f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
praktis

Mengaplikasikan Kepraktisan yang Kita Sukai

Dalam dunia yang menuntut hampir segala aspek berjalan cepat dan tepat, kepraktisan merupakan hal yang dicari-cari. Kita semua menyukai kepraktisan. Sesuatu yang bisa kita lakukan secara sederhana, mudah, dan mencapai banyak hal dengan hasil maksimal.

Rasanya kepraktisan juga bisa menjadi bagian dari proses pendidikan. Tentu saya tidak bermaksud mendegradasi makna pendidikan yang selalu lekat dengan proses dan segala sesuatu yang tidak instan.

Saat ini, sekolah formal tengah memasuki masa ujian akhir semester. Hasil ujian nantinya yang akan menentukan peserta didik akan naik kelas/ lulus satu mata kuliah tertentu.

Sebagaimana tampak pada laporan hasil belajar di tingkat pendidikan dasar dan menengah, pembelajaran diarahkan pada pencapaian kemampuan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Alat atau instrumen penilaian yang dapat digunakan untuk mengukur kemampuan tersebut salah satunya adalah tes. Contoh lain, penilaian diri dan teman sejawat untuk aspek sikap. Juga ada instrumen praktik dan portofolio untuk aspek keterampilan.

Masalahnya, benarkah sekolah telah benar-benar melakukan penilaian di tiga ranah tersebut? Sungguhkah instrumen penilaian yang digunakan sesuai sehingga bisa memberikan nilai atau predikat seperti yang tertera dalam laporan hasil belajar tersebut?

Dalam pengamatan saya (yang bisa saja masih terbatas), pendidik belum seluruhnya memaksimalkan rangkaian penilaian. Para pendidik tersebut masih berfokus pada penilaian pengetahuan dan kadang sedikit mengabaikan penilaian keterampilan dan sikap.

*

Sebagai contoh, anak saya kelas dua sekolah dasar. Pekan ini dia mengerjakan ujian akhir dengan menggunakan google form karena pembelajaran masih daring.

Dalam sebuah ujian Bahasa Indonesia, saya mendampinginya dalam proses ujian tersebut. Salah satu soal yang disajikan adalah tentang ejaan. Dalam soal dituliskan satu kalimat dan peserta didik diminta untuk mengidentifikasi kesalahan huruf kapital dan tanda baca.

Baca Juga  Dari Ibu Super ke Ibu yang Didukung: Agenda Keadilan untuk Membangun Keluarga Muda Tangguh

Pada saat membaca soal tersebut, saya berpikir soal tersebut hanya mengukur pengetahuan peserta didik. Artinya soal itu berada di ranah pengetahuan dasar (C1) dalam taksonomi pengetahuan yang dikemukakan oleh Bloom.

Tentu saya tidak bermaksud menyalahkan soal itu. Anak saya toh masih kelas dua SD. Artinya, pembelajaran memang masih bisa berada di tahap pengetahuan dasar semacam itu. Meski tentu bisa saja ditingkatkan ke ranah yang lebih tinggi. Tujuannya agar peserta didik terlatih sejak dini untuk berpikir kreatif dan kritis.

Pembahasan tentang kemampuan berpikir kreatif dan kritis dalam soal bisa sedikit kita abaikan sebentar. Soal yang disajikan itu sebenarnya bisa dikemas menjadi soal yang sekaligus mengukur kemampuan keterampilan peserta didik. Ini semacam melakukan sesuatu secara praktis.

Dalam pikiran saya, soal itu diubah menjadi peserta didik diminta untuk menuliskan dua atau tiga kalimat sederhana. Supaya tidak sulit bagi peserta didik di kelas rendah, ikat soal tersebut dengan keseharian mereka. Misalnya, meminta peserta didik menceritakan secara tertulis tentang peristiwa hari itu dalam beberapa kalimat.

Ketika peserta didik mengumpulkan tulisan singkat tersebut, pendidik bisa menilai banyak hal. Tentu saja, pendidik perlu membuat panduan penilaian yang tidak bias dan dapat diberlakukan untuk semua tulisan peserta didik yang kemungkinan besar beragam.

*

Ketepatan tema/ topik tulisan pada tulisan peserta didik menjadi aspek penilaian di luar penggunaan ejaan secara tepat. Secara lebih luas, struktur pengembangan paragraf sederhana yang digunakan peserta didik juga bisa dinilai.

Begini, dalam kerangka pembelajaran terkait PUEBI semacam ini, hal tersebut bisa menjadi poin penilaian keterampilan. Hal itu dikarenakan penguasaan aturan terkait ejaan tentu merupakan bagian dari mereka yang telah terampil menulis. Mereka dilatih mematangkan gagasan lebih dahulu kemudian menyunting tulisannya dengan memperhatikan PUEBI.

Baca Juga  Hati yang Lembut, Terbalut Luka Tak Kasat Mata

Sementara itu, jenis pengembangan paragraf pastinya merupakan bagian dari materi utama yang dituju dalam pembelajaran tersebut. Dengan demikian, peserta didik yang mampu memaparkan gagasannya sesuai dengan struktur pengembangan tulisan yang dimaksud/ sedang dipelajari merupakan aktualisasi pengetahuan peserta didik yang bersangkutan.

Dengan melaksanakan penilaian yang demikian, pendidik sebenarnya melakukan satu kali pengambilan nilai dan mendapatkan dua aspek penilaian. Artinya, pelaksanaan penilaian dapat dilakukan secara praktis.

Peserta didik tidak merasa terbebani karena harus mengerjakan banyak soal. Di sisi lain, pendidik juga tidak perlu mengembangkan banyak jenis soal dan mengoreksi banyak jawaban untuk mengisi kedua aspek tersebut. Tentu juga hal ini berarti pendidik tidak perlu merasa bersalah karena merekayasa nilai keterampilan yang tidak dilakukan.

Jika waktu pembelajaran masih cukup, ajak peserta didik untuk sharing pengalamannya dalam membuat tulisan sederhana tersebut. Pada saat itulah pendidik dapat menggunakan waktu untuk mengevaluasi dan menilai apakah peserta didik cukup bertanggungjawab, jujur, dan disiplin dalam mengerjakan tugas. Pada saat inilah penilaian sikap berlangsung.

Dengan demikian, dalam satu rangkaian penilaian, pendidik mendapatkan nilai untuk tiga aspek sekaligus. Selain praktis, tentu juga tidak perlu mereka-reka nilai, bukan?

Bagikan
Post a Comment