f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kesatria

Kesatria Perempuan

Aku teringat dongeng karangan Ibu di masa kanak-kanak. Dalam peperangan, seorang kesatria diajarkan oleh gurunya agar tak membunuh harapan, wajib memupuk dan merawat tujuan walaupun berhadapan dengan ketidakpastian. 

“Sang kesatria itu mesti gagah berani berlari menerjang segala macam hambatan, batas-batas, atau melanggar serangkaian aturan jika itu diperlukan. Kesatria punya jiwa yang siap berkorban,” kata Ibu suatu hari.
“Bisakah perempuan sepertiku menjadi seorang kesatria, Bu?” tanyaku lugu.

“Tentu bisa, Zahra,” jawab Ibu. “Kau sendiri punya musuh. Namanya kemiskinan. Dia cuma dapat dilawan dengan senjata bernama pengetahuan.” 

Sesudah mendengar jawaban Ibu, sejak itu aku terus bermimpi menjadi kesatria hebat yang dapat melawan kemiskinan. Aku giat belajar setiap hari sampai meraih beasiswa kuliah di politeknik negeri. Tapi, malangnya, hari ini aku berlari meninggalkan medan perang atas keinginanku sendiri. Aku resmi mengundurkan diri dari kampus setelah mendapat kabar pahit dari Bibi Imah di suatu pagi. 

“Terima kasih sudah banyak menolongku selama ini, Lif.” Aku berpamitan. 

“Kau yakin, Ra?” tanya Lifia, teman sekamarku. Dia meyakinkanku bahwa keputusan itu perlu dipikirkan matang-matang. Masa depan dapat runtuh, sekali saja bila kita salah jalan.

Aku sadar bahwa aku gagal menjadi kesatria. Untuk apa aku memenangkan pertempuran ini bila aku mesti menyerahkan Ibu sebagai pengorbanan? Lagi pula aku sudah menduga bahwa hari ini pasti akan terjadi. 

“Tekadku sudah bulat, Lif,” balasku pelan. Tak ada pilihan lagi yang bisa aku ambil. 

*

Saat melangkah pergi dari asrama, kesedihan itu masih bisa kutahan-tahan. Aku pulang dengan air mata beku. Tegar. Ibu tak boleh melihat putrinya menangis, ikrarku pada hari sebelum menapaki lantai rumah kami. Namun, tetap saja aku ambruk tatkala menyentuh telapak tangan Ibu yang kecut.  Tubuhnya dibalut kain usang di atas dipan kayu yang lapuk. Rasanya tidak tega menatap wajahnya yang kian kuyu dan matanya yang tampak sayu.

Baca Juga  Ida I Dewa Agung Istri Kanya : Pahlawan, Sastrawan dan Tokoh Feminisme dari Bali

“Sekali lagi Bibi minta maaf. Lastri akan ikut suaminya ke Jawa. Bibi tidak sanggup tinggal sendirian. Kau tahu, sebagai janda, anaklah satu-satunya tumpuan Bibi sekarang. Jadi, Bibi terpaksa akan ikut Lastri dan berhenti mengurus ibumu,” ucap Bik Imah lemah seraya menepuk pundakku. 

Dia tetangga sebelah rumah kami yang merawat Ibu selama aku merantau ke ibukota yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari dusun. Memang janggal, di dunia yang banyak kesusahan ini rupanya masih ada orang asing yang mau memberikan kami kebaikan. Sementara sanak saudara tak ada yang memedulikan kami. Berkat bantuan Bibi Imahlah aku bisa kuliah sembari bekerja tanpa terus mencemaskan keadaan Ibu.

“Tidak, Bi. Semua memang tanggung jawabku,” balasku getir. Bik Imah meraih tanganku dan membantuku bangkit. Aku mencoba tampak terang dan tenang di hadapannya, padahal pikiranku sendiri gelap dan was-was. Bagaimana hidupku setelah ini? Apakah nasibku memang menjadi kesatria yang kalah?

“Bibi tahu. Sangat besar usahamu demi menamatkan sekolahmu itu.”

“Semua demi Ibu, Bi.”

“Kenapa kau tidak hubungi Evan?”

“Tidak, Bi. Tak mungkin kami akan terus-terusan menjadi beban Abang. Dia sudah menikah. Keluarganya juga membutuhkan uang,” kataku berpura-pura sadar keadaan. Sudah setahun pria itu tidak ada kabar. Sungguh mustahil ia akan mengirimi kami uang.  Barangkali ia menyerah harus memberi makan ibu yang tak punya daya kemampuan dan adik perempuan yang mungkin dianggapnya beban. 

*

Ibu kami mengidap gangguan jiwa. Semenjak kepergian Bapak, ia mendadak bisu dan mengeras bagai batu. Konon, suara perempuan itu dicuri angin senja pada hari kematian suaminya. Angin jahat yang tega mencabut nyawa Bapak di bawah dahan nangka. 

Baca Juga  Uniknya Menjadi Anak Tengah

Tiga tahun yang lalu berbagai pengobatan sudah pernah abangku lakukan. Tapi tak pernah satu pun membuahkan hasil. Sampai akhirnya ia putus asa. Lelaki itu kawin lari dan tak pernah lagi kembali. Hanya mengirimkan uang sesekali. Mau tidak mau, aku dan Ibu mesti berupaya mandiri.

Kadang-kadang aku dilanda putus asa. Aku bertanya-tanya, masih adakah jiwa ibuku dalam jasad yang ringkih itu? Mungkinkah jiwanya tidak terganggu melainkan pergi ke alam yang jauh? Aku merindukan panggilan kerasnya yang dahulu setiap subuh mengajakku berangkat ke surau; aku merindukan lantunan firman Tuhan yang ia bacakan selesai sembahyang petang; juga, aku menginginkan kata-katanya, bahkan jika itu sekadar kemarahan. 

Hari-hari, bulan-bulan, dan tahun-tahun pun berlalu begitu cepat. Aku lenyak dalam rutinitas yang menjemukan. Sebelum beduk subuh berkumandang, aku telah selesai menyuapi Ibu. Kemudian berangkat ke perkebunan, menorehkan luka ke batang-batang para. Berkat bantuan Mang Zam, tauke getah di dusun kami, aku diperkenankan menyadap karet miliknya.

Sepulang dari kebun aku menimbakan air buat Ibu mandi. Lalu pergi lagi ke rumah-rumah orang dusun mengambil pakaian untuk dicuci. Petang hari aku membelah bambu, malam hari aku menganyamnya menjadi tampah. Kutabung sisa pendapatan untuk biaya pengobatan.

*

Saban hari aku selalu merenung bahwa esok akan selalu sama. Roda nasib kembali ke titik awal lagi dan mungkin tak akan mengenal kata berhenti. Biar nasibku pada akhirnya akan tetap menjadi tawanan takdir. Biar aku akan hangus dalam  kesepian, kemiskinan, dan penderitaan. Aku akan terus menabahkan hati dan percaya diri bahwa suatu hari Tuhan pasti menyembuhkan Ibu melalui cara-cara ajaib. 

Kini, tidak lagi aku bermimpi menjadi kesatria yang mengejar perubahan dengan jalan pengetahuan. Sebab kupikir ada cara lain yaitu melalui jalan kesabaran dan kebijaksanaan menjalani kehidupan.

Bagikan
Post a Comment