f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pola asuh kakek nenek

Pola Asuh Kakek Nenek Vs Orang Tua

Berdasarkan pengalaman saat melakukan asesmen untuk siswa baru di tempat kami, sekolah luar biasa (SDLB Negeri Badean), saya menemukan cerita yang menarik untuk dikaji. Salah satunya adalah kisah anak-anak yang tinggal bersama kakek dan neneknya. Entah karena kesibukan orang tuanya atau karena permintaan kakek neneknya sendiri, untuk merawat sang anak.

Ada temuan yang perlu dikaji lebih dalam. Apakah ada dampak pola asuh yang diterapkan kakek nenek terhadap cucu? Apakah bagus, anak dititipkan kepada kakek neneknya?

Dalam asesmen ditemukan beberapa kisah. Pertama, anak-anak yang diasuh oleh kakek neneknya cenderung memiliki keterlambatan bicara. Kedua, anak yang dirawat sejak kecil oleh kakek neneknya lebih terlihat manja dan kurang mandiri. Bahkan untuk kemandirian bersih diri, mandi dan buang air di toilet tergolong kurang mampu. Dengan kata lain, toilet training anak belum optimal.

Ketiga, kakek dan nenek selalu membela cucunya meskipun sedang melakukan kesalahan. Bahkan kesalahan itu dianggap wajar, padahal semestinya anak yang bersangkutan–di usia yang sama–sudah memahami mana yang benar dan salah.

Di Desa Gumukmas, setidaknya ada lima anak yang sedang dititipkan kepada kakek neneknya. Berdasarkan pengamatan di desa, dua dari lima anak tersebut putus sekolah setelah lulus SD. Dua di antaranya masih sekolah SD, tetapi jarang masuk atau kurang minat belajar. Satu anak lagi, berhasil lanjut sekolah sampai lulus SMA.

Pertanyaan besarnya, apakah putus sekolah dan kurang minat belajar salah satu penyebab dari pola asuh kakek nenek mereka? Apakah orang tuanya membiarkan mereka putus sekolah, atau kakek nenek mereka yang membiarkan dan membela keputusan dari cucunya?

Data temuan lainnya, menguak fakta yang bertolak belakang. Pertama, teman saya SG (28 tahun) sejak kecil tinggal bersama kakek neneknya di Jember. Sementara orang tua tinggal dan bekerja di Surabaya. Prestasi sekolah sangat menonjol terutama di bidang olah raga bahkan sering ikut lomba sampai ke tingkat nasional. Terlihat kemampuan sosialnya sangat baik dan tugas sehari-hari di rumah dijalankan dengan baik pula.

Baca Juga  Yuk Asuh Anak dengan Pendekatan Positive Discipline!

Kedua, teman saya SF (33 tahun). Dia memiliki pandangan positif terhadap orang lain. Sedangkan terhadap dirinya sendiri kurang percaya diri dan cenderung memiliki pandangan negatif.

Berdasarkan data yang disebutkan, ada dua kelompok anak yang dititipkan kepada kakek neneknya. Kelompok pertama, sulit mandiri dan minat belajar kurang. Kelompok kedua, sosialnya baik dan berprestasi sekolah.

***

Kuat hipotesa bahwa perkembangan mental anak dipengaruhi pola pengasuhan yang jelas. Hal ini karena, untuk menanamkan nilai kedisiplinan anak butuh referensi. Anak butuh figur otoritas. Pola pengasuhan yang jelas berpengaruh terhadap konsep diri anak.

Ada empat tipe konsep diri anak ketika dewasa kata Zein Permana di kanal youtube-nya. Pertama, konsep diri yang secure (bisa berpikir positif tentang dirinya dan juga orang lain). Tipe ini adalah tipe yang kebanyakan dimiliki anak hingga dewasa. Sejalan dengan tuntunan agama, untuk berpikir positif terhadap Tuhan dan orang lain.

Kedua, konsep diri insecure. Tipe ini biasanya menunjukkan pandangan negatif terhadap diri sendiri dan pandangan positif terhadap orang lain. Ketiga, konsep diri anxious preoccupied. Biasanya menunjukkan pandangan positif tentang diri sendiri dan pandangan negatif tentang orang lain. Cenderung terlihat tinggi hati, suka merundung teman, merendahkan, meledek dan sebagainya. Keempat, konsep diri dismissive avoidant biasanya menunjukkan kegalauan dan berubah-ubah pandangan.

