f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
postpartum

Depresi Postpartum: Apakah Perlu Minta Bantuan?

Apakah Rahmania pernah merasa sangat lelah dan sedih setelah melahirkan, sampai merasa hampa dan putus asa? Jika iya, Rahmania tidak sendirian. Banyak ibu baru yang mengalami hal ini, dan itu adalah sesuatu yang perlu dibicarakan. Ini adalah kisah nyata dari teman saya, seorang ibu muda yang merasa sangat terbebani setelah melahirkan anak pertama.

“Awalnya saya merasa sedih dan cemas tanpa alasan yang jelas. Bahkan, saya merasa terputus dari bayi saya. Pokoknya, saya merasa nggak suka sama bayi saya. Tapi saya nggak tahu kenapa,” ceritanya. Dia mengira perasaan itu hanya baby blues yang biasa dialami ibu-ibu setelah melahirkan. Tapi ternyata, perasaan itu tidak kunjung hilang. Setelah dua minggu, dia merasa terjebak dalam perasaan gelap yang sangat berat, hingga merasa terisolasi dan akhirnya stress sendiri.

Apa Itu Depresi Postpartum?

Depresi postpartum atau depresi pasca melahirkan adalah kondisi yang banyak dialami oleh ibu-ibu setelah melahirkan, lebih banyak daripada yang bisa kita bayangkan. Banyak ibu merasa sedih atau kewalahan (baby blues) setelah melahirkan, tapi jika perasaan itu bertahan lebih dari dua minggu dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, bisa jadi itu sudah menjadi depresi pasca melahirkan. Faktanya, satu dari sembilan ibu baru mengalami hal ini. Jadi, Bunda nggak sendirian. Depresi pasca melahirkan memang bukan sesuatu yang normal atau diinginkan, tapi itu adalah masalah kesehatan mental yang serius yang bisa mempengaruhi kesehatan fisik dan emosional Bunda. Kalau dibiarkan begitu saja, perasaan ini bisa mengganggu kemampuan ibu untuk merawat bayi, bahkan merawat diri sendiri.

Penyebab Depresi Postpartum

Salah satu penyebab utama depresi pasca melahirkan adalah perubahan hormon yang sangat cepat. Selama kehamilan, tubuh ibu memproduksi hormon seperti estrogen dan progesteron dalam jumlah yang sangat tinggi, tapi setelah melahirkan, kadar hormon-hormon tersebut langsung turun drastis dalam waktu singkat. Perubahan hormon ini bisa memengaruhi otak, khususnya bagian yang mengatur emosi. Fluktuasi hormon inilah yang sering dikaitkan dengan perubahan suasana hati, kecemasan, bahkan depresi.

Baca Juga  Hati-Hati, Perasaan Kalau Dimanja Menyesatkan

Selain itu, ada beberapa hormon lain yang juga berperan dalam depresi pasca melahirkan:

  • Oksitosin, yang dikenal sebagai “hormon cinta”, berperan penting dalam proses melahirkan dan menyusui. Hormon ini memicu perasaan kasih sayang antara ibu dan bayi. Namun, jika kadar oksitosin tidak seimbang atau jika Bunda merasa terasing dari bayi karena masalah menyusui, hal ini bisa memperburuk gejala depresi pasca melahirkan.
  • Prolaktin, hormon yang merangsang produksi ASI, meningkat setelah melahirkan. Hormon ini juga berperan dalam membantu Bunda merasa relaks dan puas. Ketidakseimbangan prolaktin, misalnya produksi ASI yang tidak lancar atau terlalu banyak, bisa menyebabkan kecemasan atau frustrasi, yang memperburuk depresi.
  • Tiroid, tak jarang, masalah hormon tiroid juga ikut berperan dalam depresi pasca melahirkan. Jika Bunda merasa gejala depresi berlanjut, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk tes darah guna mengecek apakah masalah tiroid yang menjadi penyebabnya.
Gejala Depresi Postpartum

Setelah melahirkan, banyak perubahan fisik dan emosional yang terjadi pada tubuh Bunda. Beberapa perubahan tersebut memang wajar, tapi jika perasaan ini terus berlanjut lebih dari dua minggu, Bunda perlu mencari bantuan. Beberapa gejala yang sering dialami antara lain:

