f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
panutan

Menjadi Orang Tua: Sosok Panutan dan Idola Anak Sepanjang Masa

Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya menjadi sosok yang memiliki akhlak terpuji, membanggakan orang tua, dan sukses menggapai cita-cita. Tetapi, pengharapan tersebut hanya akan menjadi angin lalu jika sebagai orang tua tidak menjadi panutan dan berperan penuh dalam perjalanan kehidupan anak-anaknya.

Menjadi sosok panutan anak bukanlah perkara yang mudah, terlebih jika ada perbedaan pendapat dengan pasangan. Tetapi faktanya, setiap anak adalah peniru yang andal, maka cara terbaik adalah dengan menjadi orang tua yang layak ditiru. Mendidiknya dengan membiasakan diri bertutur lembut, berperilaku sopan santun dan menghargai sesama sehingga anak selalu melihat kebaikan dari diri orang tuanya.

Ketika orang tua membangun dirinya sebagai seorang panutan, anak akan memersepsikan dan menempatkan orang tuanya sebagai sosok penting dalam kehidupan dan menjadi patokan dalam berperilaku. Anak akan melihat kepada apa yang panutannya lakukan. Dr. Yusi Riksa Yustiana sebagai Koordinator LPPA Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat dalam acara Gerakan Subuh Mengaji menyampaikan bahwa seorang panutan adalah model yang diimitasi dan dikristalisasi sebagai diri yang terintegrasi yang memberi inspirasi.

Maksudnya adalah bahwa imitasi itu sesuatu atau model yang menjadi duplikat.  Bagaimana anak dapat menduplikasi perilaku orang tuanya dengan mengobservasi, melihat, memikirkan perilaku tersebut. Lalu Ia memahami apakah itu sesuatu yang tepat untuk dirinya atau tidak, kemudian menampilkan sebagai diri yang terintegrasi/berbaur dengan perilaku hasil imitasinya.

Jadi, anak mengimitasi sosok model tapi tidak mengurangi dimensi diri anak atau hal-hal yang secara khas pada diri mereka. Model ini hanya memberi inspirasi terhadap sebuah perilaku-perilaku baru yang ingin anak kembangkan tetapi memiliki ciri khas yang berbeda.

Yusi menambahkan, inilah bedanya menjadi panutan secara psikologis dengan yang hanya menjadi panutan imitasi saja. Saat ini banyak anak-anak yang hanya mengimitasi tanpa proses kristalisasi. Pada saat melihat tokoh yang populer di televisi, mereka hanya melihat perilakunya, tidak melihat bagaimana perjuangannya hingga sukses menjadi tokoh.

Baca Juga  Maraknya Tiger Parenting Pada Anak di Masa Pandemi

Anak hanya mengimitasi tampilan bajunya, rambutnya, dan perilakunya saja. Mereka berpikir bahwa diri sendiri juga harus menjadi orang tersebut tanpa memahami usaha-usaha para tokoh sehingga menampilkan kepribadiannya.

Panutan juga adalah pengembang dan penjaga sistem nilai sebagai kerangka pikir dan panduan perilaku. Seorang panutan akan menunjukkan sebuah nilai yang ada pada diri panutan itu sendiri. Bagaimana prinsip-prinsip hidupnya terjadi, ketawaduannya kepada yang Maha Kuasa, komitmennya mengikuti aturan-aturan sosial, dan menunjukkan perilaku yang berakhlakul karimah.

Hal itu yang akan menjadi kerangka berpikir bahwa orang tuanya lah yang mengajarkan dan membangun sistem nilai ini sebagai sebuah karakter. Itu akan terjadi jika orang tua mengajarkan cara berpikirnya sehingga ini menjadi panduan untuk berperilaku. Maka, orang tua harus mempersiapkan diri untuk mengembangkan sebuah pola tindakan dan pola asuh yang akan memberikan kenyamanan untuk anak-anaknya sehingga dapat menjadi panutan yang baik.

Tips Mengembangkan Kelekatan dengan Anak

Keterikatan emosional, ini adalah langkah awal untuk mengembangkan kelekatan dengan anak. Relasi emosional baik sebagai sebuah keluarga, pertemanan, dalam persyarikatan, bahkan sebagai satu bangsa satu agama. Keterikatan ini membuat orang tua merasa punya hubungan dekat dengan anak-anaknya. Hubungan dekat ini terjadi karena terbangunnya dimensi kasih sayang. Tidak akan terjadi keterikatan emosional tanpa saling memberikan kasih sayang, tanpa saling peduli.