***

Usia nol sampai 10 tahun seharusnya anak sudah jelas siapa figur otoritas yang mendidik perkembangan mental dan sosialnya. Menurut Zein Permana dalam kanalnya episode curhat ke-60, mengatakan bahwa jangan sampai anak tidak sempat melakukan kedekatan dengan orang tua atau kakek nenek yang mengasuhnya. Dampak kelekatan emosional kakek nenek dan orang tua terhadap masa dewasa, mempengaruhi terbentunya konsep diri dari empat tipe tersebut.

Baca Juga  5 Tips Nonton Youtube untuk Batita

Barangkali kondisi insecure kita kali ini merupakan kontribusi dari pola asuh kakek nenek dan orang tua kita. Begitu pula dengan konsep diri suka merendahkan orang lain dan sebagainya. Hal ini perlu dikaji lebih dalam. Wallahu a’lam.

Rasulullah Saw., dititipkan kepada Halimah As Sa’diyah sampai di usia lima tahun. Pada usia lima sampai enam tahun, figur otoritas pendidiknya adalah ibunya, Aminah. Berganti lagi pola asuh kakeknya, yang sangat menyayanginya. Kakek mengajarkan kemandirian dan diperbolehkan menduduki tempat yang mana cucu atau anak Abdul Muthalib yang lain, Abbas, tidak diperbolehkan. Dengan memberikan pemahaman bahwa suatu saat baginda Muhammad memiliki peranan penting di Mekah. Berganti lagi di usia 10 sampai 12 tahun diasuh oleh pamannya.

Kalau berkaca pada teori pola asuh yang harus punya figuritas otoritas, Rasulullah punya tiga figur dalam hidupnya. Namun, ketiganya selaras membentuk kepribadian Rasulullah di masa dewasa bertipe secure.

Pada intinya, memang ada perbedaan pola mendidik kakek nenek dengan orang tua sendiri. Namun, bisa juga dikatakan tidak ada perbedaan yang signifikan dampak pola asuh antar keduanya apabila memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Menyamakan persepsi dalam kedisiplinan mendidik Anak. Jika sudah ada peraturan A dari orang tua, maka kakek nenek turut menerapkan pola pendidikan yang sama terhadap cucunya.
  2. Kualitas pertemuan orang tua dengan anak. Berapa banyak orang tua setiap hari bertemu tetapi kelekatan emosi dengan anak sangat kurang. Kelekatan yang kurang juga menjadi krisis figuritas sendiri bagi anak, berdampak pada konsep diri masa dewasanya. Meskipun setiap hari diasuh kakek nenek, kualitas pertemuan orang tua dengan anak sangat mempengaruhi.
  3. Kedisiplinan pola pendidikan kakek nenek terhadap cucu harus berkualitas. Sikap permisif bisa membuat cucunya memiliki aturan sendiri, berdampak terhadap perkembangan mentalnya kelak.
  4. Hindari sifat terlalu permisif dan kakek nenek yang merawat cucu tanpa orang tuanya (meninggal dan lain sebagainya) haruslah punya otoritas mengarahkan cucunya, kelak menjadi apa. Visi misi yang kuat untuk cucu, membantu cucu memiliki tujuan hidup terarah.
  5. Mulailah mengasuh anak dengan opimal sejak usia nol bulan sampai 10 tahun, karena lebih dari usia itu dampak negatif yang terjadi akan susah ditebus. Mencegah kesalahan mendidik, lebih baik dari pada menebus kesalahan di masa depan.
Baca Juga  Mendidik Anak Untuk Belajar Dari Kegagalan

Kesimpulan dari pembahasan kali ini adalah ada tidaknya perbedaan pola asuh kakek nenek tergantung kualitas mendidik antar keduanya.

Sesuai fitrahnya, kakek nenek memiliki rasa kasih sayang yang tinggi kepada cucunya. Kasih sayang memiliki dampak positif terhadap anak, bahwa ada banyak orang yang menyayanginya. Sisi negatifnya, sifat tidak tega dari kakek nenek menerapkan kedisiplinan seperti yang orang tua terapkan. Apabila kakek nenek menyadari, mereka juga punya andil agar cucunya bisa memiliki tujuan hidup terarah. Tidak sekadar dikasihi dan dimanja.

Bagikan
Comments
  • Rahayu

    Bagus banget buat pembelajaran orang tua baru beserta kakek nenek juga bahwasanya pola asuh orang tua dengan kakek nenek sangat jauh berbeda ☺️

    Agustus 3, 2022
    • Anam

      Masya Allah, tabarokallah.

      Agustus 25, 2022
  • Ukasya

    Berjuang bersama, hebat semua. Parenting Kakek Nenek dan Orang Tua.

    Agustus 24, 2022
Post a Comment