Pentingnya Mengajarkan Anak-Anak Hidup Mandiri
Menyimak obrolan di grup orang tua pagi itu, membuat saya merasa sangat terharu. Ibu dari kating anak saya yang mendapatkan beasiswa pascasarjana di salah satu negara Eropa, menceritakan kondisi anaknya yang baru saja sembuh dari Covid. Sang ibu menceritakan kesedihan hatinya karena tidak bisa merawat, saat anaknya sakit dan “terlantar” di negeri orang.
Terus terang saya kagum dengan kating anak saya ini, yang notabene anak perempuan tapi tetap tenang dan kuat menghadapi badai Covid di perantauan “sendirian”. Ia sendirian, karena teman-temannya dari Indonesia juga banyak yang terkena Covid, di saat yang hampir bersamaan.
Sang ibu bercerita, saat itu cuaca di sana sedang summer, tapi bila hujan bisa sangat deras. Ini yang menyebabkan anak-anak dari negara tropis tidak kuat, sehingga banyak yang sakit. Padahal anaknya sudah vaksin Pfizer sekali, tapi sebelum vaksin yang kedua malah terkena Covid. Kondisi anaknya saat sakit, masuk dalam kategori sedang berat. Selama 3 hari napasnya sesak, batuk terus-menerus, dengan suhu tubuh 38,8℃.
Dalam kondisi demikian sang anak masih harus melakukan apa-apa sendiri, termasuk untuk urusan makan. Order makanan online di sana tidak semudah dan secepat di Indonesia, sehingga dalam kondisi sakit pun masih berusaha masak sendiri. Untuk pergi ke dokter yang berjarak sekitar 4 km dari asrama juga harus sendiri, dan itu pun harus dengan berjalan kaki.
***
Kasus Covid di negara tersebut mencapai lebih dari 25 ribu orang per hari, tapi pemerintahnya tidak menjadikan kasus Covid sebagai prioritas. Mereka menganggap Covid seperti flu biasa, sehingga protokol kesehatan pun terabaikan. Penduduknya jarang yang memakai masker. Semua toko, pasar dan pusat keramaian buka seperti biasa. Fasilitas transportasi seperti kereta pun masih berjubel. Isolasi mandiri bagi pendatang maupun warga yang sakit, berlangsung tanpa pengawasan, dan tidak mendapat fasilitas apa-apa. Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain negara lain pula penanganannya.
Yang membuat saya kagum adalah ketenangan dan kekuatan anaknya untuk survive dalam keadaan sakit. Saya yakin anak ini pasti memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab pribadi yang tinggi, serta sudah terbiasa hidup mandiri. Ibunya bercerita bahwa anaknya tetap rajin pakai masker di antara orang-orang yang tidak memakai masker. Bahkan dia rela dipandang aneh ketika berada di tempat umum, karena menggunakan masker dobel. Dan setelah sembuh pun langsung pergi kuliah, sambil mengerjakan tugas sebagai asisten dosen. Sungguh luar biasa. Semangatnya untuk sembuh dan segera bisa beraktivitas kembali.
Saya bisa membayangkan rasa kuatir dan cemas orang tuanya saat kejadian tersebut. Saya sendiri belum pernah merasakan bagaimana rasanya jauh dari anak-anak. Anak pertama saya yang diterima kuliah di Bandung tahun kemarin, hingga saat ini belum pernah sekalipun menginjakkan kakinya di kampus. Semua program pengenalan, masa orientasi dan kuliah berlangsung secara daring. Tempat kost yang sudah di-booking tahun lalu, sama sekali belum pernah kami kunjungi. Kami hanya memberikan DP pada pemiliknya selama 6 bulan sebagai jaminan, tapi entah kapan bisa ditempati.
