f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
toko buku

Toko Buku

“Kamu ada waktu luang hari Minggu ini, nggak?” gumamku sambil mengetikkan kata-kata itu di layar ponselku. 

Aku berniat mengirimkannya ke Sangkara, mahasiswa jurusan seni yang sudah lama ku taksir. Aku menatap ponselku lama.

Setelah galau untuk mengirimkan pesan kepada lelaki itu atau tidak, aku akhirnya memencet tombol kirim. Tanda centang dua abu-abu pun muncul, buru-buru aku menutup mukaku dengan bantal. Aku mencoba menarik napas panjang sambil mengutuk diriku sendiri.

“Ah, bodoh. Sudah telanjur terkirim. Lagipula ini kesempatan yang mungkin membuat keinginanku terwujud,” hiburku sendiri.

Aku memang sering berkhayal bisa pergi ke toko buku atau ke pameran seni dengannya. Namun, aku tidak menyangka jika tanganku yang gatal ini mengajaknya terlebih dulu. Meskipun sedikit mencoreng harga diriku, tapi aku mencoba biasa saja. Toh, pasti di luar sana sudah banyak gadis yang memulai pergerakan terlebih dahulu. Terkait ajakanku untuknya ini pun aku tak banyak berharap banyak jika akhirnya Sangkara menolakku. Lagipula aku bukan gadis yang dia suka—saat itu Sangkara mengatakan padaku kalau dirinya sedang menyukai kawan satu jurusannya. 

Ting!

Bunyi notifikasi pesan terdengar dari ponselku. Jantungku berdegup kencang. 

Dari Sangkara bukan, ya?

Aku mengambil kembali ponselku dengan takut-takut sambil mengaktifkan lockscreen. 

“Minggu ini aku kosong, gimana, Sya?”

Notifikasi itu muncul di layar lockscreen dan aku otomatis melotot dan menutup bibirku yang tak bisa berhenti tersenyum. Jantungku berdebar kencang. Aku kembali menarik napas panjang dan segera membalas pesannya.

“Aku kan mau ke toko buku di daerah Mantrijeron, kamu mau nemenin aku nggak?”

Ku pencet tombol kirim lagi. Tak lama kemudian, Sangkara membalas.

“Boleh, nanti aku sekalian cari buku juga, deh.”

Seketika mataku melotot, mengguling-gulingkan badan di kasur sambil membiarkan senyuman lebar terus menghiasi bibirku. 

***

Kami sepakat untuk bertemu di depan gang Mantrijeron sebelum menuju ke toko buku. Siang itu terik sekali. Aku sampai di depan gang terlebih dahulu. Di pinggir jalan, aku membuka layar ponselku dan menghubungi Sangkara. Lelaki itu mengabari jika dirinya belum berangkat karena rambutnya masih basah. Aku menghela napas, sedikit kesal tapi tidak bisa protes.

Terik matahari yang kian menyiksaku pun membuatku memutuskan mengendarai motorku masuk ke gang dan mencari tempat untuk berteduh. Aku berhenti di sebuah lapangan dengan beberapa pohon yang terlihat cukup rindang. Tak lama kemudian Sangkara meneleponku dan menanyakan keberadaanku. Tak lama kemudian, Sangkara dan motor Astrea bututnya berhenti tepat di sebelah motorku. Ia menatapku heran.

“Kenapa?”

“Kamu pakai jaket seperti itu apa nggak kepanasan, po?”

Sangkara menunjuk jaket gunung berwarna kuning kunyit yang kuletakkan di stang motor.

Baca Juga  Menolong Anak Yatim

“Justru jaket itu kupakai biar tidak kepanasan karena terik matahari kok,” jelasku.

Aku berjalan mendahului Sangkara sambil bersenandung pelan menuju toko buku lawas bernama “Kebun Buku”. Dari luar, toko buku itu tak tampak seperti toko buku, melainkan seperti rumah yang diubah menjadi toko buku.

Memasuki toko buku “Kebun Buku”, dua pria yang tampak berusia 30-an tampak sibuk memasang label harga pada tumpukan buku. Melihat kami berdua masuk, kedua pria yang kuduga penjaga toko buku itu tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitasnya lagi.

Kali pertama memasuki toko itu membuatku teringat dengan rumah nenekku di pedesaan. Rumah dengan gaya arsitektur zaman dulu khas rumah nenek itu tampak melekat di toko buku “Kebun Buku”. Aroma khas buku lama pun tercium ketika memasuki ruangan toko tersebut. Tak hanya model rumah saja yang vintage, dekorasi ruangan dalam toko ini pun membuatku merasa sedang berkunjung di rumah nenek. Kursi anyaman dan meja tamu yang antik, ditambah hiasan meja dan lukisan dalam pigura yang artistik membuat pengunjung seperti saya betah untuk berlama-lama di toko “Kebun Buku”.

