f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
suami istri keluarga sakinah

Unsur-Unsur Keluarga Sakinah ; Desain Keluarga Sakinah (2)

Dari uraian tulisan sebelumnya dapat dipahami bahwa ciri utama keluarga sakînah adalah adanya cinta dan kasih sayang atau mawadah wa rahmah dengan tujuan akhir adalah mardhatillâh. Hal ini sesuai dengan naluri manusia yang ingin memberikan dan menerima cinta kasih. Maka dalam keluarga sakînah, cinta dan kasih sayang benar-benar terjalin kuat, baik antara suami dengan istri atau sebaliknya, antara keduanya dengan anak-anaknya, serta antara anggota keluarga tersebut dengan keluarga yang ada di lingkungannya. Dengan demikian,nulis, terdapat faktor-faktor lain yang me menjadi karakteristik dari keluarga sakinah;

1. Lurusnya Niat (Islâh al-Niyyah)

Menikah merupakan upaya menjaga kehormatan dan kesucian diri; artinya seorang yang telah menikah semestinya lebih terjaga dari perangkap zina dan mampu mengendalikan syahwatnya. Menikah juga merupakan tangga kedua setelah pembentukan pribadi muslim (syakhsiyah islamiyah) dalam tahapan amal dakwah; artinya menjadikan keluarga sebagai ladang beramal dalam rangka membentuk keluarga muslim teladan (usrah islami) yang diwarnai akhlak Islam dalam segala aktivitas dan interaksi seluruh anggota keluarga, sehingga mampu menjadi rahmatan li al-âlamîn bagi masyarakat sekitarnya. Dengan adanya keluarga-keluarga muslim pembawa rahmat diharapkan dapat terwujud komunitas dan lingkungan masyarakat yang sejahtera.

Sehingga lurusnya niat untuk ibadah (islâh al-niyyah li ibadah) menjadikan hubungan yang kuat dengan Allah dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), sebagaimana Allah tegaskan dalam QS. al-Ra‟d (11): 28.  اَلَا بِذِکۡرِ اللَّهِ تَطۡمَئِنُّ الۡقُلُوۡبُ “Ketahuilah dengan mengingat Allah, hati akan menjadi tenang”. Keberhasilan dalam meniti kehidupan rumah tangga sangat dipengaruhi oleh keteguhan hati, ketenangan jiwa, yang bergantung hanya kepada Allah saja (ta‟alluq bi(a)llah). Tanpa adanya kedekatan hubungan dengan Allah, mustahil seseorang dapat mewujudkan tuntutan-tuntutan besar dalam kehidupan rumah tangga.

2. Kasih sayang (al-Ḥabbu)

Munculnya cinta karena Allah Swt. disebabkan karena setiap anggota kelurga memiliki keimanan dan melakukan ketaatan-ketaatan kepada-Nya. Jika ada yang tidak disukainya dari salah satu anggota keluarga; hal itu karena ia tidak rela melihat salah satu anggota kelurganya melakukan kemaksiatan dan kemungkaran kepada Allah Swt.

Rasulullah saw. bersabda,“Siapa saja yang memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, berarti ia telah sempurna imannya” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan). Dalam proses perwujudan keluarga sakinan dan pendidikan keluarga, ikatan kasih sayang antara anak dan orang tua ini mempunyai peran yang sangat penting. Curahan kasih sayang yang diberikan orang tua dapat menciptakan kesan yang sangat kuat di dalam hati dan benak anak. Persaaan kasih inilah yang berperan membentuk jiwa, sekaligus membangun kepribadiannya.

Baca Juga  5 Cara Mencegah Prahara Rumah Tangga
3. Saling terbuka (Mushârohah)

Secara fisik suami istri telah dihalalkan oleh Allah Swt. untuk saling terbuka saat jima‟, padahal sebelum menikah hal itu adalah sesuatu yang diharamkan. Maka hakikatnya keterbukaan itu pun harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu’ur), pemikiran (fikrah), sikap (mauqif), dan tingkah laku (akhlâq); sehingga masing-masing dapat secara utuh mengenal hakikat kepribadian suami-isterinya dan dapat memupuk sikap saling percaya (tsiqoh).

Hal itu dapat dicapai bila suami/istri saling terbuka dalam segala hal menyangkut perasaan dan keinginan, ide dan pendapat, serta sifat dan kepribadian. Jangan sampai terjadi seorang suami/istri memendam perasaan tidak enak kepada pasangannya karena prasangka buruk, atau karena kelemahan/kesalahan yang ada pada suami/istri. Jika hal yang demikian terjadi hendaknya suami/istri segera introspeksi(bermuhâsabah) dan mengklarifikasi penyebab masalah atas dasar cinta dan kasih sayang, selanjutnya mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya. Namun apabila perasaan tidak enak itu dibiarkan maka dapat menyebabkan interaksi suami/istri menjadi tidak sehat dan potensial menjadi sumber konflik berkepanjangan.

4. Bijak (Mu’âsyarah bil Ma’rûf)

Sikap yang santun dan bijak merupakan cermin dari kondisi ruhiyah yang mapan. Ketika kondisi ruhiyah seseorang labil maka kecenderungannya ia akan bersikap emosional dan marah-marah, sebab setan akan sangat mudah mempengaruhinya. Oleh karena itu Rasulullah saw. mengingatkan secara berulang-ulang agar jangan marah (lâ tagdlob).

