Bersahabat dengan Perubahan
Saat membuat catatan ini, saya sedang bersama secangkir kopi dengan sedikit gula dan sepotong jadah goreng. Keduanya masih hangat, sehangat senyum saya untuk anda semua, halah.
Sudah lama saya lebih suka menikmati kopi dengan sedikit gula, bahkan terkadang tanpa gula sama sekali. Kapan tepatnya saya lupa, yang jelas sejak suami saya tidak lagi menjadi pecandu kopi. Meskipun sebenarnya tubuh saya masih bisa menerima kopi dengan gula, tetapi kebiasaan membuatkan lemon tea tanpa gula untuknya, menjadikan saya pun terbawa kebiasaan meminum kopi tanpa gula.
Sebenarnya saya ingin ikut juga menikmati lemon tea tersebut, tetapi apa daya, alarm tubuh saya menolak rasa asam yang berlebih. Sekali dua kali tak apa, tetapi jika terlalu sering maka bersiaplah wahai kepala saya untuk menanggung pusing yang cukup menyakitkan.
Seperti program pengaturan makan yang saya terapkan untuk diri saya sendiri. Nawaitu mengurangi berat badan agar tidak lekas lelah dan lebih lincah bergerak saat bersih-bersih rumah, saya mencoba mengurangi asupan nasi yang masuk ke tubuh. Mengapa nasi, karena saya masih suka ngemil, masih suka nyomot cake dan snack stok camilan anak-anak, jadi pilihan dan percobaan diet ternyata jatuh ke pengurangan porsi nasi saat makan utama.
Sebenarnya ada banyak jenis pilihan diet, tetapi saya memilih program yang masih memungkinkan saya untuk menikmati banyak ragam makanan enak. Hasilnya, saya berhasil menurunkan berat badan sebanyak empat kilogram dalam waktu kurang dari empat bulan. Secara perlahan bisa meninggalkan nasi dan sepenuhnya hanya mengkonsumsi sayur serta protein hewani sebagai bahan bakar utama energi saya. Semoga konsisten dan bisa kembali ke berat badan ideal (mohon diaminkan, haha).
***
Berbeda dengan program yang saya jalankan, suami saya memiliki program kesehatan dengan mengurangi jenis makanan yang berbeda dengan saya. Menu makannya tak bisa meninggalkan nasi, karena nasi adalah bahan bakar utama untuk energinya. Tetapi dia akan merasa berat di tengkuk dan batang lehernya saat terlalu banyak lemak hewani yang masuk ke tubuhnya. Jadi jenis makanan yang dia kurangi adalah daging, telur, jeroan dan santan. Sesekali boleh bertemu, tetapi dengan pembatasan jarak dan jumlah.
Sebenarnya, yang kami lakukan hanyalah mengikuti alarm dan system metabolisme tubuh yang berubah seiring pertambahan usia. Tak ada yang mengharuskan dan menganjurkan untuk mengurangi jenis makanan ini itu, semua kami lakukan sepenuhnya dengan kesadaran sendiri untuk beradaptasi dan tetap selaras dengan perubahan. Adaptasi dan penyesuaian yang kami lakukan sebisa mungkin tetap memberikan rasa nyaman dan aman bagi tubuh.
Menurutnya saya, begitu pula yang seharusnya kita lakukan terhadap banyaknya perubahan yang terjadi dalam hidup. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mencegah, menolak atau bahkan menghentikan semua perubahan tersebut. Yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi, menyesuaikan diri sebaik mungkin. Mengkondisikan situasi diri agar bisa berdampingan dengan selaras bersama segala perubahan yang berlangsung dengan sangat cepat ini.
Perubahan yang sangat terasa sekali adalah perubahan dalam dunia teknologi yang terjadi di abad ini, salah satunya adalah teknologi komunikasi dan informasi. Anak-anak jaman sekarang tak banyak lagi yang bisa menikmati buku dengan asyik, karena dunia mereka sudah sangat enjoy bersama beragam jenis peralatan digitalnya (baca gawainya). Banyak sekali aplikasi yang menawarkan bacaan secara digital sehingga tak perlu repot menenteng buku kemana-mana.
