Jangan Tanya Kapan Nikah, Bahaya!
Jika seseorang ditanya, “Kapan nikah?” Pasti timbul reaksi yang berbeda-beda. Kenapa ya pertanyaan itu bahaya? Ternyata hal itu bisa membuat seseorang terkena sindrom alkalosis pernapasan, utamanya pada perempuan. Sebelum tahu bahanya apa, kenali dulu yuk sindrom alkalosis pernapasan pada perempuan.
Sindrom alkalosis pernapasan masih menjadi hal yang belum muncul di permukaan. Baik laki-laki maupun perempuan masih awam dan tidak tahu mengenai hal tersebut. Perlunya pengetahuan tentang sindrom alkalosis pada seseorang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kondisi penderita alkalosis yaitu ketika darah mengandung terlalu banyak basa akibat penurunan kadar asam dalam tubuh. Hal ini bisa terjadi karena menurunnya kadar karbondioksia, elektrolit klorida, atau kalium berdasarkan pernyataan dari dr. Rizal Fadli berasal dari situs halo.doc. Keadaan menurunnya kadar karbondioksida dan lain-lain bisa dialami pada perempuan.
Meskipun demikian, laki-laki perlu tahu mengenai sindrom alkalosis pernapasan ini. Kehidupan sosial tidak bisa terlepas dalam kehidupan kita, maka dari itu laki-laki juga penting memahaminya karena sindrom ini mungkin bisa terjadi pada perempuan di sekitar mereka. Sindrom ini menjadi masalah penting karena berhubungan langsung dengan pernapasan.
Pernapasan perempuan bisa terganggu jika Ia tidak kuat mental ketika ditodong dengan pertanyaan-pertanyaan yang sensitif. Salah satu pertanyaan yang bikin kejang-kejang setelah ditanya “kapan nikah?”. Penderita sindrom alkalosis akan mengalami gangguan kecemasan parah yang menyebabkan sulit bernapas, mati rasa, dan badan berkedut.
Seperti kasus yang terjadi di Cina tepatnya di Provinsi Shandong, nasib malang menimpa perempuan berusia 27 tahun yang didesak orangtuanya dengan pertanyaan kapan menikah. Kasus tersebut terjadi pada bulan Juli 2022 lalu. Identitas perempuan tersebut tidak disebutkan, diduga Ia mengalami pertengkaran dengan orangtuanya karena terus-menerus ditanya kapan nikah. Perempuan itu langsung dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Qi Mo di Kota Jinan, China.
Dikutip dari Instagram women by narasi bahwa gejala umum yang terjadi ketika mengalami kesulitan bernapas yaitu gelisah, mati rasa di sekitar mulut, tremor, dada terasa nyeri, otot kaku, dan pusing. Gejala yang dialami perlu segera ditangani agar tidak menimbulkan masalah lanjut seperti komplikasi. Karena gejala-gejala yang dialami juga bukan gejala yang sederhana, maka perlu diperhatikan lebih. Seperti gelisah, gelisah atau anxiety dapat menyebabkan seseorang kesulitan fokus. Kondisi ini dirasakan sebagai ancaman oleh seseorang yang sedang mengalaminya. Ditambah lagi mati rasa di sekitar mulut, apabila ini terjadi, seseorang bisa kesulitan dalam berbiacara dan mengganggu kenyamanan dalam berkomunikasi.
Selain itu, tremor juga bahaya jika sesorang membiarkan kondisi tubuh gemetaran yang tak terkendali. Ini menimbulkan dampak negatif ketika seseorang atau perempuan mencoba melakukan aktivitasnya. Tremor yang dialami bisa kurang memaksimalkan kegiatan secara efektif dan efisien. Selanjutnya dada terasa nyeri. Nyeri di dada menjadi momok bagi banyak orang karena menimbulkan rasa tertekan atau bahkan terbakar. Tentunya tidak berhenti di situ, nyeri yang terjadi di dada bisa menjalar ke leher dan bahu.
Otot kaku memang tak jarang kita temukan. Orang yang memiliki otot kaku, perlu olahraga ringan untuk mengembalikan kelenturan otot yang mengalami kekakuan. Akibat dari otot kaku, kita kesulitan melakukan sesuatu karena akan menjadi lebih sulit untuk bergerak seperti biasanya. Otot kaku juga disertai dengan nyeri dan kram yang menimbulkan rasa tidak nyaman bagi si penderita otot kaku.
Yang terakhir pusing, ketika seseorang mengalami gejala ini, orang tersebut bisa kehilangan keseimbangan. Bahkan, terkadang merasa berat di kepala disertai mata berkunang-kunang. Gejala lain yang bisa dialami adalah serangan pusing berputar mendadak pada perubahan posisi kepala. Jika seseorang mengalami pusing seperti ini, ditambah dengan gejala-gejala sebelumnya, bukankah itu terasa berat dan bisa menyiksa tubuh. Akan lebih baik jika kita bisa mencegah hal-hal tersebut, karena tidak semua orang bisa menerima pertanyaan yang mungkin menohok bagi beberapa orang.
Lain halnya di Jawa, beberapa pertanyaan hanya sekedar basa-basi yang terkadang tidak dimasukkan ke hati, melainkan hanya untuk menjalin keakraban antar individu. Dari jurnal Rangga Asmara Universitas Tidar yang berjudul “Basa-Basi Dalam Percakapan Kolokial Berbahasa Jawa Sebagai Penanda Karakter Santun Berbahasa”. Di situ tertulis bahwa basa asi berfungsi semata-mata untuk mempertahankan hubungan sosial di antara penuturnya. Selain itu, juga dilakukan untuk mengadakan kontak antar idividu dalam mencairkan suasana agar tidak terasa kikuk.
Berbeda tempat berbeda pula culture nya, kita dituntut untuk peka terhadap penafsiran dalam memahami budaya sosial. Seperti halnya di Indonesia, orang suka berbicara secara berbelit-belit untuk menyampaikan maksud dan tujuan. Sedangkan orang luar negeri terkhususnya Eropa lebih suka blak-blakan atau berbicara secara langsung tanpa berbelit. Contoh, ketika orang Indonesia meminjam uang, maka orang tersebut mengawalinya dengan keluh kesah hidupnya dan menyampaikan maksud serta tujuan di akhir setelah menyampaikan keresahannya.
