f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nikah

Nikah, New Couple dan Permasalahan Pelik Lainnya

Islam tidak mengajarkan atau bahkan membolehkan pacaran, yang ada hanyalah taaruf, khitbah untuk kemudian ijab qabul. Nah, babak awal rumah tangga mulai ketika sudah terlaksananya ijab qabul. Di sinilah kalimat “menikah merupakan ibadah terlama” akan mulai terasa kebenarannya.

Menikah merupakan wadah untuk belajar yang tak ada batas waktunya. Bukankah belajar adalah ibadah? Mungkin inilah yang menjadi alasan bahwa menikah adalah ibadah terlama. Dari menyelaraskan pemikiran, membiasakan kebiasaan satu sama lain, menerima keluarga masing-masing, dan lain-lain. Semua itu butuh proses panjang dengan kesabaran, keikhlasan, dan tentu saja doa.

Katanya, manisnya menikah itu hanya beberapa bulan saja, paling lama satu tahun. Bahkan, ada pula yang menyatakan, lima tahun pertama adalah masa yang rentan. Sungguh kalimat yang cukup horor untuk kita baca, dengar, dan resapi. Namun, pada kenyataannya tahun-tahun pertama menikah memang waktu yang genting, karena harus terbiasa dengan segala hal baru.

Mengapa demikian? Karena ketika sudah memutuskan menikah berarti kita menikah juga dengan segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Tidak ada kata tidak bisa terbiasa. Jika terus-terusan tidak bisa membiasakan diri, bisa jadi bakal mendapat gelar PSJ alias Pernikahan Seumur Jagung.

***

Saat pernikahan, terdapat doa yang terkenal: semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah pada new couple. Dan hal itu perlu usaha untuk mewujudkannya. Salah satu usaha tersebut adalah, satu sama lain berusaha untuk saling beradaptasi. Ya, adaptasi menjadi kunci utama di sini. Lalu, muncul pertanyaan, bagaimana saya harus beradaptasi terhadap teman hidup sementara pacaran saja tidak? Jawabannya, tentu itu ada strateginya.

Pertama, sebelum kita memahami pasangan setelah menikah, tentu kita harus memahami dulu sebelum menikah. Di situlah fungsi taaruf. Sebelum menikah, buatlah list pertanyaan untuk calon pasangan: mulai kebiasaan, penyakit, kesukaan, ketidaksukaan sampai pada kesepakatan setelah menikah. Usahakan sedetail mungkin untuk meminimalisir hal yang tidak menjadi keinginan setelah menikah nanti.

Baca Juga  Ingat! Tugas Guru Bukan Semata-mata Mengajar

Pertanyaannya dapat berupa:

  1. Apakah memiliki penyakit yang membutuhkan pengobatan rutin?
  2. Bagaimana jika nanti punya anak atau tidak punya anak?
  3. Apakah tidak keberatan dengan penghasilan saya sebesar 3 juta?
  4. Setelah menikah akan tinggal di mana?
  5. Bagaimana kesepakatan pengelolaan keuangan?
  6. Apakah setelah menikah akan tetap bekerja atau tidak?

Apakah selalu harus 6 pertanyaan tersebut? Tentu tidak. Apa yang ingin menjadi pertanyaan menyesuaikan dengan kebutuhan. Tetapi 6 hal di atas sebaiknya tidak terlewat.

***

Pertanyaan mengenai penyakit yang mengharuskan pengobatan rutin tentu penting karena membutuhkan kesiapan waktu dan biaya. Tak kalah penting mengenai anak, terutama jika Allah belum memberi rezeki anak. Sebagai bentuk persiapan rasanya tak apa jika dilakukan tes kesuburan sebelum menikah.

Lalu soal keuangan. Bagi calon suami, transparansi penghasilan itu menjadi hal wajib. Kenapa? Karena tidak sedikit kasus perceraian terjadi akibat permasalahan ekonomi. Terlebih pembahasan keuangan ini akan menjadi dasar apakah si istri nanti bekerja atau tidak.

Namun, yang paling penting dan tak boleh terlewat adalah tempat tinggal setelah menikah. Terlihat sepele memang, tapi hal ini bisa menjadi bumerang. Tak akan masalah apabila sebelum menikah si Mas atau si Akangnya sudah punya rumah. Nah, yang perlu kesepakatan apabila belum punya rumah. Apakah nanti akan mengontrak, menyicil, atau tinggal di rumah mertua/orang tua?

Tinggal seatap dengan orang tua/mertua tak apa sebetulnya jika kondisi mengaruskan seperti itu, misalkan orang tua sakit dan tidak ada yang mengurus. Namun, jika memungkinkan untuk tinggal terpisah itu lebih baik. Mengapa? Karena untuk beradaptasi dengan pasangan dan menjalani proses belajar yang tidak berujung ini butuh keleluasaan waktu dan tempat.

Tak enak rasanya jika harus berselisih paham jika masih tinggal seatap dengan orang tua. Yang dikhawatirkan sebetulnya kurang pekanya orang tua/mertua dengan mengajukan interupsi dengan dalih untuk kebaikan yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Tidak salah memang orang tua melakukan hal tersebut, karena itu bentuk kasih sayang dan berbagi pengalaman, tapi yang dikhawatirkan adanya kesalahpahaman yang muncul pada pasangan.

Baca Juga  Politik Perempuan Desa Madura
***

Kedua. Berusaha menerima kekurangan. Taaruf memang awal adaptasi dari sebuah hubungan, tapi tidak menjadi jaminan jika pasangan kita sesuai dengan yang diharapkan. Jikapun kita sudah mengajukan list pertanyaan, itu hanya sepersekian dari gambaran calon pasangan. Oleh karena itu, setelah sah maka adaptasi sesungguhnya dimulai, pergolakan batin pun mulai dijalankan.

Biasanya, yang jadi masalah pada new couple itu hal sepele, seperti perbedaan kebiasaan menyimpan handuk selepas mandi dan lainnya. Percayalah, perbedaan tersebut hanyalah sepele, tapi butuh hati yang lapang dan kepala dingin. Jika menggebu-gebu, tentu perselisihan tak terhindarkan.

Ketiga, komunikasi. Poin pertama dan kedua tak akan sukses jika tidak dibarengi komunikasi yang lancar. Artinya, komunikasi menjadi jurus pamungkas untuk kesuksesan new couple saling mengenal satu sama lain. Jika ada hal yang tak nyaman, sebaiknya pasangan bilang dengan jujur. Jangan dipendam.

Biasanya, baik suami atau istri pada awal menikah masih malu-malu. Malu untuk bilang lapar, malu jika ingin buang angin, bahkan berada di tengah keluarga pasangan pun terasa canggung. Maka, diskusikanlah apa yang kamu inginkan agar nyaman dalam berumah tangga.

Bagikan
Post a Comment