Menemukan Kembali Tujuan Pernikahan Lewat Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”

6 menit baca
Teks:
WhatsApp

Judul Buku:  Sebelum Harimu Bersamanya
Penulis: Lya Fahmi
Editor: Rifai Asyhari
Tebal: xvi + 144 halaman; 13 x 19 cm
ISBN: 978-623-5280-10-3
Tahun terbit: Mei 2023
Penerbit: EA Books

tujuan pernikahan
Sumber : Bukumojok.com

Saya sering beranggapan bahwa buku-buku panduan hidup soal parenting hingga pernikahan adalah buku-buku mengerikan yang perlu dihindari. Menurut saya, hidup tidak akan berjalan lebih mudah hanya dengan menerapkan teori yang didapat dari buku-buku semacam itu. Maka buku yang dari judulnya saja sudah berkesan menggurui tak pernah jadi pilihan untuk saya baca. Namun, rasa penasaran saya muncul saat melihat cover buku karya Lya Fahmi yang berjudul “Sebelum Harimu Bersamanya – Petunjuk Mempersiapkan Pernikahan”.

Judul buku tersebut menyiratkan sebuah kepercayaan diri. Pernikahan yang terencana dengan baik sekali pun bisa kandas karena kondisi masa depan yang nyaris tanpa petunjuk. Kok buku ini dengan jumawa mengklaim kehadirannya sebagai sebuah buku petunjuk yang akan berguna untuk persiapan menjalani masa depan bersama pasangan setelah menikah. 

Setelah mendiamkannya sekitar tiga minggu di laci, akhirnya iseng-iseng saya membaca buku itu. Tentu saja bukan karena saya mau menikah. Saya sudah menikah selama hampir 12 tahun dan punya tiga orang anak. Buku yang dirilis pada bulan Mei 2023 tersebut ditulis oleh seorang psikolog yang juga praktisi konseling pra pernikahan. Seperti praktisi dan influencer psikologis pada umumnya, Lya Fahmi beberapa kali memberikan sesi sharing online untuk para pengikutnya. Pemikiran dan tips yang ia berikan seringkali praktis dan mudah dilakukan. Latar belakang itulah yang membuat saya membeli buku ini, walau saya sudah menikah.

Terus terang awalnya saya takut akan merasa dihakimi oleh isi buku karya Lya Fahmi ini. Menurut saya, pernikahan yang saya jalani jauh dari pernikahan-pernikahan sempurna yang digambarkan di media sosial. Ternyata banyak kompromi-kompromi yang muncul setelah dinamika tak terduga seperti pandemi, kelahiran anak yang tak sesuai dengan rencana awal, suami yang berhenti kerja kantoran karena tuntutan usaha keluarga, dan lain-lain. Hal-hal ini membuat saya sering merasa menjalani kehidupan pernikahan yang clueless. Maka buku petunjuk persiapan pernikahan terdengar seperti buku cerita horor buat saya.

Tapi ternyata, alih-alih merasa dihakimi, saya justru merasa diajak berefleksi lewat buku ini. Ada banyak bagian yang membuat saya akhirnya berpikir bahwa tak ada yang keliru dalam pernikahan saya. Tak ada yang keliru dalam keputusan saya untuk menikah dengan pasangan. Dinamika akan selalu ada, konflik pasti muncul, riak-riak kecil hingga gangguan dari luar juga pasti akan hadir entah dengan intensitas ringan atau berat. Tapi pada akhirnya, semua akan bisa dijalani. Ada banyak aspek dalam pernikahan yang dirangkum dengan runtut oleh Lya Fahmi di dalam bukunya.

Buku ini disajikan dengan gaya bahasa serius walau tetap mudah untuk dipahami. Nggak njlimet, lah. Di dalam setiap bab, Lya Fahmi tak hanya menyajikan teori-teori, tapi ia juga menuliskan pengalaman pribadinya terkait relasi pernikahan. Keseriusan dalam buku ini tak membuat buku ini jadi membosankan. Saya yang bukan bookworm, butuh dua hari untuk menuntaskannya, dengan durasi waktu membaca masing-masing satu jam. Itu pun disambi jaga warung sembako.

