Metamorfosa Mahkluk yang Lalai
Salah satu episode pembuka kehidupan kita di dunia berawal dari kisah tentang kesalahan. Nabi Adam dan istrinya sebagaimana kita ketahui, gagal mengelakkan diri dari tipu daya Iblis, mereka mencicip buah yang Allah Swt. larang atas bujuk rayu Iblis kepada mereka. Dan dengan itu, takdir manusia untuk berperadaban di dunia pun dimulai.
Kisah tersebut telah memicu banyak perandaian. Banyak yang berpikir, seandainya Nabi Adam tidak ‘terperdaya’ dalam situasi tersebut, mungkin saja kehidupan yang kita alami tidaklah serumit, sesulit, dan/atau sememusingkan hari ini. Surga, dengan seluruh deskripsinya, adalah sebaik-baik alam tempat bernaung; tak ada kesulitan, tak ada derita, dan tak ada kepayahan. Namun, demikianlah takdir berkata, alam yang kita huni saat ini justru berkebalikan 180 derajat dengan apa yang tertulis sebelumnya.
Logika di atas rupanya tidak hanya berseliweran pada kita-kita saja. Sekaliber Nabi Musa ‘alaihissalam pun ternyata dihinggapi pertanyaan serupa. Dalam sebuah hadis yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan, bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam pernah secara terbuka mendebat Nabi Adam ‘alaihissalam atas terjadinya peristiwa tersebut. Dalam dialog itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan secara detil argumen Nabi Musa ‘alaihissalam yang menginginkan penjelasan atas kejadian yang berimbas pada keharusan manusia menjalani kehidupan yang berat di dunia ini.
“Wahai Adam, engkau adalah bapak kami. Tetapi engkau telah mengecewakan kami karena menyebabkan kami keluar dari surga” Seru Nabi Musa alaihissalam.
Hal ini kemudian direspon Nabi Adam ‘alaihissalam dengan sepotong jawaban yang begitu cermat,
“Engkau wahai Musa, engkau telah dipilih dan dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan kehendak-Nya engkau dapat bercakap-cakap dengan-Nya. Apakah engkau mencelaku karena urusan yang telah ditakdirkan Allah atasku sejak 40 tahun sebelum aku diciptakan-Nya?’
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menutup kisahnya dengan, “Demikianlah Adam telah membantah Musa” diulanginya kalimat tersebut sebanyak 3x.
* * *
Kisah di atas membekali kita bahwa celaan atas kelalaian tidak akan mengubah apapun atas kelangsungan hidup kita sebagai manusia. Sebab, pada dasarnya begitulah Allah menjadikan kita sebagai makhluk. Watak dasar kita sebagai manusia ialah sering berbuat kesalahan dan kelalaian. Kelekatan antara manusia dan kelalaian terpampang nyata dalam kenyataan kita sebagai makhluk.
Dengan memahami posisi itu, kita pelan-pelan bisa memandang kisah Nabi Adam dan istrinya dengan sudut yang sedikit berbeda. Pertama, yaitu sisi kita selaku makhluk yang harus kita akui memang penuh dengan risiko pelanggaran. Cara kita berhadapan dengan aturan Allah, seringkali sama persis dengan momen Nabi Adam melanggar larangan Allah. Jujur saja dalam situasi yang sama, banyak aspek dari diri kita yang selalu ingin keluar dari rambu-rambu yang sudah Allah dan Nabi-Nya tetapkan. Ketidakmampuan menjaga diri ketika berhadapan dengan aturan Allah adalah realitas yang menimpa pada kebanyakan diri.