***
Jadi, tak perlu merasa bersalah ketika kita merasa berat sekali menggiring anak-anak menbaca buku. Karena semua sudah lebih asyik dan nyaman dalam bentuk digital. Yang bisa kita lakukan adalah bagaimana anak-anak tetap menyadari dan benar-benar merasakan bahwa gawai juga merupakan media yang asyik untuk mendapatkan informasi, dan selanjutnya akan terasa asyik juga untuk membaca. Ok lah jika pada akhirnya mereka suka membaca novel, komik dan cerpen di gawainya. Semoga saja akan berlanjut dengan kesukaan membaca ebook terkait materi pelajaran atau pengetahuan-pengetahuan yang mereka sukai. Aamiin.
Selain bergesernya gaya membaca, bergeser pula ketertarikan anak-anak terhadap permainan. Mereka tak lagi menemukan serunya bermain petak umpet, gobak sodor, ingklik, jamuran. Bahkan mungkin mereka sama sekali tak mengenal beragam permainan lama tersebut.
Anak-anak era digital lebih sering, dan akhirnya lebih nyaman bermain free fire, mobile legend, dan game-game on line lain bersama teman-temannya. Bahkan teman-teman yang semula nyata, perlahan menjadi teman dunia maya. Kok bisa?
Haha. Saya sering berhadapan dengan situasi yang (menurut saya) aneh. Bagaimana tidak aneh jika ada beberapa orang (baca;anak) yang katanya sedang bermain bersama, tetapi tak ada interaksi sama sekali satu sama lain. Mereka bermain bersama lewat gawainya. Setelah selesai, mereka pun bubar, kembali ke rumah masing-masing. Lha, ngapain bertemu coba kalau tak ada interaksi secara nyata. Bahkan untuk mengagendakan pertemuan berikutnya mereka juga membuat janji lewat percakapan di gawainya.
Jadi, apakah akhirnya perubahan itu memberikan dampak buruk?
***
Dampak dari setiap perubahan selalu membawa akibat baik dan buruk. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk menghentikan fenomena tersebut. Itulah kenyataan yang kita hadapi saat ini. Jika kita mengambil peran sebagai penentang, anak-anak akan menganggap kita kuno, tak mengikuti perkembangan zaman dan kolot. Anak-anak tidak akan merasa nyaman untuk bermain, berinteraksi, berdiskusi dan menghabiskan waktu bersama orang tuanya, karena merasakan penolakan akibat budaya dan pemahaman yang berbeda. Pada akhirnya yang kita rasakan hanya akibat buruk dari perubahan tersebut.
Akan berbeda cerita jika kita membuka mata, membuka hati dan pemikiran untuk mau melihat sisi positifnya. Kita akan menyadari bahwa di era digital ini, anak-anak muda menjadi semakin kreatif dan berani berekspresi.
Banyak entrepreneur muda bermunculan dengan segala bentuk inovasinya. Anak-anak yang semula malu-malu untuk menunjukkan bakat dan minatnya, sangat terbantu untuk menunjukkan eksistensinya dengan adanya media social. Banyaknya aplikasi media social menjadikan mereka memiliki beragam pilihan untuk berani unjuk kebisaan dengan beragam kreatifitasnya. Tentu saja dalam hal positif ya.
Yang bisa kita lakukan sebagai orang tua adalah beradaptasi dan berstrategi menghadapi semua perubahan tersebut. Beradaptasi, mengambil manfaat, bahkan menggunakan sebaik-baiknya semua kemajuan tersebut untuk lebih baiknya kualitas fisik, mental dan kecerdasan anak-anak.
Mengapa kita tidak mengambil peran sebagai partner bermain misalnya. Meskipun akan sulit bagi kita untuk mempelajari game-game on line tersebut, paling tidak kita memiliki pengetahuan tentang beragam game tersebut. Jadi kita tetap memiliki bahan untuk memulai percakapan dan menyambung kelekatan hubungan bersama anak. Mari kita coba.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
