f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
riffat hassan tafsir

Riffat Hassan dan Pembaharuan Metodologi Tafsir Al-Qur’an

Teolog feminis muslim yang vokal menyuarakan permasalahan perempuan, begitulah Riffat Hassan dikenal luas di kalangan muslim. Riffat Hassan lahir di Lahore, Pakistan. Namun sejak tahun 1976, dia tinggal di Amerika Serikat dan menjabat sebagai ketua program studi keagamaan di University of Louisville, Kentucky.

Riffat Hassan banyak mempelajari teks Al-Qu’an dan melakukan pembacaan ulang terhadap tafsir ayat-ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan perempuan. Riffat Hassan sangat aktif menyuarakan ide-ide pembongkaran terhadap realitas yang masih memposisikan perempuan sebagai the other dalam kehidupan masyarakatnya.

Salah satu penyebab perempuan masih dipandang inferior dalam berbagai hal, menurut Riffat Hassan karena adanya penafsiran teologi yang hanya dilakukan oleh laki-laki saja. Dari alasan ini, Riffat Hassan kemudian mengkontruksi teologi feminisme.

Riffat Hassan mengungkapkan bahwa teologi feminisme dalam konteks Islam sangat perlu untuk dikembangkan. Dengan adanya teologi feminisme ini diharapkan dapat membebaskan perempuan dan laki-laki muslim dari belenggu struktur yang menindas.

Penyebab utama adanya diskriminasi dan bentuk ketidakadilan gender di lingkungan umat Islam berakar dari pemahaman yang keliru dan bias terhadap teks Al-Qur’an. Riffat Hassan kemudian melakukan dekontruksi pemikiran teologis yang berhubungan dengan perempuan. Salah satunya tentang konsep penciptaan hawa sebagai perempuan pertama.

Metodologi Tafsir Riffat Hassan

Dengan adanya kegelisahan yang telah dijelaskan, Riffat Hassan kemudian membangun sebuah metodologi yang digunakannya untuk membaca ulang ayat-ayat Al-Quran tentang perempuan. Riffat Hassan menyusun tiga prinsip penafsiran Al-Qur’an.

Pertama linguistic accuracy yaitu melihat terma dengan merujuk pada keterangan klasik untuk memperoleh apa yang dimaksud oleh kata yang digunakan dalam Al-Qur’an. Dalam kebudayaan apa kata itu digunakan dan mengandung makna apa kata yang digunakan tersebut.

Baca Juga  Mengenal Imam Al-Ajurri dalam Kitab Akhlaqu Ahlil Qur’an (1)

Menjadi kunci pertama dalam metodologi Riffat Hassan yaitu mengetahui asal-usul kata dan alasan penggunaannya. Hal ini dapat dilihat dari satu persatu kata yang digunakan dalam sebuah ayat yang akan ditafsirkan.

Kedua criterion of philosophical consistency  yaitu melihat penggunaan kata-kat dalam Al-Qur’an secara filosofis dan tidak bertentangan. Ketiga ethical criterion yaitu praktik etis yang sesungguhnya harus direfleksikan dalam Al-Qur’an.

Contoh Aplikasi Metodologi Tafsir

Riffat Hassan menyanggah penafsiran QS. An-Nisa [4]: 34 yang sering dijadikan dalil bahwa perempuan diciptakan hanya untuk laki-laki. Dalam menafsirkan ayat ini Riffat Hassan mengikuti pemikiran Fazlur Rahman yang menafsirkan kata qawwamun dengan mengaitkannya pada kat al-rijal dan an-nisa.

Kata al-rijal dan an-nisa dalam ayat ini ditujukan pada pasangan suami istri pada umumnya. Menurut Riffat Hassan seorang perempuan diberikan tugas yang tidak dapat dilakukan oleh laki-laki salah satunya mengandung dan melahirkan anak. Sebaliknya laki-laki diwajibkan menafkahi istri dan keluarganya. Kewajiban suami lebih pada ekonomi bukan biologis.

Kata qawwamun bukan dimaknai sebagai kelebihan laki-laki dalam hal menafkahi, karena perempuan juga diperbolehkan untuk mencari nafkah. Menurut Riffat Hassan, laki-laki hanya dituntut untuk mampu menafkahi keluarganya secara lahir dan batin.

Kata qawwamun ini dapat dimaknai bukan sebagai  posisi laki-laki yang lebih tinggi dari perempuan dalam hal kepemimpinan. Namun perempuan memiliki posisi lebih dibandingkan laki-laki karena perempuan dapat melahirkan anak sedangkan laki-laki tidak.

Dalam hal penciptaan manusia, Riffat Hassan menolak validitas hadis yang menjelaskan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam. Dia juga mempertanyakan kata nafs wahidah yang ditafsirkan sebagai Adam dan zaujaha adalah Hawa. Kata nafs dalam bahasa Arab tidak menunjukkan laki-laki ataupun perempuan namun bersifat netral.

Baca Juga  Belajar Imbang dari Siti Baroroh Baried

Begitu juga dengan kata zauj yang bersifat netral bukan laki-laki ataupun perempuan. Riffat Hassan melalui penelitian terhadap teks injil kata Adam adalah istilah Ibrani yang secara literal berarti tanah.

***

Dalam Al-Qur’an menurut Riffat Hassan tidak menjelaskan tentang Adam sebagai manusia pertama dan tidak menyatakan secara spesifik Adam adalah seorang laki-laki. Secara linguistik, Adam memang kata benda maskulin namun tidak menyangkut jenis kelamin.

Begitu juga dengan kata nafs wahidah seharusnya dimaknai sama dengan basyar, al-insan dan al-nas yang menunjukkan manusia bukan jenis kelamin. Menurut Riffat Hassan penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam hanya sebatas dongeng dalam Bible yang pernah masuk ke dalam tradisi Islam.

Secara bahasa tafsir kalimat minha menunjukkan dari jenis yang sama (bayan al-jins) bukan menyatakan sebagian (tab’idhiyah). Hal ini menunjukkan bahwa Hawa bukan diciptakan dari sebagian Adam namun diciptakan dari jenis yang sama yaitu tanah.

Adapun hadis yang menyatakan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam secara normatif tidak mengandung unsur anti perempuan. Meskipun diciptakan berbeda namun keduanya mempunyai esensi kemanusiaan yang sama. Setiap manusia mempunyai esensi yang sama. Asal-usul penciptaan yang dipahami berbeda-beda tidak menentukan nilai manusia.

Sumber

Afifah Bidayah, “Riffat Hassan dan Wacana Baru Penafsiran”, Jurnal Kalimah, (Vol II, No.2, 2013).

M. Tohir, “Feminisme Al-Qur’an; Studi Kritik Terhadap Pemikiran Riffat Hassan tentang Konsep Equality Gender”, al-Thiqah, (Vol.1, No.1, 2018).

Bagikan
Post a Comment