f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
keturunan tren

Tren Membuat Video Pesan untuk Keturunan di TikTok Bisa Menjadi Bahan Renungan

Satu hal yang paling sering saya lakukan di sela-sela kegiatan adalah scrolling FYP TikTok. Alasannya jelas untuk cari hiburan, toh saya nggak perlu mikir harus nonton apa. Tinggal swipe layar, beres. Namun, ada satu video berdurasi 3 menit yang saat itu membuat saya kembali duduk tegak agar lebih fokus menonton. Video tersebut menampilkan seorang mahasiswa semester 3 yang sedang berada di dalam kelas. Namun, saya dibuat terkejut saat mengetahui kalau video tersebut merupakan sebuah pesan atau dokumenter yang ditujukan untuk keturunan nya kelak.

Setelah menelusuri lebih lanjut, ternyata saya menemukan banyak video dengan konsep serupa. Jujur saja, ini kreatif sekaligus menggemaskan. Namun, di waktu yang bersamaan juga membuat saya merenung tentang bagaimana perilaku saya saat menjadi orang tua kelak.

Pentingnya mengusahakan menempuh pendidikan tinggi

Satu hal yang harus saya apresiasi dari mereka yang mengikuti tren ini adalah kesadaran bahwa menikah bukan hanya soal romansa dan urusan hawa nafsu. Lebih dari itu, mereka sadar bahwa menikah butuh materi, sehingga mereka berusaha untuk meningkatkan kualitas diri melalui pendidikan tinggi dengan harapan mendapat gaji yang layak untuk menghidupi keturunannya kelak.

Terus terang saya sepakat dengan pemikiran tersebut. Menurut saya, pendidikan tinggi memang tidak pernah menjamin seseorang akan menjadi sukses. Namun, jangan lupa kalau melalui pendidikan tinggi kesempatan seseorang untuk menjadi sukses bisa meningkat.

Makanya saya sebel dengan manusia-manusia ndlogok yang mengatakan pendidikan tinggi itu nggak penting. Sebab, argumen mereka biasanya cuma modal ngotot dan menjadikan Mark Zuckerberg atau Bill Gates sebagai role model.

Padahal menempuh pendidikan tinggi itu harus diusahakan. Saya tahu kalau bagi beberapa orang ini adalah pilihan yang sulit, mengingat mahalnya biaya pendidikan di tingkat universitas. Tapi, percayalah dengan pepatah kalau banyak jalan menuju Roma.

Baca Juga  Pola Pengasuhan Lama di Zaman Now?
Dunia akan semakin kejam di masa depan

Menurut prediksi saya, yang kemungkinan benar, dunia di masa depan akan lebih kejam daripada yang saat ini kita hadapi. Bayangkan, sekarang saja kita bisa dengan mudah menemukan orang-orang yang kelakuannya nggak beres, menyimpang, dan amoral. Apalagi di masa depan, kan?

Di masa ini, kebebasan merupakan privilese untuk mereka yang berkuasa, baik secara materi dan jabatan. Meskipun sebenarnya saya malas mengakui kalau hampir sebagian besar masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan uang dan jabatan, tapi begitulah adanya, saya nggak mau terlalu naif.

Sampai sekarang, saya merasa bahwa meritokrasi di negara ini hanya berakhir sebagai dongeng. Kesempatan memang datang pada semua orang, tapi tanpa dukungan uang atau jabatan, maka kesempatan hanya akan berakhir menjadi angan-angan. Orang-orang dengan kasta sosial-ekonomi menengah ke bawah seperti saya, hidupnya pasti lebih banyak nrimo ing pandum.

Menjamin masa depan anak nggak segampang ngomong di depan kamera

Melihat tren ini di TikTok membuat saya teringat pada anak-anak yang terpaksa menggantungkan hidup di jalanan. Nyatanya, menjadi orang tua yang berkomitmen untuk menjamin masa depan anak nggak segampang ngomong di depan kamera. Pola pikir bahwa anak adalah investasi jangka panjang masih kita temui di masyarakat.

Himpitan ekonomi sering kali dijadikan pembenaran untuk mengeksploitasi anak-anak sejak dini. Pedihnya lagi, banyak orang dewasa brengsek yang dengan sengaja menggunakan anak-anak sebagai alat untuk mencari rezeki.

Selain membenarkan pola pikir, menjadi orang tua nggak bisa dilepaskan dari proses belajar dan memenuhi hak anak. Orang tua harus belajar tentang tumbuh kembang fisik dan psikologis anak, di mana hal ini bukanlah sesuatu yang mudah karena akan sangat menghabiskan waktu, tenaga, dan tentu saja uang.

Baca Juga  Fenomena “Fajar Sad Boy” : Menyoal Patah Hati dalam Islam

Orang tua juga seharusnya sadar bahwa anak-anak punya hak yang harus dipenuhi. Setidaknya, ada 10 hak anak yang meliputi hak mendapatkan identitas, pendidikan, bermain, rekreasi, makanan, jaminan kesehatan, status kebangsaan, turut berperan dalam pembangunan, dan mendapatkan kesamaan.

Dan harus saya tekankan sekali lagi kalau ini bukan perkara mudah karena akan sangat menghabiskan waktu, tenaga, dan uang. Bahkan, bisa jadi kamu harus mengorbankan kebahagiaan pribadimu demi membahagiakan keturunanmu kelak.

Akan tetapi, bukan berarti melalui tulisan ini saya mendukung gerakan childfree. Saya hanya ingin mengatakan bahwa menjadi orang tua bukan perkara sepele, semua harus penuh perhitungan dan pengorbanan. Selain itu, tanggung jawabnya juga besar.

Jadi, jangan mengira kalau kehidupan setelah pernikahan itu bisa semenyenangkan film-film disney. Memang ada senangnya, tapi kamu juga harus siap ditampar dengan realita yang sesungguhnya. Gitu, Gaes.

Bagikan
Post a Comment