Muslimah dan Dunia Perantauan
Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Menurut Imam al- Ghazali “menuntut ilmu merupakan taqwa, mengantarkan ilmu merupakan ibadah, mengulang ilmu merupakan dzikir, dan mencari ilmu merupakan jihad”. Perkataan beliau sangat memotivasi umat manusia terkhusus saya sebagai seorang muslimah yang sedang merantau. Muslimah yang berilmu akan mewarnai kehidupan ini dengan indah. Muslimah adalah salah satu makhluk istimewa yang Allah ciptakan untuk keberlangsungan generasi ini.
Istimewa seorang muslimah hingga namanya terdapat di al quran yakni surat an-nisa yang artinya wanita, secara umum tentang seorang muslimah. Selain itu keistimewaan muslimah yakni melahirkan generasi unggulan dan pemimpin bijaksana. Muslimah yang fasih dengan keilmuan akan mudah membentuk anak-anaknya menjadi sholeh sholehah. Oleh karena itu sangat tepatlah muslimah menuntut ilmu meskipun harus jauh dari rumah, desa, hingga di luar kota.
Kita Semua adalah Perantau
Perantauan adalah suatu tempat yang saya pilih untuk tinggal sementara. Selain itu menurut Naim (2013), merantau adalah meninggalkan kampung halaman atas kemauan sendiri, memiliki jangka waktu lama dengan tujuan tertentu, menuntut ilmu dan mencari pengalaman, namun suatu saat akan kembali pulang ke kampung halaman asalnya. Oleh karena itu seorang yang merantau memiliki pengalaman hidup yang lebih banyak dari pada orang yang menetap di tempat tinggalnya.
Imam Syafi’i menyebutkan bahwa, “tidak ada tempat bagi orang yang berakal dan beradab untuk beristirahat, tinggalkanlah tanah kelahiran dan mengasingkan diri lah”. Selain syair tersebut Imam Syai’i menyebutkan keutamaan dari merantau yakni: “Pergilah dari rumahmu untuk mencari keutamaan, dalam kepergianmu ada lima manfaat yaitu menghilangkan kesusahan, mencari bekal hidup, ilmu, tata krama, dan teman sejati, meskipun dalam bepergian pun terdapat hina dan terlunta-lunta, menembus belantara dan menerjang kepayahan-kepayahan”. Sebagai seorang muslimah yang menginginkan pendidikan tinggi haruslah berjuang untuk mencapainya.
Dunia Perantauan
Singkat cerita, ketika saya masih menyandang status pelajar di salah satu sekolah favorit di kabupaten Hulu Sungai Utara, tepatnya di akhir kelas XII saya mengikuti pendaftaran SPAN-PTKIN, alhamdulillah Allah SWT. bukakan pintu rezeki saya hingga lulus disalah satu perguruan tinggi pilihan saya yaitu Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Setelah mengetahui pengumuman tersebut saya segera memberitahu orangtua dan keluarga dengan perasaan yang bahagia. Namun respon mereka berbeda dengan ekspektasi saya, mereka kurang bahagia karena mereka sangat khawatir akan jauhnya anak perempuan mereka merantau. Akan tetapi, dari lubuk hati mereka sendiri ikut bersyukur atas kelulusan anaknya dengan jalur yang terbaik di kala itu.
Kekhawatiran mereka sangatlah wajar karena sebagai orangtua tentu berat hati melepas seorang putri jauh dari sisinya. Pertimbangan demi pertimbangan mereka pikirkan sebelum menyetujui dan merestui saya untuk merantau. Bertolak belakang dengan keinginan sebelumnya, saya memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Ibu kota Kalimantan selatan tersebut. Akan tetapi orangtua saya justru mendorong saya untuk tetap lanjut.
Pepatah berkata “kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya”. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim saya memberanikan diri melanjutkan pendidikan dan merantau jauh dari kota saya. Kesempatan tersebut tidak saya sia-siakan, hingga sekarang saya berada di semester lima dengan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam.
Dari cerita singkat tersebut perlu kita renungkan bahwa mengapa sih orang tua begitu khawatir terhadap putrinya yang merantau? Teman-teman semua tentu dapat menjawab pertanyaan tersebut. Dunia perantauan sangatlah beda dengan tempat tinggal sendiri, di perantauan kita akan menemukan banyak hal termasuk orang-orang yang baru kita kenal. Namun banyak hal positif juga yang akan di dapat dari dunia perantauan.
***
Selain relasi yang luas, anak rantauan belajar lebih mandiri, bijaksana dalam mengambil keputusan, bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar, belajar manajemen waktu. Menjaga pergaulan dan memfokuskan diri untuk menuntut ilmu karena Allah semata.
Dunia perantauan sendiri menjadi tantangan muslimah untuk menuntut ilmu dan juga menjaga kehormatan diri meskipun tidak dalam pengawasan orangtua. Menjaga amanah dan kepercayaan orang tua memang terlihat sepele, namun jika kita melanggarnya tidak hanya merugikan diri sendiri yang akan merasa sangat kecewa dan hilanglah kepercayaan mereka terhadap kita. Oleh karena itu, mari kita bermuhasabah diri merenungi perjuangan orangtua sehingga amanah yang mereka beri dapat kita ingat dan senantiasa meminta perlindungan kepada sang maha penolong Allah SWT.
Merantau adalah pilihan karena takdir terbaik dari Allah dan memberikan banyak hikmah pada kita semua. Namun hal tersebut harus kita sadari sedini mungkin agar perantauan yang kita pilih berfaedah. Menutup dari kisah ini, semoga pilihan yang kita tentukan merupakan jawaban dari takdir tuhan dan semoga setiap langkah kita direstui dan diridhoi Allah SWT.
Editor: Kholifatul Husna

Heldawati adalah seorang mahasiswi Bimbingan dan Penyuluhan Islam (BPI’19) di UIN Antasari Banjarmasin yang sedang menekuni kepenulisan dan aktivis dakwah di media sosial.
Suka menulis sejak SMP hingga sekarang. Membuat kata-kata adalah caranya menggambarkan perasaan diri sendiri ataupun menggambarkan orang lain berdasar curhatan mereka.
Facebook : Heldawatihelda
Instagram : heldawati14
