Saat Cinta kepada Istri Berkurang
Bahwa seorang suami tidak mencintai istrinya, atau sebaliknya, adalah situasi yang bisa terjadi setiap saat dalam kehidupan rumah tangga. Penyebabnya juga bisa sangat beragam. Mungkin karena sebelumnya tidak atau kurang mengenal calon pasangan dengan baik, mungkin menikahnya karena paksaan orang tua, atau mungkin karena ada sebab lain yang muncul di perjalanan atau lainnya.
Apa yang harus Rahmania lakukan jika mengalami hal seperti itu?
Sesuatu yang harus kita yakini terlebih dulu, kondisi ini adalah peristiwa kehidupan yang sangat natural. Karena untuk sebagian orang, mencintai merupakan kerja jiwa yang sangat pribadi dan sangat sulit dikendalikan oleh orang lain. Maka kondisi cinta yang ‘meluntur’ bisa terjadi setiap saat, dan pada setiap orang.
Masalahnya, terutama, bukan terletak pada: apakah Rahmania mencintai atau tidak mencintainya, tetapi lebih kepada: bagaimana seharusnya bersikap pada situasi tersebut dalam kehidupan rumah tangga. Sikap di sini maksudnya adalah motif dan bentuk ekspresi. Artinya, mengapa tidak mencintainya? Lalu, bagaimana mengekspresikan ketidakcintaan Rahmania?
Namun, harus dipahami, bahwa kenyataan kamu tidak mencintai istri (atau sebaliknya), harus diletakkan dalam konteks makna syar’i-nya, yaitu: bahwa Rahmania berada dalam posisi sebagai orang yang tertimpa musibah. Dan ini mengharuskan Anda bersabar dan berusaha menemukan hikmah di balik kondisi tersebut.
Allah Swt. berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu mencintai sesuatu, padahal sesuatu itu buruk bagimu. Dan Allah Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqoroh: 216)
Kesabaran selalu memudahkan jiwa memandang masalah secara jernih, dan ini secara perlahan akan mengantar kita menemukan banyak hal yang selama ini tersembunyi di balik sebuah masalah. Sabar merupakan salah satu induk akhlak yang banyak disebut dalam Al-Qur’an dan tertera dalam beragam variasi peristiwa kehidupan. Bahkan ia adalah sarana untuk kita memohon pertolongan.
“Mintalah pertolongan dengan kesabaran dan salat.” (QS. Al-Baqoroh: 153)
Selain karena faktor fisik, pada umumnya rasa tidak suka atau benci terhadap istri, terutama yang muncul di tengah perjalanan perkawinan, biasanya disebabkan oleh perilaku (atau kualitas kepribadian secara umum) yang kurang menyenangkan atau bahkan buruk.
Misalnya seorang sahabat yang mengadukan istrinya kepada Umar bin Khaththab karena terlalu cerewet. Tetapi Rasulullah Saw. menyuruh untuk bersikap imbang, bahwa pada setiap orang ada sisi baik dan ada sisi buruk, dan keduanya harus dilihat secara seimbang. Maka beliau pun bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya:
“Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Sebab bila ada satu sikap yang ia benci darinya, boleh jadi ada sikap lain yang justru ia suka.”
Ada banyak di antara kita yang mengharap terlalu banyak dari istrinya, dan inilah celah yang menyisakan kemungkinan kecewa yang juga berlebihan. Bahwa kita mengaharap kadar kualitas kepribadian tertentu dari pasangan kita. Itu wajar, tapi jika harapan itu melampaui batas kemampuannya, kita harus segera berpikir bahwa boleh jadi harapan dan kekecewaan yang juga dirasakan pasangan kita terhadap kita sendiri sebagai suami. Harus ada keseimbangan antara harapan yang wajar dan kesiapan untuk kecewa yang juga wajar.
Masalahnya adalah, haruskah kekecewaan itu diungkap?
Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Lihatlah situasi kejiwaannya untuk mengetahui apakah pengaruh yang ditimbulkan oleh ya atau tidak.
Untuk tujuan mempertahankan kesalingpercayaan dan keutuhan komunikasi, pada sebagiannya kekecewaan itu sebaiknya dipendam. Kesabaran dan kebesaran jiwa seharusnya membuat kita sanggup menutupi kekecewaan itu dengan senyum, agar hati dan perasaan pasangan kita dapat selalu terjaga. Karena apa yang paling menyakitkan hati wanita adalah ketika ia mengetahui bahwa suaminya tidak mencintainya.
