f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bergerak

Bergeraklah saat Sedih Hadir

Ramadan telah berlalu. Syawal juga tengah kita jalani. Ramadan 1433 H ini adalah Ramadan yang aku bertemu dengannya dalam suasana agak sedih. Berulang kali meminta kepada Sang Khalik supaya dikaruniakan perasaan gembira saat Ramadan datang, terutama di minggu terakhir Sya’ban.

Perasaan agak sedih ini menyelinap seiring dengan pemikiran yang mempertanyakan kemampuan diri sendiri dalam menjalani Ramadan dengan setumpuk kewajiban yang mesti dilakukan. Kewajiban sebagai ibu, sebagai istri, dan sebagai seorang peneliti di sebuah lembaga pemerintah.

Aku mesti mengantar dan menjemput jemput dua orang anak ke sekolah mereka masing-masing dengan jam masuk dan jam pulang yang cukup berbeda. Agenda Ramadan sekolah anak-anak juga sudah menanti. Mereka mesti hadir di sekolah dan tentu saja aku juga mesti antar jemput keduanya.

Selain itu, seabrek agenda Ramadan di lingkungan sekitar yang juga mesti ditunaikan. Biasanya ada suami yang bisa saling bergantian jika terkait agenda sekolah anak-anak. Namun, operasi patah tulang selangka suami sebulan sebelum Ramadan, membuat beliau mendapatkan peringatan oleh dokter untuk tidak mengendarai mobil terlebih dahulu.

Mungkin musibah patah tulang selangka suami juga yang menambah perasaan agak sedih saat Ramadan datang. Agenda mudik ke kampung halaman yang sudah kami rencanakan sejak awal tahun harus kami tunda dulu. Dokter belum memperbolehkan suami menempuh perjalanan jauh.

Perasaan sedih itu semakin menjadi-jadi saat aku membayangkan akan berlebaran di kompleks perumahan. Aku sudah membayangkan sepi yang akan menemani. Semua tetangga sudah mengagendakan mudik di hari lebaran tahun ini. Apalagi setelah dua tahun sebelumnya mudik memang tidak diperbolehkan karena pandemi yang menghantam Indonesia.

Dengan masih ada sedikitnya perasaan gembira akan hadirnya Ramadan, aku tetap menjalani Ramadan dengan setumpuk agenda di dalamnya. Ternyata terus bergerak dengan sedemikian banyak agenda, membuatku bisa melupakan sedikit demi sedikit perasaan sedih dan menggantikannya dengan perasaan ringan menghadapi Ramadan.

Baca Juga  Untukmu yang Mau, Sedang, dan Sudah Kuliah

Tak terasa sampailah di hari Lebaran. Saat takbir berkumandang di kompleks perumahan yang sepi, aku cukup bisa bergembira bersama suami dan dua orang anak. Mengobrol bersama. Bercerita tentang Lebaran. Bersenda gurau di ruang tengah kami.

Ternyata sedih itu tidak terlalu bergelayut di hati. Aku bisa bergembira bersama Ramadan dan Syawal, meskipun berpuasa dan berhari raya di perantauan, jauh dari kampung halaman. Bergerak saat sedih mungkin bisa dijadikan rumus untuk tetap bahagia, apapun kondisi yang sedang kita hadapi.

Bergerak itulah yang kulakukan bersama keluarga kecilku. Kami merencanakan beberapa kegiatan mengisi libur Lebaran. Anak pertama yang berusia sepuluh tahun yang awalnya sangat sedih tidak jadi mudik ke kampung neneknya menjadi antusias dengan agenda-agenda liburan kami.

Silahturahim ke rumah sepupuku di Jakarta. Berenang. Bermain ke arena permainan anak-anak. Makan siang bersama sekeluarga di luar. Bermain kartu uno bersama. Menyempatkan berfoto bersama. Itulah agenda libur Lebaran kami.

Kami berusaha melakukan kegiatan-kegiatan bersama sebagai sebuah keluarga, baik di dalam rumah atau di luar rumah. Perasaan gembira bisa hadir juga di hatiku, menggantikan perasaan sedih yang semakin terkikis habis. Merayakan Lebaran di perantauan bersama keluarga kecil bisa juga menghadirkan perasaan hangat dan bahagia di hati. 

Mungkin suatu saat kala kita bertemu dengan suasana sedih yang memang tidak dikehendaki maka yang perlu kita lakukan adalah terus bergerak. Mencari banyak kegiatan-kegiatan alternatif. Berdoa dan senantiasa berusaha perasaan sedih yang menggelayut di hati tergantikan oleh perasaan riang gembira.

Perasaan sedih yang hadir di hati layak kita terima sebagai sebuah perasaan alamiah. Perasaan yang bisa saja terjadi pada siapa saja. Namun, hendaknya jangan sampai perasaan sedih itu mendominasi ruang berfikir kita dan membuat kita menjadi stagnan, tidak bergerak.

Baca Juga  Tips Mengatur Waktu Seorang Ibu

Jangan sampai perasaan sedih itu mengalahkan produktivitas kita sebagai seorang ibu, istri atau anggota masyarakat. Bertemu dengan banyak orang akan membuka ruang perspektif kita bahwa setiap orang juga memiliki kondisi sedih masing-masing.

Mengisi hari dengan banyak aktivitas akan membuat otak kita teralihkan. Tidak terus setiap hari memikirkan perasaan sedih yang sedang bertamu dalam kehidupan kita. Aktivitas-aktivitas baru yang kita lakukan membuat kita menjadi berharga. Orang-orang baru yang kita temui membuat kita banyak belajar dari rangkaian peristiwa yang juga mereka lalui.

Nampaknya benar apa yang dikatakan oleh Allah melalui surat Al-Insyirah ayat 7-8 : “Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan Hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”. Jika kita selesai dengan sebuah pekerjaan, maka bergeraklah untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.

Jika perasaan sedih sedang bertamu dalam kehidupan kita maka bergeraklah menuju perasaan-perasaan lain yang bisa menggantikan perasaan sedih, jika sebuah kegiatan ternyata membuat kita bertambah sedih maka bergantilah kegiatan lain yang bisa menghadirkan perasaan riang gembira.

Tentu saja jangan lupa, berdoalah kepada Allah Swt. agar perasaan sedih itu bisa digantikan oleh perasaan riang dan gembira. Setelah kita melewatinya, kita akan tersenyum dan berterima kasih dengan diri sendiri sudah mampu kokoh dan kuat melewati rangkaian peristiwa hidup yang menghadirkan perasaan sedih.

Bagaimanapun kita adalah seorang manusia. Yang silih berganti dihadirkan oleh Allah Swt. perasaan sedih dan gembira. Maka tugas kita sebagai manusia adalah terus bergerak dan berdoa. Berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas yang lain. Berpindah dari satu perasaan ke perasaan yang lain. 

Bagikan
Post a Comment