f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dongeng

Cara Efektif Tumbuhkan Budaya Literasi Melalui Dongeng

Selama ini, kita mengartikan literasi dengan membaca. Padahal, literasi lebih dari itu. Literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kemampuan menulis dan membaca, pengetahuan atau keterampilan dalam bidang atau keterampilan tertentu, dan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.

Pada era teknologi ini, kita dapat mengakses artikel-artikel dan sumber bacaan lainnya sebagai langkah awal untuk mewujudkan literasi di negeri ini. Tapi pada kenyataannya, orang-orang malah terlalu menikmati dan terlena dengan kenikmatan serta kemudahan dalam penggunaan teknologi. Sehingga mereka malas untuk memulai karya sederhana.

Untuk mewujudkan budaya literasi, kita harus membiasakan diri
sejak dini. Banyak hal yag dapat dilakukan orangtua untuk menumbuhkan kebiasaan literasi kepada anak. Seperti membacakan dongeng, mengajaknya membaca buku cerita.

Kita bisa mendapatkan tambahan materi atau penjelasan mengenai suatu materi dari berbagai situs di internet. Hal ini tentunya dapat mendorong anak untuk terus belajar, karena mudahnya belajar pada masa sekarang.

Tak jarang terdapat berita palsu atau hoax yang seringkali dipercayai banyak orang tanpa mempertimbangkan dan berusaha mencari tahu kebenarannya. Berita semacam inilah yang menjadi salah satu arus buruk dari perkembangan tekonologi yang begitu pesat.

Maka dari itu, remaja harus memiliki kemampuan lebih untuk menganalisis dan mencari tahu kebenaran dari setiap berita baru yang muncul setiap harinya. Kemampuan ini, juga disebut dengan literasi.

Budaya literasi tentu tidak bisa diterapkan secara terus-menerus. Literasi harus ditanamkan sejak dini dengan cara yang menyenangkan dan tidak memaksa. Maka dari itu, mulailah literasi dengan hal sederhana. Seperti orangtua yang membiasakan diri mengajak anaknya untuk membaca buku cerita. Selain itu, mendongeng juga bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk membangun literasi.

Baca Juga  Daya Lenting Guru Milenial di Masa Pandemi

Dongeng yang dibacakan di usia emas atau pada lima tahun pertama seorang anak. Pada masa itu, mereka memiliki daya tangkap otak yang tinggi sehingga siap menerima berbagai hal baru untuk masa depannya kelak.

Bagi anak-anak, dongeng adalah hal yang sangat mengasyikkan. Apalagi jika dibacakan dengan cara yang tidak monoton. Anak akan lebih tertarik ketika dongeng dibacakan dengan cara yang ekspresif. Misalnya, ketika dongeng disampaikan dengan cara bermonolog. Maka perlu ada perbedaan sebagai ciri khas setiap tokohnya. Seperti ekspresi wajah dan warna suara pencerita yang berbeda ketika memerankan berbagai tokoh. Cara ini tentu akan menarik hati anak untuk mendengarkan.

Contohnya, anak yang sering dibacakan dongeng tentu akan memiliki perbendaharaan kata yang lebih banyak ketimbang anak yang jarang atau tidak mendengarkan dongeng.

Semakin banyaknya perbendaharaan kata, anak akan menjadi pribadi yang selalu ingin tahu. Bisa jadi, mereka tidak hanya ingin tahu mengenai satu hal seputar dongeng itu. Bisa jadi mereka ingin tahu banyak hal lainnya. Seperti, mengapa semut menempelkan antena mereka ketika berpapasan dengan sekawannya?

Untuk menjawab pernyataan sederhana semacam itu, anak akan bertanya kepada orangtua mereka. Selain bertanya kepada orangtua, tak jarang anak akan memilih untuk membaca buku-buku ensiklopedia mengenai bidang itu. Dengan membaca, tentu kosa kata mereka akan terus bertambah, pandangan mereka tentang suatu hal pasti akan semakin luas, dan pemahaman dunia ini tentu akan semakin luas.

Di era ini, anak tentu akan lebih mudah mencari jawaban atas pertanyaan yang timbul setelah mendengarkan dongeng dari orang terdekat mereka. Meski kehadiran buku sebenarnya sudah cukup. Namun, apa salahnya mereka mencari referensi dari internet menggunakan gadget yangtentunya berada dalam pengawasan orang dewasa sebagai pengontrol kegiatan anak ketika menggunakan internet.

Baca Juga  Mendongeng atau Berkisah?

Referensi dari buku, tentunya terbatas. Sedangkan referensi dari internet, jauh lebih luas jangkauannya. Anak dapat mengakses ilmu dari berbagai situs di sana. Namun, sayang nya tidak semua informasi dari yang internet sepenuhnya akurat. Ketidakjelasan sumber inilah yang membuat ragu dengan informasi dalam internet. Dalam hal ini, buku tentu lebih unggul. Penerbit pasti akan memilah dahulu, naskah mana yang layak diterbitkan. Kejelasan sumber pun pasti dipertimbangkan.

Meski begitu, alangkah baiknya jika kita bisa mengkolaborasikan kedua sumber tersebut. Tentunya dengan memilih sumber yang terpercaya. Agar anak tidak terlanjur terjerumus dalam berita hoax sejak usia dini.

Tanpa disadari, anak akan terbiasa dengan teks bacaan. Kebiasaan baik ini tentu akan membekas pada diri mereka. Sehingga mereka akan punya dorongan yang kuat untuk menghabiskan waktu luang mereka.

Menurut Laura Numeroff, seorang pengarang dan illustrator cerita anak terlaris versi New York Times,dengan membaca dongen selama 20 menit, tingkat kecerdasan membaca dan menulis kreatif seorang anak akan naik secara signifikan. Waktu 20 menit itu, setara dengan sekurang-kurangnya 10 hari belajar di sekolah.

Dongeng menjadi salah satu dasar keberhasilan seseorang. Kemampuan berbahasa atau literasi yang merupakan salah satu modal untuk menuju kesuksesan, dapan dibentuk melalui hal sesederhana dongeng diwaktu kecil.

Dongeng sederhana akan membuat anak menjadi aktif dan pemberani. Memiliki pemahaman yang lebih meskipun hanya tentang hal kecil di dunia ini. Memunculkan berbagai pertanyaan yang kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan lain. Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan membaca atau bertanya, yang tentunya meningkatkan kemapuan berbahasa seseorang.

Dalam dongeng, banyak komponen yang membuat menarik dan menyimpan manfaat. Seperti alur cerita yang menarik, pesan-pesan tersirat dalam kisahnya yang tanpa sadar membuat si pendengar menyimpulkan suatu hal yang berguna bagi dirinya.

Baca Juga  Tak Perlu Menjadi Ateis untuk Menjadi Saintis

Tokoh-tokoh dalam dongeng yang kemudian menjadi idola anak-anak sebagai pendengar dongeng. Anak-anak ingin tumbuh menjadi tokoh seperti dalam kisah itu. Membuat anak menjadi pribadi yang pemberani dan memiliki etika. Menjadikan mereka selalu ingin tahu, bagaimana caranya menjadi hebat?

Singkatnya, kemampuan berbahasa seorang anak tidak dapat ditumbuhkan secara instan. Hal ini justru akan membuat anak tidak menyukai hal-hal yang berhubungan dengan literasi. Cukup dengan memperdengarkan dongeng-dongeng sederhana dan menyenangkan kepada mereka. Niscaya, literasi tak akan lagi menjadi angan-angan belaka.

Bagikan
Post a Comment