‘Aisyah binti Ahmad Al-Qurthubiyyah dan Khadijah binti Sahnun Al-Qifti, Kutu Buku Terkemuka dari Negeri Timur
‘Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyyah (w. 1009 M), atau dikenal dengan gelarnya Syughafah bil qira-ah wal mu’anasah bil kutub (Si Kutu buku) yang juga memiliki julukan Ukhti Ar-Rijal adalah simbol dari kiprah seorang ulama wanita yang membumikan kecintaan terhadap keilmuan dan buku. Ia adalah seorang penyair Andalusia terkemuka yang dikenal pada abad 4 Hijriyah oleh publik Cordoba, Spanyol, sebagai sastrawan cerdas dan berpengetahuan luas. Bahkan dalam beberapa catatan sejarah mengatakan, bahwa ia memiliki perpustakaan pribadi yang penuh buku-buku dan manuskrip-manuskrip langka yang sebagiania handiahkan ke perpustakaan Cordoba.
Ia mempelajari berbagai macam fokus ilmu, di antaranya Nahwu, Sharaf, Al-Bayan (morfologi), dan Hadis. Selain itu ia juga aktif dalam memberikan pengajaran tentang keilmuan dan kepenulisan dalam sebuah forum.
Salah satu sya’irnya yang terkenal adalah saat ia sedang singgah di rumah Al-Mudzaffar bin Abi Umar, saat menimang putra mudzaffar ia bersenandung:
“أراكَ اللهُ فيه ما تُرِيد ولا بَرِحَت معاليه تزيدُ.”
Dan beberapa bait syairnya yang lain yaitu:
“لولا الدموع لما خشيتُ عَذُولاً فهي التي جعلتْ إليك سبيلا”
***
‘Aisyah masyhur memiliki tulisan tangan yang sangat indah dan kapasitas intelektual yang menonjol bahkan di antara para intelektual laki-laki. Hal ini membuat Khalifah Andalusia, Abdurrahman III sangat mengagumi dan memberikan penghormatan yang tinggi kepadanya. Dalam beberapa catatan sejarah, banyak tokoh dan cendekiawan muslim yang memberikan kesaksian atas kepiawaian perempuan cerdas tersebut, salah satunya adalah seorang sastrawan dan sejarawan terkemuka, Abu Hayyan ‘Ali bin Muhammad bin al-Abbas at-Tauhidi atau lebih sering dikenal dengan Ibnu Hayyan dalam bukunya yang berjudul Al-Muqtabas.
Dalam buku ‘Para Ulama dan Intelektual yang Memilih Menjomblo’ karya KH. Husein Muhammad dituliskan bahwa Ibnu Hayyan menyampaikan kalimat sebagaimana berikut:
“Tak ada seorang pun di Andalusia pada zaman itu yang mengungguli ‘Aisyah al-Qurthubiyyah dalam banyak aspek: pengetahuan, sastra, puisi, kefasihan bertutur kata, dan keluhuran pribadinya”
Sementara penulis buku Al-Maghrib menyebut Aisyah sebagai Innahaa min ‘Ajaaib zamaanihaa wa gharaaib awaanihaa yang berarti, ia adalah seorang perempuan paling mempesona dan paling Ajaib/aneh pada zamannya.
***
Sampai akhir hayatnya, Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyyah tetap melajang, dan tidak menikah. Mengapa demikian? Tak ada informasi khusus dalam catatan sejarah yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Banyak cendekiawan dan analis yang hanya menduga-duga; salah satunya karena alasan berikut:
‘Lebih sibuk dengan ilmu pengetahuan dan belajar, membaca dan meneliti daripada mengamati wajah-wajah para pelamarnya’. Ada pula yang menduga karena alasan bahwa ‘Menggumuli ilmu pengetahuan jauh lebih nikmat daripada kenikmatan menikah dan terikat.
Selain ‘Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyyah, ada juga Khadijah binti Sahnun Al-Qifti yang Lahir di Qairawan, Tunisia, tahun 160 H. Ia adalah seorang ahli fikih mazhab Maliki terkemuka dari kalangan perempuan; sekaligus putri dari seorang hakim pengadilan terkemuka.
Di bawah bimbingan dan asuhan ayahnya, Khadijah tidak hanya memperoleh pengetahuan agama semata, melainkan juga kepribadian yang luhur. Hingga popularitasnya sebagai ulama perempuan pun sangat menonjol. Tak jarang, ayahnya pun meminta pendapat dan pertimbangan putrinya yang cerdas itu sebelum memutuskan suatu perkara.
***
Seorang Al-Imam Al-Qadhi ‘Iyadh seorang ulama’ multidisipliner pada masa Dinasti al-murabithun menuliskan dalam karyanya, yang berjudul Tartib al-Muluk wa Tartib al-Masalik. Beliau mengungkapkan bahwa:
“Khadijah binti Sahnun adalah sosok ulama perempuan yang cerdas dengan perangai yang indah. Ia memiliki pengetahuan agama yang sangat luas dan mendalam; bahkan mengungguli kebanyakan ulama laki-laki semasanya. Selain memberikan fatwa keagamaan; beberapa kali ia juga terlibat dalam kegiatan advokasi sosial-kemanusiaan”.
Dari figur ketekunan dan semangat ‘Aisyah binti Ahmad al-Qurthubiyyah dan Khadijah binti Sahnun Al-Qifti ini, dapat menjawab tuduhan miring yang diarahkan kepada umat islam yang menyatakan bahwa syariat islam merendahkan dan menghalangi kemajuan wanita, selain itu banyak yang mengkhawatirkan jikalau kejayaan islam atau berpegangnya suatu negara dengan syariat islam akan membuat kaum muslimah terkurung dan kehilangan hak-hak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa islam sangat menghargai hak-hak wanita. Wanita diberi kebebasan untuk belajar dan berkiprah di tengah kemajuan peradaban, dan layak untuk mendapatkan perhatian, ditengah mendominasinya para intelektual laki-laki.
Wanita ditempatkan di tempat yang sangat spesial, dihargai dan hadirnya islam telah menghapuskan praktik bejat Kaum Quraisy yang suka menguburkan bayi perempuan, karena takut kemiskinan. Bahkan, Allah mendedikasikan sebuah surat dalam Alquran dengan nama: Annisa. Surat yang secara umum memberikan pesan untuk melindungi dan sekaligus memuliakan kaum yang rentan dalam masyarakat; seperti anak yatim dan para janda, dan perempuan secara umum.
Semoga kısah-kisah inspiratif dari para tokoh muslimah yang menjadi tombak sejarah peradaban di Timur pada masanya dapat menginspirasi setiap wanita untuk tidak surut dalam berkiprah dan terus menginspirasi sekitarnya. Aammiinn ya Rabbal ‘Alamiin.
Mahasiswi UIN SATU Tulungagung Program Studi Psikologi Islam. Instagram @alinchusna Facebook Alin Chusna.
