f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
cerai

Cegah Perceraian, Wujudkan Keluarga Impian

Membangun keluarga sakinah adalah impian bagi setiap pasangan, mengarungi bahtera rumah tangga dengan harmonis menjadi cita-cita yang selalu ingin terwujud. Sayangnya tidak bisa kita pungkiri, rumah tangga yang harmonis tidak selalu dapat setiap pasangan suami istri jalankan. Pertengkaran menjadi warna tersendiri bagi pernikahan itu. Lantas apabila konflik dalam rumah tangga tidak segera selesai dan terus berlarut-larut maka kemungkinan yang paling buruk sewaktu membangun rumah tangga itu sendiri adalah berujung pada perceraian.

Fakta dan Data Perceraian di Indonesia

Data di Indonesia menyebutkan angka perceraian mencapai 5, 89% pada tahun 2015, dengan jumlah perceraian sebanyak 3,9 juta dari total 67,2 juta rumah tangga. Kemudian mengalami kenaikan sebesar 6,4% pada tahun 2020 dengan jumlah perceraian 4,7 juta dari 72,9 juta rumah tangga.[1] Hal yang lebih mencengangkan di ungkapkan oleh guru besar IPB University Euis Sunarti bahwasanya setiap 1 jam terdapat 50 kasus perceraian.[2] Hal tersebut menurut data yang terlapor saja, sedangkan data yang tidak terlapor masih sangat banyak. Tentu hal ini menjadi fakta yang cukup miris. Karena sudah menyimpang dari tujuan pernikahan itu sendiri yang mana di dalam islam pernikahan adalah ibadah jangka panjang yang nanti tanggung jawabnya di dunia hingga akhirat. Dari data yang terpaparkan tadi memunculkan tiga faktor utama perceraian. Yaitu berupa faktor ekonomi, faktor pasangan yang meninggalkan secara sepihak, dan faktor konflik yang berkelanjutan.

Fakta di lapangan ini membuat keresahan tersendiri bagi pasangan yang ingin melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan. Karena kecemasan tersendiri akan fakta perceraian. Maka dari itu, berbagai upaya untuk mencegah terjadinya kecemasaan akan perceraian setelah menikah dan untuk meminimalisir keputusan pasangan agar tidak sampai bercerai. Sebenarnya adanya konflik dalam rumah tangga sendiri adalah hal yang wajar sebagai bumbu-bumbu dari pernikahan itu. Adapun upaya yang harus pasangan jalankan yang ingin menikah ialah menerapkan pemahaman, edukasi mental pranikah.

Baca Juga  Menikah Menggapai Sakinah atau Sikkinah

Kebanyakan orang berpikir bahwa materi, kemapanan pasangan adalah faktor utama melangkah menjalankan biduk rumah tangga. Ya, memang benar begitu, namun hal seperti itu merupakan faktor kesekian. Sering kali faktor kesiapan mental dinomorsekiankan bahkan diabaikan, sedangkan faktor kesiapan mental merupakan pondasi dasar membangun keluarga yang sehat.

Mental pranikah sendiri adalah persiapan yang oleh pasangan jalankan berupa kesiapan psikis. Untuk menjalani bahtera rumah selain persiapan finansial, materi, fisik. Tujuan dari persiapan mental pranikah adalah nantinya pasangan harapkan dapat menjalankan rumah tangga dengan kesiapan lahir dan batin.

Badan-badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah meluncurkan situs siapnikah.org. untuk memberikan pengarahan kepada calon pengantin sebelum melaksanakan pernikahan. Hal tersebut dapat menjadi alternatif pasangan mendapat informasi mengenai persiapan pranikah. Selain dari itu persiapan mental pranikah calon pengantin adalah:

Persiapan Mental Pranikah
  • Mengetahui tujuan menikah, banyak orang yang salah mengartikan tujuan menikah. Rata- rata dari mereka beranggapan bahwa menikah adalah akhir dari kisah cinta, suatu puncak pencapaian. Padahal menikah merupakan awal dari perjuangan baru bagi kehidupan dua sejoli, mengabungkan perbedaan dalam satu wadah bukanlah hal yang mudah. Sama halnya dengan pasangan, dengan memutuskan menikah pasangan akan menyatu dalam satu elemen dan ikatan yang mana harus dapat saling menghormati, menghargai dan saling menerima perbedaan antara keduanya.
  • Berkonsultasi kepada ahli, sebelum menikah hendaknya pasangan menerima nasihat-nasihat pernikahan dari para ahli. Seperti pergi ke psikolog untuk mendapat bimbingan dan dukungan psikis. Sebab mendapatkan motivasi dan semangat akan memberikan efek baik bagi jiwa calon pengantin. Selain pergi ke psikolog atau semacamnya para calon pengantin juga dapat meminta wejangan kepada orang tua atau sesepuh karena jelas secara pengalaman mereka lebih banyak. Mengarungi asam manisnya kehidupan.
  • Persiapan mental pranikah selanjutnya berhubungan dengan pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi. Hal ini penting karena tentu salah satu harapan pasangan setelah menikah adalah dapat mempunyai keturunan yang sehat jasmani maupun rohani. Anak sendiri adalah tanggung jawab yang besar. Sehingga sebelum mengemban tanggung jawab besar itu penting sebagai kesiapan mental menjadi orang tua. Namun, jangan salah mengartikan bahwa menikah itu hanya untuk sekedar meneruskan keturunan loh.
  • Pemahaman mental pranikah selanjutnya adalah mengenai bagaimana membangun keluarga harmonis tersebut yang berlangsung lama atau langgeng. Sering kali di awal pernikahan memang pasangan suami istri akan terlihat sangat romantis. Namun sebenarnya tantangan terbesar di sini adalah dapat melanggengkan rumah tangga yang harmonis. Karena hidup bersama sering kali akan membuat pasangan merasa bosan.
Baca Juga  Melihat Drama Korea “The World Of The Married” Sebagai KDRT Berlanjut
***

Maka, tugas tiap-tiap pasangan adalah bagaimana dapat mengubah rasa bosan kepada pasangan karena konflik-konflik terjadi menjadi rasa saling ikhlas, memafkan. Karena sejatinya ketika sejoli memutuskan untuk menikah, itu artinya mereka menyanggupi dan menerima kelebihan dan kekurangan pasangan sehingga dapat saling melengkapi satu sama lain.

Dari pemaparan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa menikah adalah ibadah bersama dengan tanggung jawab di dunia akhirat. Keluarga yang harmonis dapat terwujud dengan konstribusi bersama antara kedua pasangan. Psikis yang baik, kesiapan metal adalah hal pokok yang penting bagi setiap pasangan. Harapanya setiap pasangan dapat saling mengembang tanggung jawab hingga akhirat dengan baik dan rumah tangga berjalan langgeng serta harmonis.


[1] Lokadata ”Perceraian di Indonesia terus meningkat” https://lokadata.id/artikel/perceraian-di-indonesia-terus-meningkat.

[2] MediaIndonesia”1Jamterdapat50kasusperceraian”https://mediaindonesia.com/humaniora/416363/guru-besar-ipb-setiap-1-jam-terdapat-50-kasus-perceraian-di-indonesia.

Bagikan
Post a Comment