  • Merasa sangat gelisah atau mudah marah
  • Perasaan sedih, putus asa, atau kewalahan
  • Sering menangis tanpa alasan jelas
  • Tidak merasa terhubung dengan bayi atau kehilangan minat pada bayi
  • Merasa tidak memiliki energi atau motivasi untuk melakukan apapun
  • Kesulitan makan—entah itu makan terlalu sedikit atau berlebihan
  • Gangguan tidur
  • Merasa tidak berharga atau merasa bersalah
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya Bunda nikmati
  • Menarik diri dari teman-teman dan keluarga

Bunda mungkin merasa malu atau bersalah karena merasakan perasaan ini, terutama karena setelah melahirkan, seharusnya Bunda merasa bahagia. Namun, itu adalah hal yang sangat wajar. Depresi pasca melahirkan tidak ada hubungannya dengan seberapa baik Bunda sebagai ibu. Yang paling penting, Bunda tidak sendirian. Banyak ibu lainnya juga mengalami ini, dan ada banyak bantuan yang bisa Bunda dapatkan.

Baca Juga  Belajar dari Wonder Woman Muslimah Indonesia
Cara Mengatasi Depresi Postpartum di Rumah

Selain berkonsultasi dengan dokter, Bunda bisa mencoba beberapa cara untuk membantu mengurangi gejala depresi pasca melahirkan di rumah:

  1. Tidur yang cukup: Jangan ragu untuk tidur saat bayi tidur. Kurang tidur hanya akan memperburuk perasaan Bunda.
  2. Minta bantuan: Jangan ragu meminta bantuan dari pasangan, keluarga, atau teman dekat. Kadang-kadang Bunda perlu waktu untuk beristirahat dan merawat diri sendiri.
  3. Berbicara dengan ibu lain: Cobalah untuk berbicara dengan ibu lain yang Bunda kenal. Mereka bisa memberikan dukungan dan nasihat yang Bunda butuhkan, serta membuat Bunda merasa tidak sendirian.
  4. Jaga hubungan sosial: Luangkan waktu untuk keluar rumah, bertemu teman, atau habiskan waktu dengan pasangan. Ini bisa membantu Bunda merasa lebih baik.
  5. Kurangi stres: Usahakan untuk mengurangi stres, dan jangan membuat keputusan besar setelah melahirkan. Ini adalah waktu penuh perubahan, jadi pastikan Bunda mendapat dukungan dari orang terdekat.
  6. Memperbaiki hubungan dengan Allah; Dengan mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki hubungan spiritual, Bunda dapat merasakan kedamaian yang mendalam di dalam hati. Langkah ini tidak hanya dapat membantu mengatasi depresi pasca melahirkan, tetapi juga memperkuat iman dan memberikan rasa ketenangan dalam menghadapi setiap ujian hidup. Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu.” (QS. Ghafir: 60). Menghabiskan waktu untuk berdoa dan memohon agar diberikan ketenangan hati bisa membawa kedamaian batin.
Waspadai Psikosis Postpartum

Jika perasaan Bunda terasa sangat ekstrem, seperti kebingungan terus-menerus atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bayi, Bunda bisa mengalami psikosis pasca melahirkan. Ini adalah kondisi yang sangat serius dan membutuhkan perhatian medis segera. Gejala psikosis meliputi:

  • Melihat atau mendengar hal-hal yang tidak ada
  • Perubahan mood yang sangat cepat
  • Perasaan paranoid atau merasa orang lain ingin menyakiti Bunda
  • Berperilaku tidak biasa atau berbahaya
Baca Juga  Belajar Dari Depresi (1): Sebuah Review Buku “Loving The Wounded Soul”
Bunda Tidak Sendirian

Bunda harus ingat, Bunda tidak harus menghadapi ini sendirian. Menghadapi depresi pasca melahirkan memang berat, tapi meminta bantuan adalah langkah pertama yang sangat penting. Mintalah dukungan dari pasangan, keluarga, atau teman dekat. Jangan ragu untuk menghubungi dokter atau mencari dukungan profesional. Jika Bunda sedang hamil, pastikan orang terdekat tahu tentang gejala depresi pasca melahirkan, agar mereka bisa memberikan bantuan ketika diperlukan.

Jangan biarkan perasaan ini mengendalikan hidup Bunda. Ada banyak dukungan yang bisa Bunda dapatkan, baik dari orang terdekat maupun tenaga medis, untuk membantu Bunda melalui masa-masa sulit ini.

Semoga Bunda selalu sehat dan bahagia!


Penulis : Marmi, S.ST., M.Kes; Dosen Universitas YPIB Majalengka

Bagikan
Post a Comment