Sawang Sinawang
Anak dari seorang veteran itu sejak balita ditinggal wafat ibunya. Ia menjadi orang penting di jajaran pertamina pusat yang gaji bulanannya saja kadang tidak sempat diambil pada setiap bulannya; karena banyak penghasilan dari sumber keuangan lainnya. Kalau saja saat itu ibunya masih hidup, pasti bahagia melihat anaknya sukses.
Kang Manji biasa dipanggil, sangat patuh dan berbakti pada orang tua, apapun kata ayahnya pasti dituruti. Banyak pengalaman keliling ke berbagai daerah dan negara. Pada saat bercerita tentang pengalaman kunjungan kerjanya ke penulis, dengan sumringah sang ayah bersemangat; dan selalu pengalaman itu menjadi obrolan sang ayah dengan para tetangga atau siapapun yang ditemuinya untuk menceritakan keberhasilan anaknya.
Pada kartu namanya dicantumkan nama sang ayah di belakang namanya; sebagai rasa cinta kasih pada orang tua. Penulis masih ingat saat itu tahun 1990, tertera nama Manji Abdullah Sanawi, SH. Beliau dekat dengan para kyai bahkan rumahnya yang di Jakarta berdekatan dengan pondok pesantren yang diasuh oleh KH. Jayadi Klender Jakarta Utara.
*
Di pondok pesantren Al Ziyadah itu, Kang Manji ditunjuk sebagai muazin di sana. Walau hidup di kota metropolitan, namun kesan agamis sangat kentara sekali; seluruh keluarganya diberangkatkan umroh dan tiap sore di rumahnya didatangkan guru ngaji untuk pendidikan agama bagi anak-anaknya.
Beliau sangat memperhatikan kesejahteraan para kyai kampung dan guru ngaji. Kang Manji dikenal suka berderma murah senyum dan suka tertawa, kalau ngobrol bisa berjam-jam tidak pernah habis kata-kata dan selalu membuat tema yang segar dan kekinian. Karena tuntutan pekerjaan sebagai kepala bagian bidang Pertanahan beliau meneruskan studi S-2 jurusan kenotariatan di Universitas Indonesia.
Dia intelek dan kritis dengan gaya bahasa yang ringan namun berbobot siapapun bisa memahami pembicaraanya, dia akrab dengan semua kalangan. Sejak muda, hobinya bersosial, tak pernah kelihatan pusing pada raut mukanya, ia selalu ceria dan bahagia, penulis kagum dengannya. Sejak penulis kecil, di mata penulis ia pasangan bahagia selalu, itu disampaikan pada Minggu, 28 Maret 2021 ditemani istri tercintanya yayu Heni, “wong iku sawang sinawang (hanya kelihatannya saja).”
Apa yang dilihatnya belum tentu seperti apa yang dirasakanya, kata orang tidak pernah ada masalah tetapi sesungguhnya banyak masalah.
*
Dalam perjalanan kariernya di tahun 70an ia merantau ke Jakarta, kuliah UI sambil kerja. Ia menjadi laki-laki yang sukses bekerja sebagai pegawai di BUMN “Pertamina”. Sebuah perusahaan bergengsi pada era 90an dan menduduki pejabat penting di kantornya; di Jakarta menjadi kebanggaan tersendiri karena membawa berkah di kampung halamannya Desa Kalisapu Cirebon.
Ketika beliau pulang kampung selalu berbagi dengan saudara-saudaranya. Orang yang mengenalnya selalu meninggalkan kesan menyenangkan apalagi untuk berdiskusi dan bertukar pengalaman; sangat terbuka untuk siapa saja dan selalu saling berbagi dalam setiap kenikmatan yang dirasakan.
Beliau orang yang taat beribadah dan selalu bersyukur kepada Allah Swt ketika mendapat kenikmatan; entah itu kenaikan pangkat maupun mendapat keberhasilan maksud dan tujuan di rumahnya diadakan manakib Syekh Abdul Qodir Al Jaelani.
Qur’an Bodol
Perhelatan pemilu 2009 membuatnya tertarik untuk mendaftar calon legislatif di partai Islam yaitu PKB; dengan mengurus berbagai persyaratan akhirnya resmilah menjadi Caleg DPRD Kabupaten Cirebon. Tentu dengan berbagai macam dinamika yang dialami yang sebelumnya di dunia kerja pasti belum pernah dirasakan dan di dunia politik.
Walaupun saat itu bukan menggunakan sistem nomor urut tapi dengan menggunakan suara terbanyak; akan tetapi mendapat nomor awal adalah sebuah gengsi. Oleh karenanya ia kesana kemari mencari dukungan saat penomoran, agar bisa memperoleh posisi nomor strategis (nomor peci) menghindari nomor sepatu. Walaupun pada akhirnya, setelah melalui proses pemilu gagal menuju gedung parlemen. Setidaknya bisa mengambil hikmah dari pencalegan, bahwa itu bukan tempatnya.
Sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya orang ketika masuk dunia politik hampir pasti akan terbawa dinamika yang memaksa merubah sikap. Sampai oleh karena perebutan nomor muncul kalimat “Qur’an bodol”; untuk menisbatkan orang pinter ngaji tapi tidak diterapkan ahlak Qur’annya karena politik. Pengalaman nyaleg membuatnya tidak mau lagi terjun dunia politik pada pemilu berikutnya.
Saat pensiun dari pekerjaanya di Pertamina Jakarta, beliau kembali ke Cirebon menetap di kampung istrinya Pasar Minggu Palimanan dan buka usaha studio foto, pernah juga menjadi Dosen Univeristas Nahdlatul Ulama Cirebon serta aktif di LBHNU Kab.Cirebon.
Menjelang wafatnya beliau sedang rajin setor hafalan Al Qur’an pada KH.Lukman Pengasuh Ponpes Assalafie Babakan Ciwaringin beliau wafat Sabtu, 24 Juli 2021.
Akhmad Aflaha (Aflaha Kopi Subuh), lahir di Cirebon, tepatnya di Desa Kalisapu, Kecamatan Gunung Jati Kabupaten Cirebon pada Tanggal 06 April 1974, anak ke tiga dari tujuh bersaudara.Setelah menamatkan Sekolah Dasar Wates Binong, SMP Tri Dharma Pamanukan, SMA Angkasa Kalijati, Universitas Terbuka Bandung Fakultas Ekonomi Prodi Ekonomi Studi Pembangunan (S1), STIE Yasmi Cirebon Jurusan Manajemen (S1) dilanjutkan menimba ilmu di Magister Manajemen (S2) Unissula Semarang, dan saat ini sedang mengikuti Program Doktoral Ilmu Manajemen Pendidikan (S3) di Uninus Bandung semester Akhir. Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Ali Cirebon, Kaprodi Perbankan Syari’ah 2019 sampai dengan sekarang, Tenaga Ahli DPRD Kabupaten Cirebon Tahun 2019 sampai dengan sekarang.
