Fenomena Defisit Akal Sehat; Antara Manusia dan Kedunguan
Ada suatu fenomena yang sangat menarik belakangan ini. Semua hal yang awalnya mendalam dan jelas seketika bisa berubah menjadi amat dangkal dan samar. Seperti halnya kedalaman suatu makna, itu tidak dapat untuk dirasa; namun ketika mata mulai menangkap kemudian akal tidak mampu mencerna, maka hanya melahirkan bingkisan makna yang cacat sebelah.
Yang awalnya sebagai pendidikan karakter berubah menjadi kebersihan kuku dan kerapihan rambut. Kedalaman berfikir filsafat hanya sebatas awang-awang. Mahasiswa yang banting tulang belajar psikologi hanya untuk “membaca hati dan pikiran orang”. Bahkan, ukuran suatu moral pun hanya sekedar urusan cium tangan.
Wacana pendidikan yang liberal diterjemahkan sebagai bersikap seenaknya, investasi sebagai simbol kepercayaan antara pribadi ditafsirkan sebagai cara menggapai keuntungan yang bersifat riba. Dan bahkan, kualitas iman di ukur dari durasi lama atau tidaknya ia “terlihat” berdoa. Penilaian intelektual seseorang bisa dari onggokan ijazah atau kertas yang berukiran nilai sempurna. Seolah-olah kedalaman laut itu bisa terukur dengan penggaris 30 cm. Sebenarnya apa yang terjadi?
Zaman ini, kita hidup dalam masyarakat yang amat individualistik. Setiap orang berusaha merendahkan, memenangkan pendapat pribadinya, mengejar kepentingan pribadinya, dan bahkan tidak sedikit mereka menjatuhkan orang lain demi kepuasan ambisi semata.
Medsos sebagai Pabrik Recehan
Manusia merupakan makhluk yang dirahmati Tuhan dengan suatu akal bahkan plus dengan penyaringnya. Namun lucunya di Indonesia, semuanya hal yang beredar di dalam media massa mereka menangkap dengan penyaring yang robek artinya memakan mentah-mentah informasi yang ada. Kebanyakan belum bisa membedakan mana itu fakta, hoax, ataupun hanya sekedar guyonan belaka. Sehingga kemudian terciptalah pendunguan makna yang melahirkan kesimpangsiuran.
Hal itu bahkan memang terjadi ketika banyaknya guyonan tentang epidemi global virus Corona. Bahkan, banyak pejabat Indonesia yang masih bisa mengubah awalnya dari situasi bahaya penularan Covid-19 menjadi mewabahnya jokes-jokes garing. Dan tidak tanggung-tanggung, kebebalan yang kolektif ini tidak hanya menjakiti para pejabat negara saja, melainkan sampai masyarakat sipil atau netizen dalam media sosial.
Kebebalan pola berpikir netizen yang entah berantah malah turut untuk mengafirmasi guyonan para pejabat sebagai pemuasan humor mereka. Dimulai dengan minum tolak angin bisa kebal dari virus Corona hingga para pemakai hp xiaomi pun dicap sebagai yang menularkan virus tersebut. Media sosial kita pada saat itu malah terbumbui dengan guyonan ketika Corona membunuh banyak manusia satu persatu di negara lain.
Real Life dan Paronia
Itulah salah satu kedangkalan dari sebagian manusia, bahkan kalau kita melihat di jalanan, ketika ada insiden jatuh atau kecelakaan pengendara; kebanyakan orang yang melihat justru lebih memilih sifat untuk tidak acuh. Ada sebagian yang fanatisme terhadap material, alasan mereka tidak menolong karena takut telat sehingga berdampak pada keterlambatan gajinya. Inilah salah satu bentuk sifat paranoia manusia, mereka memiliki ciri personalitas yang pengecut.
Salah satu hasil dari anggapan turun menurun bahwa penilaian intelektual seseorang bisa diukur dari onggokan ijazah atau kertas yang berukiran nilai sempurna.
Televisi dan Kedunguan.
Saya pernah mendengar ungkapan dari Rhenald Kasali, ketika beliau mengatakan bahwa yang pertama kali yang harus di ubah dari bangsa ini adalah core belief-nya. Dan senjata untuk mengubah core belief bangsa ini adalah pendidikan dan televisi (Kasali, 2009).
Kalau berbicara tentang pendidikan, mungkin dalam menghancurkan sifat paronia manusia itu bisa terbilang sudah berkembang. Tapi bagaimana dengan televisi? Kita lihat saja, media televisi hari ini, banyak tayangan-tayangan yang tidak bermutu, zaman dulu orang di undang ke acara televisi karena suatu prestasi atau karya, sehingga orang berlomba-lomba unjuk bakat karyanya atau prestasinya.
Tapi tidak dengan konsep pertelevisian zaman sekarang. Orang diundang karna mereka viral, baik itu karna goyangannya, masalahnya, toxicnya, atau hal-hal yang memang tidak masuk akal untuk dijadikan sebuah edukasi. Sehingga kita lihat, betapa banyak orang yang berlomba-lomba memperlihatkan kedunguan mereka dalam mencapai suatu popularitas.
Alih-alih televisi seharusnya menjadi isntrumen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, malah berubah menjadi mendungukan pemikiran anak muda. Televisi yang seharusnya sebagai penyebar ide yang paling efektif tapi malah dengan mudahnya mengganti menjadi sesuatu yang menyebabkan defisit akal sehat, moral dan etika.
Sudah saatnya kita sebagai manusia yang diberi oleh Tuhan yang maha kuasa berupa akal plus penyaringnya secara gratis; harus memikir ulang paradigma yang kita gunakan dalam operasional kehidupan kita.
Sebenarnya hal yang telah kita lakukan dan kita publikasikan itu bisa berguna atau tidak berguna untuk masyarakat, yang kita sama-sama ketahui, semua aksi yang diperlihatkan oleh manusia melalui layar itu juga akan terlihat oleh anak-anak yang masih belum bisa menyaring suatu objek.
Jangan sampai hanya untuk menggait material, televisi justru membuat bangsa kita seperti kekaisaran romawi 2000 tahun yang lalu; di mana masyarakat yang ingin terus dipuaskan dengan hiburan tidak sesat, perang, kekuasaan dan lain sebagainya. Jika itu sudah terjadi lebih meluas maka semua itu menghantarkan pemikiran bangsa ini kepada suatu kehancuran.
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Qur’an Tafsir Mahasiswa UIN JAKARTA

Dewi
Kereen
Wurry Srie
Cakep.