Kakiku lantas mengarahkanku ke deretan buku yang terpajang rapi di beberapa rak. Aku melihat ada novel karangan Suzanne Collins, Leo Tolstoy, dan beberapa penulis Barat lainnya. Hampir semua buku yang dijual di toko buku itu berbahasa Inggris. Bahkan, tak kutemukan buku berbahasa Indonesia. Tanganku mengambil sebuah buku cerita anak-anak yang ditulis penulis Prancis berjudul Le Petit Prince karangan Antoine de Saint-Exupéry. Buku yang kuambil dari salah satu rak itu versi berbahasa Inggris. Aku membuka buku itu sambil membacanya. Usai membacanya beberapa halaman, aku meletakkannya kembali ke dalam rak.

Di salah satu sisi rak, mataku tertuju pada sebuah buku kumpulan cerpen terbitan Penguin Books yang tampak menarik hati. Buku itu berjudul The Penguin Book of American Short Stories yang ditulis oleh beberapa penulis terkemuka, seperti Twain, Hemingway, dan beberapa penulis lainnya. Aku mengambil buku itu dan duduk di sebuah kursi anyaman yang ada di ruangan itu. Kuluruskan kakiku sambil membaca sinopsis dan membaca beberapa paragraf cerita pertama.

Sesaat kemudian, mataku terpaku dengan pemandangan di hadapanku. Lelaki itu. Berdiri sendirian di depan rak buku. Ia fokus membaca buku. Lelaki yang memenuhi isi kepalaku beberapa waktu terakhir. Lelaki yang hampir setiap harinya bertukar pesan denganku.

Dia mengenakan kaos berwarna hitam yang dipadukan celana panjang berwarna cokelat susu. Sepatunya converse high berwarna merah marun. Rambut gondrongnya yang bergelombang menjuntai sampai punggung. Tingginya sekitar 180 cm. Kulitnya sawo matang. Kacamata dengan frame hitam dipadukan lensa monochromic bertengger di telinganya. Jika berjalan di antara kerumunan, ia cukup menonjol karena penampilannya yang menarik. Perempuan-perempuan kerap menatap ke arahnya. Dia menarik, memang. Dan sepertinya aku telah jatuh cinta padanya. Untuk saat ini. 

Baca Juga  Tentang Negeri yang Ingin Mencetak Pembelajar Tanpa Buku

Aku tidak tahu pasti alasannya mengiyakan ajakanku ke sini. Jika aku menjadi dia yang tengah menyukai orang lain tentu dengan mudah akan menolakku. Biasanya kan orang yang menyukai seseorang akan menolak pergi dengan orang yang tidak disukainya karena bisa saja dia merasa risih. Jadi, aku tidak paham mengapa dia dengan mudahnya mengiyakan ajakanku. Padahal aku sudah pernah mengaku kepadanya jika aku menyukainya, tetapi anehnya dia tidak merasa aku mengusik kehidupannya. 

Lelaki itu.

Aku bertekad melupakannya selepas kencan ini berakhir; aku tidak ingin melanjutkan cinta bertepuk sebelah tangan ini. Aku tidak ingin membuang waktuku untuk orang yang bahkan tidak menyukaiku balik. Tapi aku mencoba melupakan tekadku barusan dan mencoba menikmati semua ini, semua momen ini. Momen yang tidak pernah terulang kembali. Untuk hari ini aku akan berpura-pura jika lelaki itu kekasihku dan hari ini aku berkencan dengannya.

“Habis ini kita mau ke mana?”

“Gimana kalo kita ke Shopping?”

“Jangan ke sana, gerah. Tadi katanya mau salat dulu?”

“Terus mau ke mana?” 

“Kita ke Grampus dulu, di sana kan adem dan kayaknya ada musala-nya deh,” saranku sok tahu.

“Boleh…”

Kami pun langsung mengendarai motor masing-masing menuju ke Gramedia Pusat yang terletak di Jalan Jendral Sudirman. 

***

Di Gramedia, aku dan Sangkara melihat-lihat rak buku sambil mencari musala tapi tidak ketemu. Akhirnya kami turun dan menuju ke Perpustakaan Kota yang letaknya bersebelahan dengan Gramedia Pusat. Di sana kami menumpang salat zuhur.

