f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
uang

Cerita Untuk Mereka yang Berproses dengan Uang

Ingin banyak uang. Adalah suara hati saya jika ditanya apa keinginan terdalam. Saya menyadari bahwa memiliki gaji adalah sebuah privilege yang tak terbatas. Memiliki gaji artinya memiliki keamanan, kenyamanan, dan dengan itu kita bisa menukarnya dengan kepercayaan. Lalu kemudian satu dan dua hal terjadi, kita menyadari bahwa gaji kita hanya cukup untuk makan, bensin, rumah, itu saja.

Sekian tahun lalu saat terlilit pinjol, malam di mana tidur nyenyak bagaikan mustahil saya merunutnya. Tidak, saya tidak suka membeli apapun yang di luar jangkauan, nongkrong dengan temanpun tak bisa karena waktu saya habis di pekerjaan dan urusan orang tua yang sakit. Tapi kenapa gaji ini rasanya pas pasan sekali? Betul, ada orang tua yang harus sering cek lab di luar tanggungan BPJS, juga obat yang habis stok di rumah sakit sehingga kami membelinya diluar, juga makanan yang harus terjaga sehingga kami masak sendiri tanpa memiliki kulkas. Itu artinya, berbelanja dan memasak 3x sehari menjadi keharusan. Untuk itulah kala itu, hanya untuk odol dan sabun saja saya harus berhutang.

Kemudian semuanya menjadi tak masuk akal. Hitungan utang saya yang mencapai 6jt, saya rasa bisa selesai dalam 4 bulan. Tapi tidak, saat membuka aplikasinya saya terperanjat. Hitungan totalnya mencapai 8jt dan kian bertambah setiap harinya. Dengan berbagai pertimbangan, saya mencari hutangan dari berbagai orang. Saya menutup hutang pinjol dengan penuh sumpah serapah entah pada siapa. Sisanya saya merasa, relasi saya dengan uang harus berubah. Harus ada jalan untuk mengakhiri ini. Pada titik itu saya menyadari, relasi saya dengan uang memang tak berbentuk. Saya tak memahami apa makna uang bagi saya. Ironis sekali, padahal di belahan bumi lain ada orang dengan usia 30 tahun yang sudah memikirkan dana pensiun. Tapi saya masih nyaman dengan uang gaji yang numpang lewat.

Baca Juga  Saat Anak Diasuh Nenek: Kenyamanan Sementara, Risiko Berkepanjangan

Lalu relasi saya berubah saat menonton Youtube Raditya Dika, ia kabarnya sudah berniat pensiun dan bekerja hanya demi kesenangan. Baiklah terlalu jauh kalau saya seperti Radit, tapi setidaknya saya nggak ngowoh banget tiap kali akhir bulan kekurangan duit. Maka saya menonton videonya terkait duit, satu yang saya ingat hingga kini adalah : kita Cuma punya dua pilihan yakni menambah pemasukan atau memperkecil pengeluaran. Kalimat ini yang menjadi acuan saya di kemudian hari. Yang harus saya lakukan adalah memperkecil pengeluaran dan lebih giat mencari tambahan pekerjaan. Layaknya monster, saya ambil apapun tawaran kala itu. Asal nggak minus dan hutang lunak terbayar. Sisanya karena saya terlihat niat banget, Allah kasih saya kerjaan satu lagi secara remote dan akhirnya saya bahkan punya tabungan dengan rumus yang sama soal pengeluaran dan pemasukan.

Gaya Hidup dan Uang

Saya tak pernah yakin uang bisa membeli gaya hidup. Dalam tayangan podcast, seorang konsultan keuangan dan psikiatris ngobrol bareng soal bagaimana kita membelanjakan uang adalah soal apa yang terjadi pada hidup kita jauh sebelum itu. Saya tak berani menyebut itu sebagai trauma, tapi podcast sepanjang sekian jam itu membawa saya pada satu Kesimpulan : membelanjakan uang adalah soal mengenal diri sendiri. Jika kamu tahu tujuan hidupmu dan Hasrat terdalammu, maka ke arah sana uangmu akan menuju. Lain halnya jika kamu tak tahu apapun soal dirimu, maka seperti itulah uangmu. Tak tahu habis untuk apa dan kemana.

Pasca November 2021 saya ingat betul rekening saya 0 rupiah. Suatu sore Tabungan saya habis, lagi lagi untuk membayar hutang. Tapi beruntungnya, saat itu saya tidak lagi kedandapan seperti sebelumnya sebab hutang itu lunas begitu saja karena Tabungan. Akhirnya sepanjang November menuju Desember, saya hanya memiliki tunai ratusan ribu sampai waktunya gajian berikutnya. Tapi masa rekening kosong itu begitu membekas dan melahirkan trauma baru : saya tak mau berhutang, titik.

Baca Juga  Women Support Women dalam Film Air Mata di Ujung Sajadah

Peristiwa itu membekas hingga membuat saya memiliki relasi baru dengan uang : ia hanya alat. Alat untuk memenuhi mimpi saya. Sejak itu saya merunut apa saja mimpi saya ke depan dan apa yang harus saya lakukan satu demi satu. Masa ini juga saya sebut Black Periode. Saya menguninstall semua aplikasi belanja bahkan ojek online, saya hanya peduli pada relasi yang sehat dengan keuangan saya.

Tentu bagi sebagian orang relasi dengan uang diajarkan dengan baik dari rumah. Tapi bagi saya yang tercepuk-cepuk memahami ini, relasi kita dengan uang bisa membentuk kita pada karakter dan mempengaruhi nilai diri kita secara keseluruhan. Maka untuk mereka yang masih menggali dan menutup lobang, menjadi pelarian bahkan kepayahan menutup kebutuhan, semoga kita terus berproses.

Bagikan
Post a Comment