f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
uang

Perempuan Paling Mahir Mengatur Keuangan (?)

Tidak sedikit di antara kita sering menemui di komunitas atau organisasi menjadikan perempuan sebagai bendahara. Misal, “kamu aja ya yang jadi bendahara, kan kamu perempuan.” Seolah-olah, perempuanlah yang paling ahli dalam urusan keuangan. Bahkan tidak sedikit dari masyarakat kita yang menjadikan perempuan sebagai arus utama pengurus keuangan rumah tangga dengan alasan perempuan lebih teliti. Benarkah demikian?

Tentang Literasi Keuangan

Mengatur keuangan berarti tidak jauh dari pengetahuan akan literasi keuangan, di mana finansial literasi erat kaitannya dengan finansial inklusi. Di Indonesia, finansial inklusi termasuk yang sedang ramai menjadi pembicaraan. Hal itu terbukti dari survei Otoritas Jasa Keuangan di tahun 2020. Tingkat finansial inklusi meningkat menjadi 76,19% daripada tahun 2016 di angka 67,8%. Begitupun literasi keuangan meningkat dari 29,7% menjadi 38,03%.

Peningkatan yang terjadi tentu saja memberikan pencapaian baru bagi Indonesia, tetapi angka literasi keuangan masih tetap harus kita tingkatkan. Lebih-lebih, terdapat penelitian yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara literasi keuangan dan jalan hidup seseorang. Uang dan kehidupan ibarat dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Memang, uang bukanlah segalanya, tetapi kita tidak dapat hidup tanpa uang, bukan?

Lantas, apa hubungannya antara perempuan dan literasi keuangan? Benarkan perempuan lebih melek terhadap keuangan daripada laki-laki?

Perempuan dan Literasi Keuangan

Saya pernah melakukan penelitian mengenai pengaruh jenis kelamin terhadap tingkat literasi keuangan seseorang di tahun 2017 dan 2019, yang menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kemampuan yang sama dalam hal memahami literasi keuangan. Sebagaimana di era globalisasi dan modernisasi saat ini di mana kesetaraan gender menjadi fokus utama dalam pembangunan suatu negara, baik dalam hal ekonomi, sosial, dan politik.

Baca Juga  Belajar Menjadi Penulis Seperti Bapak (Part II)

Sebelum muncul perempuan-perempuan pahlawan yang mendobrak ketabuan, seperti Raden Ajeng Kartini dan Cut Nyak Dien, perempuan tidak boleh untuk berperang, bahkan untuk bersekolah sekalipun. Perempuan hanya sebatas ‘kasur, dapur, sumur’. Namun itu dulu, bukan sekarang. Karena zaman yang sudah berubah dan berkembang pesat.

Penelitian lain juga mengatakan bahwa perempuan lebih bisa mengatur keuangan ketimbang laki-laki sudah terbantahkan secara tegas bahwa kemampuan seseorang tidak berpengaruh pada apa jenis kelaminnya. Walaupun memang ada penelitian yang mengukur tingkat literasi perempuan di negara maju dan berkembang, di mana tingkat literasi keuangan untuk perempuan di negara maju sangatlah tinggi, berbeda dengan di negara berkembang seperti Bangladesh, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan.

Tetapi partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi terus meningkat setiap tahunnya. Sehingga dapat menjadi argument penguat bahwa perempuan, sekalipun di negara berkembang, memiliki kesempatan yang sama dalam berkontribusi langsung pada pemahaman literasi keuangan.

Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur’an

Bagaimana pun juga, hal tersebut ditengahi oleh penelitian yang menyatakan bahwa kesetaraan gender bergantung pada lingkungan sosial budaya pada suatu wilayah. Termasuk pada kesetaraan dalam hal literasi keuangan. Dalam pandangan Islam, laki-laki dan perempuan sudah ternoktah dalam kitab suci Al-Qur’an perihal hal dan kewajiban dan kesetaraannya di mata Allah SWT, kecuali iman dan takwa.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al- Hujurat ayat 13)

Istri diperbolehkan berkerja mencari nafkah dan boleh pula mengenyam pendidikan setinggi-tingginya oleh suaminya, tanpa melupakan kodrat dan kewajibannya sebagai istri dan seorang ibu. Termasuk ketika laki-laki dan perempuan memiliki peran dan hak yang sama dalam mengontrol dan mengelola keuangan, hal tersebut akan berpengaruh pada tingkat literasi keuangan dan pengambilan keputusan bersama.

Baca Juga  Kontradiksi Penerbit Indie
*

Maka dapat disimpulkan bahwa menjadi perempuan tidak serta merta menjadikan ia mahir dalam mengatur keuangan. Dugaan saya, stigma seperti ini hadir karena kita memiliki Menteri Keuangan Republik Indonesia yang digemari banyak orang, yakni Ibu Sri Mulyani, yang seorang perempuan. Lantas membentuk pola berpikir dan stigma masyarakat bahwa perempuan ahli keuangan seraya ditambahi bumbu-bumbu yang cenderung mengarah pada bias gender.

Referensi:

A.C.G, Potrich, Vieira K.M, and Kirch G. “How Well Do Women Do When It Comes to Financial Literacy? Proposition of An Indicator and Analysis of Gender Differences.” Journal of Behavioral and Experimental Finance, 2017: 32-34.

Cupák, Andrej, Pirmin Fessler, Alyssa Schneebaum, and Maria Silgoner. “Decomposing Gender Gaps in Financial Literacy: New International Evidence.” Economics Letters, 2018: 5.

Flood, Michael. “Gender Equality: Engaging Men in Change.” The Art of Medicine, 2018: 1-2.

Gaberlavage, George. “Financial Literacy More Important Than Ever.” Economic Security and Work Journal, 2009: 40.

Haider, Muhammad Jamal, Gao Changchun, Tayyaba Akram, and Syed Talib Hussain. “Exploring Gender Effects in Intention to Islamic Mobile Banking Adoption: An Empirical Study.” Arab Economic and Business Journal, 2018: 26.

Nyman, Charlott, Lasse Reinikainen, and Kristina Eriksson. “The Tension Between Gender Equality and Doing Gender Swedish Couples’ Talk About The Division of Housework.” Women’s Studies International Forum, 2018: 44.

Zou, Jing, and Xiaojun Deng. “Financial Literacy, Housing Value and Household Financial Market Participation: Evidence from Urban China.” China Economic Review, 2019: 62-63.

https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Survei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-2019.aspx (online pada 16 April 2021, pukul 12.25 WIB)

Bagikan
Post a Comment