Usai salat, kami langsung menuju ke toko buku “Togamas”, mataku langsung menelanjangi buku-buku yang terpajang di rak buku. Ketika melihat kumpulan cerpen Kukila karya Aan Mansyur, kutarik pelan kaos Sangkara.

“Ada apa, Sya?” Sangkara menoleh.

“Kamu pernah punya buku ini, kan?”

“Lho, iya. Kamu kok tau?”

“Aku inget kita pernah membicarakan cerita-cerita di buku ini dan juga ini buku favoritku.”

“Ah, aku ingat. Kayaknya kita membicarakannya sewaktu duduk di kelas sembilan nggak, sih? Kamu suka cerita yang mana?”

“Yang ini! Judulnya Kukila tentu saja, aku tidak tahu mengapa kisah itu membekas di benakku. Pohon mangga dan perpisahan. Kalau menurutmu, kamu suka yang mana?”

“Aku suka cerita Hujan. Deras Sekali. Menurutku kisah itu lucu, tentang perselingkuhan. Aku juga suka kisah utama buku itu Kukila, meskipun menyesakkan kisahnya.” 

Baca Juga  Toko Buku: Aku Selalu Penuh Hasrat

Tak ada obrolan lagi usai membahas Kukila. Kami kembali berpencar karena aku masih ingin mencari-cari buku yang bagus untuk dipinang dan kubawa pulang. Tiba-tiba mataku menemukan sebuah buku puisi berwarna merah muda yang dipadukan warna kuning. Judul bukunya Selamat Datang, Bulan karya Theoresia Rumthe. Aku langsung membawanya ke kasir dan mengeluarkan sejumlah uang yang lalu kuberikan kepada penjaga kasir. 

“Tadi katanya kamu mau beli buku, nggak jadi, po?” tanyaku pada Sangkara usai membayar bukuku. 

“Nggak sepertinya,” mata Sangkara mengarah ke deretan buku pengembangan diri, lebih tepatnya matanya mengarah pada sebuah buku berjudul Muda Berdaya Kaya Raya karya Fahd Pahdepie. 

“Aku pengen baca itu tapi uangku tidak sebanyak itu untuk beli bukunya,” lanjutnya. Mendengar penjelasannya, aku jadi ingin membelikannya buku, tapi tidak jadi karena aku tidak ingin terlalu terlihat bucin padanya. Meskipun aku membelikannya pun sebenarnya tidak apa-apa. Aku menahan diriku untuk tidak melakukannya. Aku tidak ingin terlihat menyukainya.

Saat perjalanan kembali menuju ke Gramedia Pusat—karena motor kami di parkir di sana, tiba-tiba Sangkara bertanya:

“Nisya, yang waktu itu kamu bilang di chat itu beneran?”

DEG!

Aku tersentak. Aku langsung paham ke mana arah pembicaraan ini. Dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Padahal, kejadian itu sudah terjadi beberapa bulan yang lalu dan aku tak menyangka Sangkara akan mengungkitnya kembali. 

“Ah itu…Chat yang aku bilang..” kata-kataku terputus.

“Yaps, yang itu hahaha. Bohong, kan?”

“IYA! ITU TUH AKU CUMA BERCANDA, KOK! Masa sih aku suka kamu beneran,” kilahku salah tingkah. 

Aku yakin dia menyadarinya. Menahan malu, aku berjalan cepat mendahuluinya. Lelaki itu mengejarku.

“Masa sih, Sya? Tapi kelihatannya nggak begitu, tuh?”

“Heh, jangan ngadi-ngadi, ya kamu!”

Aku segera masuk ke basement dan menuju ke tempat motorku diparkirkan. Aku langsung menyalakan motorku dengan buru-buru.

“Heh, kamu kenapa buru-buru banget, sih?”

“Aku ada janji lain, bye!”

Aku langsung melajukan motorku keluar basement Grampus dan sialnya Rasyid berhasil mengejarku karena aku terhenti di bangjo.

“Heh, bisa-bisanya aku ditinggal!” keluh Sangkara.

“Biarin!” Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau dan kami pun berpisah di arah jalan yang berbeda. Sangkara ke arah selatan, sedangkan aku ke arah kota. Sepanjang perjalanan, angin menerpa wajahku perlahan, kepalaku penuh dengan rasa syukur karena berhasil kencan dengan lelaki yang kusukai, meskipun aku tahu dia tidak memiliki perasaan yang sama terhadapku. Setidaknya hubunganku dengannya tidak terputus usai pengakuan cinta yang kulakukan beberapa waktu lalu.

Bagikan
Post a Comment