f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Al-Qur'an Ramadan

Ramadan Lebih Dekat dengan Al-Qur’an

Tinggal menghitung hari, bulan yang dirindukan datang. Bulan istimewa yang menjadi momentum untuk bangkit dan tancap gas melakukan kebaikan tanpa batas. Semoga bulan Ramadan tahun ini benar-benar menjadikan kita semua insan yang semakin taat. Untuk mencapai hal tersebut, sudahkah menyiapkan perbekalan untuk menyambut bulan mulia ini? Yuk mari mempersiapkan diri agar Ramadan tidak berlalu begitu saja.

Pada kesempatan kali ini izinkan saya untuk menyampaikan sedikit pembelajaran yang hari ini saya dapatkan dari Ustadz Muzammil Hasballah. Beliau membagi pengalaman dan juga sharing mengenai bagaimana menemukan jati diri dengan al-Qur’an terutama pada momentum istimewa di bulan Ramadan yang sebentar lagi insya Allah akan kita jumpai.

Ramadan itu diibaratkan seperti anak-anak Nabi Ya’qub ‘alaihissalam yang berjumlah 12 orang. Satu di antaranya adalah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Nabi Yusuf adalah anak yang paling istimewa di antara yang lain. Beliau dianugerahi oleh Allah kenabian dan kemuliaan akhlak yang melekat pada dirinya. Bahkan dengan istighfar yang diucapkan, Allah dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan saudaranya. Begitu juga dengan Ramadan, ini adalah satu bulan yang istimewa di antara 11 bulan yang lainnya.

Pada momentum Ramadan tahun ini, alangkah baiknya jika kita berusaha untuk lebih menyiapkan hati kita agar tumbuh keimanan yang semakin subur. Karena ibadah yang menghadirkan hati seluruhnya, maka Allah akan hadirkan ketenangan dan keimanan yang semakin menancap kuat di dalam diri. Saat iman sudah tumbuh, tauhid akan semakin kokoh, dan seseorang dapat mudah tergerak pada kebaikan. Inilah buah dari manisnya iman.

Momentum Ramadan

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” QS Al- Baqarah: 183.

Baca Juga  Bolehkah Perempuan Berhaji atau Umrah Tanpa Mahramnya?

Perintah puasa sudah ada sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam hingga Nabi Muhammad Saw. Momentum Ramadan merupakan waktu di mana diri menahan berbagai hal yang sebelumnya halal bahkan dilarang untuk melakukan. Misalnya makan, minum, dan berbagai hal lain yang dapat membatalkan puasa sampai pada waktu yang ditentukan. Selain itu, puasa di bulan Ramadan juga dapat membuat jasmani dan rohani kita menjadi lebih sehat dan fit. Dalam berbagai penelitian telah terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan jantung, mengontrol gula darah, mencegah kanker, dan manfaat kesehatan lainnya.

Momentum Ramadan juga merupakan waktu di mana setan-setan dibelenggu seperti yang disampaikan dalam hadits berikut.

“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketika Ramadan tiba, dibuka jalan-jalan kebaikan yang membuat manusia begitu bersemangat dalam beramal. Namun anehnya, kenapa di bulan Ramadan masih ada saja orang-orang yang berbuat jahat dan maksiat? Padahal setan sudah dibelenggu. Perlu diketahui bahwa setan juga ada yang berasal dari golongan manusia. Oleh karena itu, kejahatan, kemaksiatan yang masih merajalela di bulan Ramadan dapat juga disebabkan karena manusia yang lalai dari mengingat Tuhan-Nya.

Momentum Ramadan dapat kita jadikan sebagai waktu terbaik untuk me-recharge iman dengan amal kebaikan semaksimal mungkin. Waktunya untuk lebih istiqomah di jalan kebaikan. Dan waktunya untuk lebih dekat dengan al-Qur’an.

Ramadan Lebih Dekat dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan mukjizat dari Rasulullah Muhammad Saw yang akan terus ada bahkan hingga hari ini. Al-Qur’an bekerja dari level pribadi hingga ke level peradaban. Maksudnya adalah al-Qur’an dapat mengarahkan perubahan baik di dalam diri setiap manusia bahkan berdampak pada peradaban manusia seluruhnya. Jika kita lihat bagaimana sejarah mencatat tentang perjalanan Rasulullah bersama dengan al-Qur’an, ayat-ayat yang turun mulai mengubah pribadi masyarakat di masa jahiliyah untuk menanamkan keimanan, tauhid di dalam diri mereka. Setelah al-Qur’an mampu mengubah level pribadi, umat islam semakin kuat dan mampu menaklukkan berbagai wilayah serta membangun imperium peradaban islam yang jaya di masa itu. Saat ini pun, al-Qur’an tetap menjadi tonggak perbaikan yang dapat menyelamatkan peradaban dari kerusakan zaman.

Baca Juga  Mencari Kenikmatan dalam Beribadah

Al-Qur’an telah menjadi bukti bahwa ilmu Allah itu sangatlah luas. Apapun profesi kita, kesibukan kita, masalah dan kesulitan yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari, obat dan solusinya pasti ada di dalam al-Qur’an. Seperti yang kita ketahui bahwa para ilmuwan muslim telah banyak menemukan inspirasi yang dapat memecahkan masalah dan penemuan baru yang bermanfaat bagi umat dari al-Qur’an. Contohnya al-Khawarizmi, bapak algoritma dan aljabar serta penemuannya di bidang matematika terinspirasi dari ayat di dalam al-Qur’an.

Begitu juga dengan ilmuwan lain seperti penemu pesawat, bukan Wright bersaudara yang pertama kali berhasil menemukannya, melainkan ilmuwan muslim bernama Abbas Ibn Firnas. Beliau terinspirasi dari QS. al-Mulk ayat 19 yang berbunyi, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.”

***

Jika al-Qur’an menjadi petunjuk dalam hidup, maka mudah bagi Allah untuk memberikan keberkahan serta kemuliaan dengan al-Qur’an. Bagaimana caranya agar al-Qur’an menjadi petunjuk? Caranya adalah dengan memahaminya. Sedalam apa kita memahami al-Qur’an, sedalam itulah al-Qur’an akan menjadi petunjuk dalam hidup manusia. Dengan menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk, Allah pasti akan mengajarkan ilmu yang belum kita ketahui sebelumnya. Karena  inspirasi muslimin dalam berkarya adalah al-Qur’an.

Ramadan tahun ini adalah momentum kita semua untuk lebih dekat dengan al-Qur’an. Caranya adalah dengan terus memahaminya. Mentadabburi al-Qur’an, membaca artinya, walaupun ini masih belum mendalam untuk memahami al-Qur’an, yang terpenting adalah kemauan untuk mendekat dengan al-Qur’an. Kemudian belajar tajwidnya, makhraj yang benar, bahkan hingga iramanya. Namun yang menjadi hal yang paling penting adalah membangun hubungan persahabatan dengan al-Qur’an. Selayaknya sahabat, pastinya kita merasa dekat dengannya. Bagaimana al-Qur’an akan mengakui kita sebagai sahabat jika kita tak pernah mau untuk dekat-dekat dengannya?

Baca Juga  Teringat Sesuatu Ketika Shalat: Tidak Khusyuk atau Justru Nikmat?

Jika kita disibukkan dengan al-Qur’an, insya Allah hidup kita akan diliputi dengan keberkahan. Ya Allah jangan jadikan dunia sebagai puncak dari kegalauan kami. Dan jangan jadikan dunia sebagai puncak dari ilmu kami. Luruskan niat kami untuk lebih dekat dengan al-Qur’an.

Bagikan
Post a Comment