f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
politikus perempuan

Politikus Perempuan Indonesia di Pemilu 1955 (2)

Nama lain yang juga tak kalah penting di Masyumi adalah Ny. Sukaptinah. Latar belakangnya kontras dengan Rahmah El-Yunusiyah – Ny. Sukaptinah lahir dan besar di pergerakan politik nasional. Beliau sudah aktif di “Persaudaraan Islam” (“Jong Islamietenbond“) masa pergerakan, dan terlibat dalam Persatuan Wanita Indonesia. Keaktifan beliau dalam gerakan perempuan ini kemudian menjadikan beliau terlibat sebagai salah satu delegasi Indonesia di Konferensi Hubungan Asia di India pada tahun 1947. Menariknya, awalnya beliau tidak langsung bergabung dengan Masyumi di awal kemerdekaan. Beliau terlebih dahulu bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra), di mana beliau duduk sebagai Anggota DPRD Semarang di masa revolusi kemerdekaan. Setelah itu, Ny. Sukaptinah bergabung Masyumi tahun 1950an dan dipercaya menjadi Bendahara Fraksi Masyumi di DPR.

Nahdlatul Ulama

Di Nahdlatul Ulama, ada dua nama yang juga tak kalah punya peran dan kemudian menjadi pemimpin Muslimat: Hj. Mahmudah Mawardi dan Hj. Asmah Syahruni. Hj. Mahmudah Mawardi adalah putri dari KH. Masjhud, dan kiprahnya bermula dari Muslimat NU di Kota Solo. Tahun 1950 beliau menjadi Ketua Umum Muslimat NU dan terpilih menjadi anggota DPR dari Jawa Tengah, mewakili Partai NU. Waktu itu, NU baru saja berpisah dari Partai Masyumi dan berhasil meraih suara yang cukup signifikan di Pemilu 1955. Hj. Mahmudah memimpin Muslimat selama 8 periode dan kemudian mewarnai perdebatan-perdebatan di DPR. Kelak, putra beliau, Cholid Mawardi, mengikuti jejak sebagai pemimpin NU di tingkat nasional. Cholid Mawardi mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia sebelum menjadi Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor.

Adapun Hj. Asmah Syahruni adalah politikus Muslimat NU asal Kalimantan Selatan. Beliau berasal dari Rantau, sekarang Kabupaten Tapin. Ibu Asmah Syahruni memimpin PW Muslimat Kalimantan Selatan di tahun 1950an dan cukup vokal mendorong keterwakilan perempuan, hingga akhirnya beliau terpilih di Kalimantan Selatan bersama beberapa politikus lain. Beliau terpilih lagi di Pemilu 1971 yang didominasi Golkar, meniadi dua wakil NU Kalsel bersama KH Idham Chalid. Kelak, di tahun 1979 beliau terpilih sebagai Ketua Umum Muslimat NU hingga mundur di tahun 1995. Pada masa itu, artinya, NU dipimpin oleh dua tokoh Kalimantan Selatan, yakni Idham Chalid (Ketua Umum PBNU) dan Asmah Syahruni (Ketua Umum Muslimat NU).

Baca Juga  Cyberbullying: Media Membunuh tanpa Menyentuh
Partai Komunis Indonesia

PKI juga punya beberapa politikus perempuan, tapi dua nama cukup disegani: Umi Sardjono dan Salawati Daud. Beliau menjadi Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang kemudian bertransformasi menjadi Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) di tahun 1950. Beliau memimpin Gerwani di usia 30an tahun dan di tangannya Gerwani menjadi gerakan perempuan yang disegani karena aktivisme mereka untuk mendidik perempuan secara politik di akar-rumput. Di tahun 1955, beliau terpilih menjadi anggota DPR mewakili PKI di Jawa Timur.

Salawati Daud adalah tokoh perempuan PKI yang lain. Beliau sudah aktif sejak kemerdekaan, bahkan konon pernah menjadi Walikota Makassar di zaman Revolusi Kemerdekaan. Beliau mulanya bergabung dengan Partai Kedaulatan Rakyat dan pernah bergerak bersama Kahar Muzakkar sebelum ybs. memberontak. Dari sana beliau mengedit majalah “Wanita” di Makassar. Selepas 1950an beliau ke Jakarta dan menjadi Wakil Ketua Umum Gerwani mendampingi Umi Sardjono. Kiprah beliau cukup menjadikan PKI punya basis yang kuat di Sulawesi – terutama Tana Toradja – meskipun beliau terpilih mewakili Jakarta Raya.

Partai Sosialis Indonesia

Terakhir, konon Partai Sosialis Indonesia (PSI) punya banyak tokoh perempuan, dari Maria Ulfah Santoso hingga Hurustiati Subandrio. Maria Ulfah Santoso adalah Menteri Sosial pertama Indonesia dan di masa penjajahan Belanda dan Jepang cukup aktif menggiatkan gerakan kemerdekaan Indonesia. Adapun Ny. Hurustiati Subandrio adalah seorang tokoh perempuan yang banyak menulis dan punya pergaulan internasional yang luas. Beliau mewakili Indonesia di Konferensi Hubungan Asia di tahun 1947, memimpin satu panel tentang perempuan bersama tokoh perempuan India, Kemaladevi Chattopadhyay.

Namun, yang beruntung terpilih di DPR sebagai wakil PSI adalah Ny. Suzannah Hamdani. Sebagaimana Maria Ulfah dan Hurustiati, beliau juga aktif di pergerakan kemerdekaan. Di tahun 1930an beliau mendirikan Gerakan Istri Sedar, dan kemudian menikah dengan Hamdani Maskun, mantan Residen Cirebon dan Menteri Sosial. Tahun 1955 beliau terpilih menjadi Anggota DPR mewakili Jawa Barat. Beliau adalah satu dari 5 anggota DPR yang mewakili PSI masa itu, di tengah anjloknya suara PSI di Pemilu 1955.

Baca Juga  Perempuan sebagai Agen Perdamaian Konflik Kekerasan Berbasis Gender

Kiprah politikus perempuan ini menarik untuk dicermati, karena mereka adalah bagian dari sejarah pergerakan nasional. Karena soal pergerakan mempertahankan dan membangun kemerdekaan bukan hanya urusan bapak-bapak, tetapi juga aktivis perempuan yang memperjuangkan kesetaraan di politik Indonesia.

Bagikan
Post a Comment