikan tinggi, dukungan institusional, dan pengakuan terhadap otoritas keilmuan perempuan dalam ruang lingkup keagamaan.

Dalam hal ini, pendekatan integratif-interkonektif yang dikembangkan oleh Amin Abdullah menjadi tawaran penting. Ia menyatakan bahwa studi keislaman masa kini tak bisa lagi dipisahkan dari konteks sosial, budaya, bahkan pengalaman konkret umat—termasuk perempuan. Maka, ijtihad keilmuan tidak bisa dimonopoli oleh satu suara atau satu golongan. (Islamic Studies di Perguruan Tinggi: Pendekatan Integratif-Interkonektif, 2006).

Senada dengan penjelasan Heba Roauf Ezzat dalam Women and Ijtihad: Towards a New Islamic Discourse (2016, perlu ada kerja lintas disiplin antara ilmuwan sosial, ahli fikih, aktivis perempuan, dan masyarakat sipil untuk menafsirkan teks dan realitas secara berdampingan. Dengan begitu, ekosistem keilmuan keislaman menjadi lebih membumi dan kolaboratif.

Selamat Hari Kartini, semoga setiap langkah perempuan yang belajar, mengajar, dan berbagi ilmu menjadi bagian dari jalan panjang perubahan—yang inklusif, berkeadilan, dan penuh keberkahan. Amiin.

Bagikan
Post a Comment