Dilema Guru Ngaji: Naikkan atau Tidak?
Hampir seluruh dari kita pasti pernah merasakan belajar membaca, baik dalam lembaga pendidikan formal maupun non formal. Baik belajar membaca huruf latin atau arab. Tentunya dengan cara belajar yang berbeda beda.
Dalam belajar membaca semuanya akan menginjak fase terbata bata. Tentu fase terbata bata dari setiap orang itu berbeda-beda, ada yang hanya sekali dua kali baca sudah lancar, dan ada juga yang sampai diulang ulang berkali-kali masih saja terbata dalam membacanya.
Misalnya dalam belajar membaca Al-Qur’an. Ada yang kelihatannya sudah sangat lancar dalam membaca, akan tetapi dalam pengucapan huruf huruf masih salah salah, alias asal ngucap. Ada juga yang sudah lancar membaca, akan tetapi masih sering lupa-lupa, atau salah masih tertukar harakat.
Pada tulisan ini tidak lagi akan membahas mengenai metode pembelajaran membaca Al-Qur’an, apalagi membahas mengenai maraknya kasus pelecahan sesksual di lembaga pendidikan Al-Qur’an. Akan tetapi tulisan ini akan membahas soal kebimbangan guru ngaji.
Pada zaman sekarang ini dan dulu, anak anak dalam motivasi belajar ngaji atau belajar membaca Al-Qur’an sangat berbeda. Misalnya dalam belajar di TPQ (Taman Pendidikan Qur’an) yang biasanya dilakukan di sore hari sampai menjelang magrib, atau ngaji di surau-surau, langgar, musala dan masjid bakda magrib. Pada zaman dulu, kalau anak tidak berangkat ngaji mereka takut kepada orang tua, karena pada zaman dulu orang tua mengharuskan untuk pergi ngaji. Selain itu, tidak ada kegiatan yang seru lagi, selain ngaji bisa bertemu main dengan teman-teman. Sangat jauh keseruannya kalau dibandingkan dengan permainan gadget seperti saat ini.
Berbeda dengan saat ini, banyak sekali tuntutan yang orang tua berikan kepada anak. Mulai dari les berhitung, membaca, masak, basket, voli mulai pualng sekolah sampai setelah maghrib. Selain dari tuntutan orang tua, juga adanya faktor lain yaitu gadget yang terus melambaikan godaan beragam fiturnya. Hal itulah secuil dari beberapa faktor yang menjadi belajar ngaji berada pada urutan nomor sekian.
Lalu bagaimana sikap dari guru ngaji atau pendamping anak dalam belajar membaca Al-Qur’an? Sungguh, hal tersebut menjadi sebuah tamparan bagi orang tua, selain itu juga menjadi tantangan guru.
Pada umumnya saat belajar Al-Quran pertama kali menggunakan iqra’, qiraati, atau pada zaman dulu menggunakan turutan. Dengan sistem sorogan (maju satu satu), kalau saat ini dengan membawa buku prestasi. Di situlah seorang guru diuji, saat anak-anak membaca dengan pembawaan sifat kekanak-kanakannya.
Dengan sistem sorogan, bisa tahu anak tersebut bacanya lancar atau tidak. Sungguh bahagia yang dirasakan anak apabila baca lancar dan bisa naik ke halaman selanjutnya. Tetapi berbeda dengan anak yang belum lancar bacanya, artinya belum bisa lanjut ke halaman selanjutnya. Di sinilah ketegasan guru diuji, apak tetap tidak menaikkan si anak atau tidak.
Mengenai sikap anak yang tidak bisa naik ke halaman selanjutnya berbeda beda. Ada yang dengan hati legowo tetap bahagia menerima kenyataan yang ada. Tetapi ada juga yang tidak menerima kalau dia tidak lanjut ke halaman selanjutnya. Lebih parahnya lagi, kalau anak tersebut mengancam untuk tidak berangkat ngaji kalau tidak naik ke halaman selanjutnya, alias kapok untuk ngaji.
Sebuah kebimbangan guru ngaji pastinya, mengikuti aturan yang ada untuk tidak menaikkan anak kalau tidak lancar membaca atau menaikkan anak agar tetap berangkat ngaji walaupun tidak lancar dalam membaca. Pilihan yang dari keduanya mempunyai efek masing masing.
Tentu guru ngaji akan lebih memilih untuk tetap tidak menaikkan ke halaman selanjutnya. Hal itu terkhusus bagi anak yang dengan legowo menerima kalau memang dirinya belum lancar dalam membaca. Tapi berbeda untuk anak yang kalau tidak dinaikkan akan mutung atau kapok untuk berangkat ngaji, yaitu dengan menaikkan si anak dengan dalih tetap berangkat ngaji, tentunya hal tersebut diselingi dengan bujuk rayu penuh canda yang bersisi nasehat. Hal tersebut bisa diakali dengan menguji si anak di hari esok untuk membaca halaman sebelumnya.
Sangat penting untuk memahami anak, merupakan sifat natural anak yang sedang dalam masa tumbuh kembang yaitu kadang kala mengalami perubahan, menjadikan guru perlu memahami anak. Kondisi ini, akan memudahkan guru termasuk pemerintah, dalam membuat kurikulum yang tepat untuk pendidikan anak. Walaupun tidak sepenuhnya kurikulum dapat diterapkan pada anak.
Mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih (PUTM) Yogyakarta