Akan tetapi dari sisi ini, Allah memberikan keluasan yang begitu banyak pada manusia. Sebab tuntutan yang Allah berikan kepada kita selaku manusia sejak awal memang bukan menjadi sempurna. Ketaatan puncak yang Allah inginkan dari diri kita sebagai manusia, adalah beranjak dari makhluk pesakitan menuju pada usaha yang terus-menerus pada ketaatan. Itu bagian dari pesan penting ketika Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sebuah hadits yang masyhur, “Sesungguhnya anak Adam itu sering berbuat kesalahan, dan sebaik-baik mereka yang berbuat kesalahan adalah mereka yang at-tawwabuun (memperbaiki diri)”
Hal ini relevan dengan kisah Nabi Adam dan istrinya. Spotlight yang semestinya perlu kita simak baik-baik dari kisah tersebut, ada pada proses taubatnya Nabi Adam dan istrinya, segera setelah mereka mendapatkan hukuman untuk turun ke dunia. Kisah tentang kesalahan yang telah kita buka di awal, telah Nabi Adam rangkai dengan indah menuju sebuah kisah ketaatan yang heroik. Mereka bergerak melakukan perbaikan atas kelalaian yang mereka perbuat.
Bahkan berbuah dari potongan kisah kesalahan yang berakibat fatal itu, lahir sebuah do’a yang kini Allah kekalkan menjadi salah satu do’a yang sangat sering kita baca hari-hari ini. Munajat yang mungkin saja menjadi tertua di dunia ini. Dan untaian itu tentang sebuah permintaan maaf atas terjadinya sebuah kelalaian.
“Rabbana dzalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhamna lana kunanna minal khasirin”
“Wahai Rabb kami, kami telah mendzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami, niscaya kami termasuk orang yang rugi”
Pasti anda pernah membaca do’a itu kan?
* * *
Sisi selanjutnya yang bisa kita dapatkan adalah, meski kelalaian dalam konteks ini bermakna negatif, justru pada titik itulah hubungan ketergantungan kita dengan Allah seharusnya mulai kita bangun dengan erat.
Nabi Adam mengajari kita dengan baik tentang soalan tersebut. Cara beliau memberikan respon atas kesalahan yang beliau dan istrinya lakukan, menjadi bagian penting untuk kita pahami. Hukuman yang Allah berikan kepada Nabi Adam, tidak menjadikan beliau memilih jalan pembangkangan ataupun pengingkaran. Akan tetapi, justru pada momen itulah Nabi Adam semakin menyandarkan diri dan meminta ampunan atas kesalahannya.
Ini logika sederhana sebetulnya. Ketika memahami posisi kita sebagai makhluk dan Allah sebagai Khaliq, sebetulnya tidak ada excuse yang tersedia untuk kita mengelak, membangkang, ataupun ingkar pada Allah. Karena toh, seluruh bagian dari hidup kita sepenuhnya bersandar pada ‘pemberian’ Allah selaku Tuhan yang Menciptakan kita. Yang memberi kita makanan tidak lain Allah; yang menyembuhkan juga Allah; yang memberi solusi atas setiap masalah pun Allah. Adakah yang mampu menggantikan posisi tersebut? Tidak ada.
Karena itulah, Nabi Adam mengajarkan kita respon yang paling tepat ketika kesalahan telah diperbuat. Alih-alih berdalih atas kesalahan, meminta ampunan Allah merupakan langkah yang paling tepat. Sebab hubungan dengan Allah adalah prioritas utama kita selaku makhluk. Bayangkan betapa sengsaranya apabila Allah tidak lagi melihat kita sebagai hamba-Nya.
Maka akhirnya kita belajar, meskipun perangai lalai seringkali mengganggu hubungan kepada Allah, memiliki respon yang tepat adalah kunci. Faktanya meskipun kelalaian merupakan bagian watak dasar dari sifat manusia, peluang untuk meraih derajat kemuliaan tidak Allah tutup sama sekali. Nabi Adam ‘alaihissalam sungguh telah memberikan teladan kepada kita dalam konteks ini. Bahwa, bagi kita semua yang sedang/telah tersuruk dalam jurang kelalaian, tidak boleh ada kata menyerah untuk memohon ampunan dan rahmat kepada-Nya. Sebab, dengan itulah seorang manusia memperjuangkan kemuliaan dirinya.Wallahu a’lam bisshawab
Sarjana Hukum, dan sehari-hari bergelut dengan Peraturan (Legal Drafter). Alumnus Ponpes Ar-Rohmah Hidayatullah, Malang.
Instagram @agilmahasiin