Dari judulnya, ia seolah merupakan buku pedoman untuk persiapan pernikahan. Namun, yang saya rasakan ketika membacanya, ada ajakan kuat untuk berefleksi. Ilmu dan kepakaran penulis membuat buku ini tak hanya jadi buku tentang persiapan pernikahan. Tapi  buku ini juga berisi hal yang dapat memantik individu untuk mengenal diri lebih dalam. Misalnya, soal konsep positif diri, perbedaan budaya dalam tiap keluarga, cara berkomunikasi, dan lain-lain.

Tema-tema reflektif tersebut tersebar dalam beberapa bab dan membuat saya memperoleh semacam pencerahan yang mestinya saya dapat dua puluh tahun silam jauh sebelum menikah. Lya Fahmi berkali-kali memaparkan tentang pentingnya manusia mengenal dirinya sendiri secara utuh sebelum memutuskan untuk menikah. Hal ini menjadi bekal utama untuk sebuah perjalanan pernikahan yang dinamis.

Manusia yang sudah mengenal baik dan buruk dirinya akan lebih matang dalam masuk ke jenjang pernikahan. Dengan mengenal diri secara utuh, seseorang akan tahu bagaimana kebutuhan regulasi emosi, apa yang diinginkan, bagaimana mencapainya, dan bagaimana mempresentasikan diri serta kebutuhannya. Ada juga tips mengkomunikasikan pemikiran jika pasangan terlihat sulit mendengarkan, salah satunya dengan menebalkan kata saya atau aku di setiap awal kalimat.

Yang jelas buku ini berhasil mengajak saya untuk mempertanyakan apakah respon saya terhadap suatu masalah sudah rasional atau masih berupa ledakan-ledakan emosi akibat riak kecil yang terlanjur terfermentasi di kepala bertahun-tahun. Jadi, buku ini jelas cocok-cocok saja dibaca oleh mereka yang sudah menikah. Buku ini mungkin justru terlalu berat jika dibaca oleh pasangan yang baru pacaran sebulan atau dua bulan. Mereka yang sedang mabuk-mabuknya oleh cinta sepertinya kok nggak akan bisa diajak merefleksikan hubungan lewat buah pikir Lya Fahmi.

Tapi, percayalah, pasangan muda masa kini akan membutuhkan buku ini ketika keinginan untuk menikah mulai membuncah dan kegelisahan soal kesiapan pasangan mulai muncul. Karena bisa jadi, kegelisahan itu sebenarnya bukan tentang kesiapan pasangan, tapi justru cermin untuk diri sendiri. Dalam bab dua dan tiga, Lya Fahmi memaparkan soal marriage mentality dan gambaran tentang peran apa saja yang akan dijalani ketika kelak menikah. Bahwa menikah ternyata bukan hanya penyatuan cinta dari dua orang dan dua keluarga, namun ternyata jauh lebih banyak lagi fungsi sosial yang akhirnya perlu dijalani berdua.

Setelah membaca buku ini, mungkin akan muncul kesadaran bahwa impian menikah dengan gaya hidup modern seperti hidup berdua jauh dari keluarga besar, tidak mau repot dengan tetangga, dan bebas merdeka sepenuhnya dari aneka tuntutan sosial benar-benar hanyalah dongeng belaka ketika masuk dalam dunia pernikahan. Saya sendiri justru merasa diingatkan kembali tentang tujuan pernikahan saya dengan pasangan setelah melahap dari bab satu hingga bab terakhir. Jelas bahwa tidak ada pernikahan yang sempurna, jika kesempurnaan pernikahan dilihat dari nihilnya konflik.

Tidak mungkin ada pernikahan yang bebas dari konflik dan dinamika. Perjalanan pernikahan kadang melewati jalur yang meliuk, naik, lalu menukik tajam, hingga datar-datar saja tanpa ada petunjuk yang jelas. Tetapi, buku ini menyadarkan saya bahwa komitmen dan kemampuan adaptif manusia yang sudah memutuskan untuk menikah akan mampu melewati perjalanan pernikahan yang penuh warna itu. Terlebih bagi kita yang meyakini bahwa pernikahan merupakan salah satu bentuk ibadah. Di halaman 26, Lya Fahmi juga menulis bahwa “Pernikahan itu bernilai ibadah dan menyempurnakan separuh agama karena banyak hal yang terjadi di dalamnya, lebih dari sekadar ijab qabul yang terucap. ” 

Jadi, siapkah Rahmania untuk menemukan kembali tujuan pernikahan lewat buku petunjuk pernikahan ini?

Leave a Comment