***
Saking senangnya dia diterima di Bandung sekitar bulan Agustus tahun lalu, saya dan suami langsung heboh dengan berbagai persiapan. Sebagai orang tua, pastinya kami ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak. Saya minta tolong teman di Bandung untuk mencarikan tempat kost dengan fasilitas yang memadai. Yang lokasi kostnya yang dekat dengan kampus dan mudah mencari makanan. Saya juga minta lingkungan kost yang baik, dan berupaya agar teman-teman kostnya dari kampus yang sama. Setelah mendapat tempat kost yang sesuai dengan kriteria, saya mulai mempersiapkan barang-barang kost yang akan ia bawa.
Perlengkapan makan, perlengkapan mandi, perlengkapan kamar belajar dan baju-baju kuliah sudah saya siapkan. Ketika akhirnya kampusnya mengumumkan kuliah daring karena pandemi, diam-diam saya merasa bersyukur. Paling tidak saya masih punya kesempatan mendampingi aktivitasnya, selama beberapa bulan. Saya yakin itu juga yang para orang tua rasakan khususnya kaum ibu, ketika anak-anaknya beranjak dewasa.
Di saat anak-anak sudah harus mandiri dan berpisah dengan orang tua, rasa takut kehilangan itu pasti ada. Tapi itulah realitas yang harus kita hadapi, tidak selamanya anak-anak akan terus kita dampingi. Jadi sangat penting menyiapkan anak-anak untuk hidup mandiri, agar bisa survive dalam berbagai kondisi.
***
Salah satu cara untuk menyiapkan mereka adalah berbagi pengalaman hidup mandiri, saat saya dan suami kuliah dulu. Berbagai masalah yang mungkin terjadi sebagai mahasiswa yang jauh dari keluarga, tips dan trik untuk mengatasinya. Sangat penting bagi mereka untuk memiliki kedisiplinan dan tanggung jawab pribadi, agar bisa menjadi seorang survival di perantauan. Bagaimana mengatur waktu kuliah, mengerjakan tugas-tugas kuliah, mengikuti berbagai kegiatan di kampus, sholat, makan dan tidur. Dan di sela-sela waktu itu masih harus menyempatkan diri untuk membersihkan kamar, menyiapkan perlengkapan pribadi, bersosialisasi dan melakukan berbagai kegiatan positif lainnya.
Kecanggihan teknologi saat ini pastinya memberikan lebih banyak kemudahan daripada ketika masa kuliah kami dulu. Makanan tinggal order datang sendiri, cuci baju bila tidak sempat bisa ke laundry, akses internet bisa lebih cepat dengan wifi, handphone selalu siap untuk segala kebutuhan komunikasi.
Walaupun semua sudah dipersiapkan dengan baik, saya tetap mengajarkan anak-anak untuk siap dalam keadaan darurat. Paling tidak, mereka bisa mencuci dan menyetrika baju sendiri, membersihkan kamar, memasak nasi dengan lauk sederhana. Selain itu penting bagi mereka untuk menjaga kesehatan, serta memahami bagaimana melakukan pertolongan pertama ketika sakit.
***
Dan kami selalu menekankan kepada anak-anak, untuk tidak meninggalkan sholat dalam kondisi apapun. Shalat sebagai pengingat kita kepada Allah SWT seperti yang dituliskan dalam Surat Ta Ha ayat 14, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” Sholat juga sebagai tiang agama seperti yang disebutkan dalam hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Baihaqi. “Shalat itu adalah tiang agama, maka barangsiapa mendirikannya maka sungguh ia telah mendirikan agama; dan barangsiapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah merubuhkan agama”.
Di balik kesuksesan anak-anak yang hebat pasti ada peran orang tua, yang selalu mendukung anak-anaknya dengan doa, kasih sayang dan pengorbanan tiada batas. Orang tua akan selalu mendukung anak-anaknya untuk menuntut ilmu setinggi langit, dan mencari pengalaman dengan mengarungi luasnya samudra kehidupan. Ilmu dan pengalaman akan menempa mereka menjadi anak-anak yang kuat, tangguh dan survive menghadapi berbagai tantangan. Membekali diri dengan kedisiplinan dan tanggung jawab, serta menjadikan sholat sebagai kewajiban yang tidak boleh tertinggalkan. (IkS)
ASN – Humas di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