Kondisi psikologi merasa saling memiliki, saat ini banyak keluarga berada dalam satu rumah dan menganggap tidak lebih dari tempat pos. Datang ke rumah dalam diam dan tidak saling berinteraksi meski tinggal bersama sehingga tidak ada keterikatan emosional sebagai keluarga. Padahal, saat keterikatan emosional ini terbangun, akan muncul kondisi psikologis merasa saling memiliki, saling mengingat, saling merasa menjadi bagian dari kondisi tersebut. Saling memiliki ini dapat terbangun pada saat kita mampu membangun hubungan interaktif yang saling mendukung.

Baca Juga  5 Tips Anti Galau Menghadapi Horornya Kemacetan saat Libur Panjang

Mengembangkan kasih sayang tanpa syarat, menurut Yusi, kasih sayang yang kita bangun dengan anak-anak kita baik anak secara langsung atau anak-anak dalam konteks persyarikatan, pendidikan, maupun anak dalam konteks bangsa harus dalam terminologi kasih sayang tanpa sayarat.

Orang tua tidak bisa mengatakan “saya akan menyayangi anak saya jika anak saya baik, dan kalau anak saya tidak baik maka saya berhak tidak menyayanginya”. Ini adalah kasih sayang bersyarat. Seharusnya orang tua menunjukan kasih sayang tanpa syarat, berdiri bersebelahan di sebelah anak bahwa apapun kondisinya, orang tua selalu ada di sisinya. Kelekatan dengan anak akan berkembang jika orang tua menyayangi anaknya tanpa syarat.

Mengembangkan pemahaman dan sepemahaman, ini adalah cara orang tua untuk peka terhadap berbagai tindakan-tindakan dan perilaku anak-anak. Peka terhadap perasaan dan pikiran anak, memahami apa yang terjadi pada mereka dan mengembangkan sepemahaman dengan anak serta melakukan apa yang semestinya secara bersama. Memahami batas mana perilaku yang perlu toleransi, dan yang perlu peningkatan sebagai kebaikan, hingga menghilangkan perilaku yang tidak mendukung pertumbuhan.

Mengembangkan Self Compassion, maksudnya yaitu upaya untuk mentoleransi pada diri sendiri, mencoba memaafkan dan berkasih sayang pada diri sendiri pada saat melakukan perilaku-perilaku yang mungkin belum sampai pada satu standar tertentu. Mentoleransi bahwa semua manusia tidak sempurna tetapi mereka juga adalah orang yang memiliki potensi. Pengembangan Self Compassion juga akan membuat mereka memiliki toleransi terhadap kondisi di mana ada keterbatasan dari dimensi orang tua dan siap untuk membangun bersama.

Aku adalah Tokoh Idola Anakku

Salah satu level kebahagiaan orang tua adalah ketika anak mengagumi dan mengidamkan mereka sebagai panutan, tokoh dan idola. Rasa bangga anak karena orang tuanya memiliki perilaku dan kepribadian yang membuat anak jatuh cinta dan ingin menjadi sosoknya.

Baca Juga  Perempuan untuk Kemanusiaan Universal

Yusi mengatakan bahwa tokoh idola adalah seseorang yang menjadi significant person, yaitu menjadi orang yang secara signifikan memberi pengaruh atau dampak dan menjadi orang yang dicari dan dijadikan tokoh utama dalam kehidupannya. Seseorang yang perilakunya digugu dan diguru, seseorang yang dapat menjadi orang dewasa, orang tua, teman, sahabat, dan saingan sehat.

Menjadi saingan sehat berarti secara bersama bertumbuh, membangun prestasi yang secara sehat dan tidak iri. Seseorang yang membuat anak mencari dan merindukan sosoknya. Seseorang yang menjadi tautan pemikiran, hati, dan tindakan. Orang tua menjadi rujukan bagaimana berpikir, menata hati, dan bertindak. Tokoh idola juga adalah seseorang yang menjadi rasa nyaman dan membangun konsep diri positif menjadi diri sendiri dengan pengaruh positif pada pertumbuhan diri.

Yusi berharap bahwa seluruh orang tua dapat menjadi panutan, tokoh, dan idola anak-anaknya lewat pengembangan kelekatan. Khususnya sebagai elemen dalam Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah memiliki kewajiban bersama untuk menjadi orang tua dari anak-anak bangsa demi mengembangkan masa depan mereka. Sebab tidak mungkin menjadi orang tua yang utuh di Persyarikatan jika tidak mampu mengelola keluarga kecil masing-masing. Jadi, mulailah dengan membuat anak-anak kita nyaman sehingga anak lain akan nyaman dengan diri kita.

Reporter : Fiah Idznillah

Bagikan
Post a Comment