f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
berteman

Hati-hati dalam Berteman; Siapapun Bisa Jadi Mesum!

Di Indonesia kebanyakan tunggu viral dulu baru diusut! dengan banyak pertimbangan dan perasaan yang menumpuk berminggu-minggu, akhirnya aku putuskan untuk menuangkan ceritaku di sini. Bukan untuk diusut, lebih dari itu aku berharap agar kamu, kita, dia, dan mereka paham tentang berteman.

Manusia itu sejatinya memang makhluk berteman. Pertemanan adalah hal yang tidak asing untuk semua orang, si paling ansos sekalipun seenggaknya punya satu-dua teman. Entah itu dengan sesama maupun lawan jenis. Hubungan pertemanan ini akan baik ketika ada kepercayaan. Dengan kepercayaan inilah kita bisa memiliki empati, hidup rukun, saling tolong menolong, tidak merugikan orang lain antar sesama manusia yang sedang berteman.

Tapi coba bayangkan ketika orang yang kamu anggap teman malah berubah jadi brengsek dan korbannya malah kamu sendiri, cerita ini aku bagi untuk kalian baca, semata-mata agar bisa jadi pelajaran untuk kita tentang pertemanan. Untuk kalian, terutama perempuan, yang membaca tulisanku ini, baca sampai selesai ya…

Jangan Mudah Menaruh Kepercayaan

Cerita ini dimulai saat aku praktik klinik di Rumah Sakit. Sebagai anak kesehatan, drama-drama antar teman sepraktikan di tempat praktik itu udah jadi hal yang biasa. Kita harus beradaptasi dengan orang baru walaupun nggak jarang kita temui teman sekelas yang harusnya udah nggak perlu dikhawatirkan. Tapi sialnya aku malah dapat kejadian yang cukup traumatis.

Singkat cerita, aku mengalami pencurian pakaian dalam saat praktik klinik. Ya, pakaian dalam! Udah tahu kan kalo pakaian dalam dicuri laki-laki untuk dijadikan apa? Ini bukan hanya prasangka, tapi udah ada bukti dan saksi, bahkan bukan hanya aku korbannya. Pelakunya teman cowok yang udah aku kenal sejak maba (mahasiswa baru), emang sakit!

Baca Juga  Kekerasan Seksual sebagai Problem Struktural

Waktu aku tahu rasanya campur aduk; jengkel, kesal, takut, khawatir, traumatis, marah, mau nangis pokoknya jadi satu. Lucunya, si pelaku ngaku dia ambil pakaian dalamku ini untuk ditaruh di sampingnya saat tidur dan dia ngerasa tenang karena itu. Tapi siapa yang percaya cuma buat itu aja? Walaupun yang “cuma” itu aja udah bikin merinding. 

Satu-satunya defence mechanism yang bisa aku lakukan biar bisa tidur cuma represi. Gimana caranya aku nggak inget sama kejadian itu dan berpikir kalo itu nggak pernah terjadi. Lagian siapa yang bisa tenang kalo dijahatin separah itu sama temen sendiri?

Selama ini aku memahami bahwa syarat berteman itu adalah kepercayaan, bahkan lebih jauh dari itu dalam hubungan apapun setiap manusia yang bisa dipegang ya hanya percaya satu sama lain. Dengan percaya dan dipercaya kita nggak bakal ragu untuk peduli, berbuat baik, dan menolong orang lain.

Aku rasa kalian pun pernah mendapatkan cerita yang kurang menyenangkan tentang pertemanan. Entah itu lebih parah dari ceritaku atau enggak. Baik pengalaman sendiri maupun orang lain. Lalu dari sana aku berpikir lagi, ternyata nggak selamanya kepercayaan dalam berteman itu bisa membuat orang lain yang kita anggap teman, menjadi sebenar-benarnya teman yang kita harapkan.

Skeptis terhadap Teman itu Harus

Banyak dari kita yang sudah berusaha baik tapi selalu ada aja teman yang menjelek-jelekkan kita ke orang lain. Pasti kamu juga pernah “digibahin”, tiba-tiba nama kita udah jelek aja di mana-mana. Itu contoh sekurang-kurangnya realita pahit pertemanan yang nggak bisa dibantah dan pasti selalu hadir di sekitar kita.

Dari banyak pengalamanku tentang berteman dengan orang lain, entah itu cerita baik atau buruk, ditambah dengan kejadian semasa praktik klinikku yang suram ini membuat aku semakin ngerasa “cuma diri sendiri yang bisa dipercaya” ke orang lain boleh-boleh aja tapi gak perlu too much.

Karena itu sikap tidak mudah percaya terhadap orang lain atau skeptis ini kiranya penting agar kita bisa tetap berifikir rasional dalam memilih teman, bersosial dan bergaul dengan orang lain. Sikap skeptis itu normal dan bahkan harus.

Baca Juga  Enteng-Entengan, Membaca Kesetaraan dari Hidangan Sahur

Kita juga harusnya selalu aware sama diri sendiri, waspada dalam kesadaran kalo setiap manusia itu punya potensi menjadi baik dan menjadi jahat. Manusia yang udah lama kita kenal dan berteman baik sekalipun bisa berubah mengerikan sampai nggak kebayang “kok bisa ya dia tega ngelakuin itu ke aku?”

Catatan Penutup

Buat kamu para perempuan, gapapa banget kok untuk jadi orang yang social butterfly, tapi tetap harus waspada, apalagi ke lawan jenis. Buat laki-laki juga harus sadar dengan sepenuh-penuhnya kesadaran kalo yang namanya berteman itu melindungi.

Jangan pernah sungkan, takut, atau merasa malu untuk speak up tentang persoalan-persoalan asusila terutama kalo kamu menjadi korbannya. Lawan! Bersuara! Jangan didiemin aja, karena kalo bukan kita, siapa lagi?

Apalagi di Indonesia, tunggu viral dulu baru diusut, jangan takut bersuara! Selalu ada orang baik di sekitar kamu sekalipun kamu skeptis terhadap itu, selama kita merasa benar jangan pernah biarkan mereka yang bejat dan cabul ngejadiin kita objek seksual pemuas birahi mereka.

Aku paham benar kalo kasusku dalam hukum Indonesia masih ‘sekadar’ pencurian barang pribadi, pakaian dalam. Aku yakin bahwa masih banyak di sana yang mengalami hal serupa bahkan lebih parah daripada yang pernah aku alami.

Di sini aku bersuara bukan seakan mencoba mewakili semua persoalan-persoalan asusila-cum-seksualitas, tapi aku merasa berbagi kisah pada khalayak bukan hal yang buruk. Kita perlu aware, beware, and be brave. Dunia selalu berputar, namun terkadang meninggalkan kita, perempuan di belakang. Perlu aku tekankan bahwa yang melahirkan peradaban tak pantas untuk dilecehkan, bahkan sekalipun dicuri pakaian dalamnya.

Bagikan
Comments
  • Spg

    I feell u, lo hebat udah brani speak up dan sebenernya masih banyak diluar sana yg terutama anak nakes yg masih magang mengalami banyak pelecehan terutama pelecehan dari senior di salah satu IBS rumah sakit secara verbal dan fisik. Tetap semangat!!! Sebuah speak up menunjukkan se brp berharganya diri lo dan cinta lo ke diri sendiri , bcs loving yourself isn’t vanity, it’s sanity 🤍.

    Juli 4, 2023
Post a Comment