Bila muncul amarah karena sebab-sebab pribadi, segeralah menahan diri dengan beristigfar dan mohon perlindungan Allah (ta’awudz billâh), bila masih merasa marah hendaknya berwudlu dan mendirikan shalat. Namun bila muncul marah karena sebab orang lain, berusahalah tetap menahan diri dan berilah maaf, karena Allah menyukai orang yang suka memaafkan. Bila karena sesuatu hal, suami/istri telanjur marah kepada anak/isteri/suami; segeralah minta ma‟af dan berbuat baiklah sehingga kesan (atsar) buruk dari marah dapat hilang. Sesungguhnya dampak dari kemarahan sangat tidak baik bagi jiwa orang yang marah dan yang dimarahi.

Baca Juga  Tak Seperti yang Dikatakan Atta, Kita adalah Suami yang Sewajarnya
5. Komunikasi dan musyawarah (al-Musyawarah)

Pernikahan adalah menyatukan dua orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda dan dua keluarga yang berbeda. Karena itu, suam-istri perlu saling memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing; serta menerimanya dengan lapang dada tanpa ada penyesalan yang berkepanjangan. Kadangkala suami mempunyai kelebihan dalam kemampuan berkomunikasi, sedangkan istrinya kurang. Sebaliknya, istri memiliki kemampuan manajemen, sedangkan suaminya lemah. Kelebihan yang ada pada salah satu pasangan tidak menunjukkan ketinggian orang tersebut. Ddemikian juga kekurangan yang ada pada seseorang tidak menunjukkan dia rendah. Tinggi rendahnya manusia di sisi Allah Swt. adalah karena ketakwaannya seperti digariskan, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ QS al-Hujurat [49]: 13).

Saling memahami akan menjadikan suami-istri berempati terhadap pasangannya sehingga tidak mudah saling berburuk sangka. Sikap saling empati/memahami tidak berarti toleran terhadap kesalahan dan kelemahan yang dapat merugikan pasangannya. Namun, sikap ini memudahkan suami-istri untuk berpikir jernih sebelum memberikan pendapat, kesimpulan maupun penilaian.

Kejernihan berpikir akan dapat memudahkan seseorang untuk bersikap dengan tepat dan benar terhadap pasangannya. Dengan itu, masing-masing akan terhindar dari kesalahpahaman yang memunculkan perselisihan dan pertengkaran. Keluarga sangat besar pengaruh dan peranannya dalam mewujudkan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak, terutama peran ayah (suami). Dalam keluarga sakinah, seorang ayah adalah ia yang mempu mewujudkan suasana keluarga yang harmonis dan komunikatif; sehingga tercipta komunikasi yang dialogis antara orang tua dan anak.

Menurut Hasan Basri, komunikasi dalam keluarga memeiliki beberapa fungsi. Pertama, sarana untuk mengungkapkan kasih sayang; kedua, media untuk menyatakan penerimaan atau penolakan atas pendapat yang disampaikan; ketiga, sarana untuk menambah keakraban hubungan sesama anggota keluarga; dan keempat, menjadi barometer bagi baik-buruknya kegiatan komunikasi dalam sebuah keluarga.

Baca Juga  Tentang Menempatkan Anggota Keluarga Sebagai "Subjek"
6. Toleran (Tasâmuh)

Dua insan yang berbeda latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup bersatu dalam pernikahan, tentunya akan menimbulkan terjadinya perbedaan-perbedaan dalam cara berfikir, memandang suatu permasalahan, cara bersikap/bertindak, juga selera (makanan, pakaian, dsb). Potensi perbedaan tersebut apabila tidak disikapi dengan sikap toleran (tasâmuh) dapat menjadi sumber konflik/perdebatan.

Oleh karena itu masing-masing suami/isteri harus mengenali dan menyadari kelemahan dan kelebihan pasangannya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya. Layaknya sebagai pakaian maka suami/isteri harus mampu mempercantik penampilan, artinya berusaha memupuk kebaikan yang ada (capacity building); dan menutup aurat artinya berupaya meminimalisir kekurangan yang ada, seperti yang Allah sebutkan هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ  ۗ(QS. Al-Baqarah (2):187).

7. Sabar dan syukur

Dengan kesadaran awal bahwa suami/istri dan anak-anak dapat berpeluang menjadi musuh, maka sepatutnya suami/istri berbekal diri dengan kesabaran, يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ (QS al-Taghâbun (64):14). Bagian dari kesabaran adalah keridhaan menerima kelemahan/kekurangan pasangan suami/isteri yang memang diluar kesanggupannya.

Penerimaan terhadap suami/isteri harus penuh sebagai satu “paket”, dia dengan segala hal yang melekat pada dirinya, adalah hal yang harus diterima secara utuh. Begitupun penerimaan orang tua kepada anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya. Kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang fundamental (asâsî) untuk mencapai keberkahan, sebagaimana ungkapan berikut: “Pernikahan adalah fakultas kesabaran dari universitas kehidupan”.

Mereka yang lulus dari fakultas kesabaran akan meraih banyak keberkahan. Syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga. Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah lewat jerih payah suami seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami tanpa perlu membanding-bandingkan dengan suami orang lain, adalah modal mahal dalam meraih keberkahan. Begitupun syukur terhadap keberadaan anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya, adalah modal masa depan yang harus dipersiapkan. Dalam keluarga harus dihidupkan semangat “memberi” kebaikan, bukan semangat “menuntut” kebaikan, sehingga akan terjadi surplus kebaikan. Inilah wujud tambahnya kenikmatan dari Allah.

Bagikan
Post a Comment