Sebagian ulama bahkan menganjurkan untuk tetap tersenyum walaupun senyum hanya berpura-pura. Dan untuk salah satunya, inilah alasan yang membolehkan seorang suami berdusta kepada istrinya, atau sebaliknya, seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, yang berkata, “Bahwa aku tidak pernah mendengarkan Rasulullah membolehkan sedikitpun kedustaan kecuali dalam tiga hal, (salah satunya) dusta seorang suami kepada istrinya (untuk kebaikan)”. Sebab boleh jadi, ketika berpura-pura mencintai istri anda, Allah berkenan membuatm benar-benar mencintainya. Demikian juga sebaliknya. Dan itu sangatlah mudah bagi Allah.
Namun, kadang untuk tujuan pendidikan, atau pelepasan jiwa yang sudah tidak tertahankan, Rahmania juga perlu mengekspresikan kekecewaan itu. Bahkan, situasi semacam itu mungkin saja berkembang sedemikian rupa sampai pada tingkat di mana Islam membolehkan seseorang mengambil keputusan untuk bercerai.
Seorang shahabiah pernah meminta diceraikan oleh suaminya yang menurutnya (maaf) paling jelek di antara yang lain. Dan Rasulullah Saw. pun membolehkannya. Islam memang memberikan beberapa pilihan keputusan, tetapi-pada waktu yang sama-juga senantiasa menganjurkan memilih keputusan yang paling menguntungkan kedua pihak. Anak-anak, dalam hal ini, adalah pihak yang sangat rentan terhadap kerugian sebagai korban perceraian. Kebebasan mengambil keputusan itu akan bertemu dengan tanggung jawab.
Begitulah yang terjadi pada seorang lelaki yang mendatangi Umar bin Khaththab untuk memberitahukannya bahwa ia akan menceraikan istrinya karena sudah tidak mencintainya lagi. Dan, kebijakan yang dalamlah yang mendorong Umar bin Khaththab mengatakan, “Maka di manakah kita menegakkan tanggung jawab itu? Tidak bisakah rumah tangga itu ditegakkan dengan tanggung jawab saja?“
Seandainya Rahmania mengalami masalah ini, dan memutuskan untuk memilih tanggung jawab, lalu dengan kesabaran dan kebesaran jiwa, Anda terus berusaha mencintainya, menjaganya jangan sampai perasaannya hancur dan retak, walaupun mungkin Anda tidak akan pernah sampai mencintainya, maka simpanlah kenyataan ini dalam memori nurani Anda: bahwa ternyata ada kembaran Anda dalam sejarah. Dialah Abu Utsman Al-Naisaburi.
Abdurrahman Ibn Al-Jauzy menceritakan dalam “Shaed Al-Khathir” kisah berikut ini: “Abu Utsman Al-Naisaburi ditanya: ‘Amal apakah yang pernah Anda lakukan dan paling Anda harapkan pahalanya?’ Beliau menjawab, ‘sejak usia muda keluargaku selalu berupaya menikahkan aku. Tapi aku selalu menolak. Lalu, suatu ketika, datanglah seorang wanita padaku dan berkata, ‘Wahai Abu Utsman, sungguh aku mencintaimu. Aku memohon-atas nama Allah-agar sudilah kiranya engkau menikahiku.’ Maka aku pun menemui orang tuanya, yang ternyata miskin dan melamarnya. Betapa gembiranya orang tua Wanita itu.
“Tetapi, ketika wanita itu datang menemuiku-setelah akad-, barulah aku tahu kalau ternyata matanya juling, wajahnya sangat jelek dan buruk. Tapi, ketulusan cintanya padaku telah mencegahku keluar dari kamar. Aku pun terus duduk dan menyambutnya tanpa sedikit pun mengekspresikan rasa benci dan marah. Semua demi menjaga perasaannya. Walaupun aku bagai berada di atas panggang api kemarahan dan kebencian.
“Begitulah kulalui 15 tahun dari hidupku bersamanya, hingga akhirnya ia wafat. Maka tiada amal yang paling kuharapkan pahalanya di akhirat, selain dari masa-masa 15 tahun dari kesabaran dan kesetiaanku menjaga perasaannya, ketulusan cintanya”.
Dan kesetiaan itu adalah tali yang kokoh mengikat hubungan, serta bintang di langit kebesaran jiwa.
Pegawai BUMN tinggal di Tasikmalaya, aktif menulis di blog pribadi, kompasiana, grup-grup FB, dll.
Twitter : @wid_urip
