f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
postfeminisme

Postfeminisme: Harapan Baru Perjuangan Perempuan Indonesia

Postfeminisme merupakan pandangan lanjutan dari feminisme konvensional. Postfeminisme memiliki perbedaan mendasar dengan feminisme (konvensional) yang cenderung melihat segala ketidakseimbangan dari hubungan laki-laki  dan perempuan sebagai ulah mutlak laki-laki. Begitupula dalam hal menganalisis segala tindakan perempuan yang dianggap sebagai bagian dari budaya patriarki. Misalnya, ketika perempuan berusaha berpenampilan cantik selalu dipandang sebagai objek atau ditujukan untuk memuaskan mata laki-laki. Singkatnya, perempuan berpenampilan cantik dilihat sebagai pemuas hasrat laki-laki semata (Sofyan, 2018).

Pandangan postfemienisme jauh berkembang dan lebih progresif. Berbeda dengan feminsime (konvensional), postfeminisme memandang tindakan perempuan tidak selamanya akibat dari kuasa laki-laki (Sofyan, 2018). Perempuan dalam pandangan postfeminisme merupakan subjek yang mampu melakukan segala tindakannya secara mandiri dan untuk kepuasannya sendiri. 

Postfememinisme bisa kita katakan sebagai pandangan feminisme yang lebih optimis dalam melihat perempuan. Perempuan dalam pandangan postfeminisme sudah menyesuaikan diri dengan kondisi postmodern saat ini. Perempuan mulai melakukan tindakannya atas orientasi kebebasannya sendiri dan mulai memahami porsi relasinya dengan laki-laki. Sehingga, bentuk penindasan dan diskriminasi budaya patriarki mulai perempuan tangkis.

***

Dalam perspektif postfeminisme, upaya perempuan menunjukkan kemolekan dan keindahan atas dirinya ditujukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk memuaskan hasrat laki-laki. Selain itu, postfeminisme juga memandang bahwa perempuan mulai paham porsi-porsi kekuasaan dan kebebasannya atas pembagian dengan laki-laki yang biasa disebut dengan relasi gender. Relasi Gender mengindikasikan adanya kesetaran hubungan interaksional antara perempuan dan laki-laki dalam realitas sosial (Fakih, 1996)

Jika melihat sejarah perkembangannya, postfeminisme mulai muncul sekitar tahun 1920 yang dalam substansi analisisnya mulai membuka pembelaan terhadap perempuan, bahwa tidak harus anti terhadap laki-laki. Namun, pada awal kemunculannya yang dianggap tidak sesuai dengan kondisi diskriminasi terhadap konidisi perempuan pada masa itu, maka pandangan ini redup dengan sendirinya. Muncul kembali pada tahun 1980an dengan makna yang beragam.

Baca Juga  Benarkah Keberkahan Rezeki Hilang Saat Istri Membantu Ekonomi Keluarga?

Menurut Gill dan Scharff dalam Suwastini (2013), bahwa sedikitnya terdapat empat pengertian dari postfeminisme itu sendiri. Pertama, postfeminisme merupakan titik temu antara feminsime dengan postmodernisme, poststrukturalisme, dan postkolonialisme yang berarti bahwa postfeminime merupakan kajian yang lebih kritis terhadap feminisme.

Pengertian kedua ialah postfeminsime merupakan sebuah perayaan kematian feminisme dengan mulai tercapainya tujuan-tujuan baru feminisme. Sehingga, feminisme tidak relevan lagi menjadi sebuah kajian, dan postfeminisme hadir untuk menjadi reingkarnasi dari feminisme itu sendiri.

Pengertian ketiga ialah postfeminisme sebagai bentuk perang terhadap feminisme melalu media massa dan budaya populer. Postfeminsime memanfaatkan media massa dan budaya populer sebagai prantara penyebaran propaganda untuk menjelek-jelekkan perempuan yang telah teremansipasi.

Pengertian keempat adalah  postfeminisme sebagai sensibilitas. Artinya adalah postfeminisme mengartikulasikan kembali atau meredefinisi konsep-konsep feminsime dengan adanya peralihan femininitas sebagai bagian dari tubuh dan perubahan fokus perempuan sebagai objek ke perempuan sebagai subjek (Suwastini, 2013).

***

Keempat pengertian di atas menunjukkan bahwa postfeminisme merupakan bentuk kebaruan dari feminisme dalam mengkaji persoalan perempuan di dunia secara progresif dan kritis. Sehingga, kajian tentang perempuan tidak berhenti pada kajian konvensional yang nantinya bisa menjadikan perempuan kembali pada ketertindasan. Postfeminisme hadir sebagai kajian postmodern yang tentunya berpihak pada perempuan.

Lalu, bagaimana kondisi perempuan di Indonesia atau di sekitar kita? Apakah mereka sudah layak masuk dalam kajian postfeminist itu sendiri? Rasanya masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup penting untuk kita kaji dan kritisi. Sebab, pandangan tentang feminisme saja masih sukar dan sedikit generasi muda yang paham dengannya.

Banyak kita temui pemuda perempuan yang pesimis dan menyerahkan kodrat keperempuannya kepada laki-laki sebagai bentuk kelemahan. Perempuan seakan ikut terlena dengan kondisi budaya patriarki yang tidak pernah mau mengalah.

Baca Juga  Merawat Akar Pendidikan

Berfikir kritis dan mendobrak budaya membutuhkan pemahaman serta konstruksi wawasan yang matang. Agar bisa mencapai itu tentunya dengan cara tidak pernah berhenti untuk belajar dan berargumen atas kemampuannya. Budaya patriarki saat ini juga semakin pintar. Perempuan mendapat kebebasan untuk unjuk kebolehan dalam ranah publik. Namun, perannya tidak jauh dari peran sebagai budak para lelaki dan bahkan masih menjadi pemuas hasrat lelaki.

***

Misalnya, perempuan yang rela menjual keindahan tubuhnya untuk kepentingan perusahaan busana dan kosmetik, perempuan yang harus berpenampilan seksi untuk mempromosikan sebuah produk. Semua produk dan upaya eksploitasi perempuan tersebut adalah strategi patriarki yang lebih cerdas. Apakah postfeminisme mendukung itu semua, jika iya artinya postfeminisme telah kalah dengan postmaskulinisme dengan produk patriarkinya.

Postfeminsime memandang bahwa perempuan bertindak atas kehendak dan kebebasannya sendiri. Pandangan tersebut akhirnya berdampak pada konsekuensi tanggung jawab atas dirinya sendiri. Sehingga, kontrol patriarki dan alienasi harus kita tinjau ulang dengan nalar yang lebih kritis.

Akhir kalimat, perempuan adalah pendobrak pikiran paling ulung jika mampu keluar dan bebas dari kungkungan budaya patriarki yang semakin cerdas seperti saat ini. Semoga.

Bagikan
Post a Comment