f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kedokteran

Arti Gugurnya “Guru” Bagi Mahasiswa Kedokteran

“Engkau sebagai pelita dalam kegelapan,” merupakan lirik lagu yang patut menggambarkan jasa guru kami, yang sebagian telah syahid akibat pandemi. Ilmu-ilmu yang berpendar layaknya pelita yang tak pernah padam selamanya.

Setiap guru kami membimbing, beliau selalu mengembalikan cara berpikir menghadapi setiap kasus dari awal, mulai wawancara atau anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Semua harus dilakukan secara sistematis. 

Dari awal anamnesis kami harus bisa mengarahkan pertanyaan untuk mencari diagnosis sekalian dengan diagnosis bandingnya. Selanjutnya, apa yang kami temukan bakal dikonfirmasi dengan pemeriksaan fisik. Syukur jika langsung ketemu diagnosisnya, tetapi jika masih belum ketemu atau meragukan, maka pemeriksaan penunjang menjadi pilihan. 

***

Pemeriksaan laboratorium dan radiologis sebagai pemeriksaan penunjang belum tentu dilakukan untuk semua penyakit, semua tergantung kasusnya. Misal jika ada pasien datang dengan nyeri kepala. Bisa saja nyeri tersebut merupakan sakit kepala primer akibat tekanan otot sekitar kepala, atau merupakan nyeri yang timbul akibat pendarahan pembuluh darah otak. Manifestasinya sama-sama nyeri kepala, di situlah kami harus pintar membedakan dengan tambahan pertanyaan dan pemeriksaan fisik lainnya.

Jika kasus tersebut mengarah pada suatu perdarahan, kami harus segera melakukan CT-Scan untuk memastikan. Tindakan yang diambil sangat berbeda jika nyeri hanya berasal dari tekanan otot sekitar kepala yang tuntas dengan obat-obatan. Begitulah pola pikir yang dengan sabar digores sedikit demi sedikit oleh guru kami. Pola pikir yang tidak bisa kami dapatkan jika hanya bergantung dengan textbook. 

Setiap penyakit pada textbook akan dijelaskan terkotak-kotak, misalnya pasien dengan penyakit A, penyakit tersebut akan menunjukan gejala X, Y, Z seterusnya yang lengkap. Padahal pada kenyataan, gejala yang muncul bisa saja X dan Z saja, atau justru hanya X. Variasi dari sebuah penyakit sebegitu banyaknya. Textbook hanya menyediakan ilmu mentah, aplikasinya belum tentu sama. 

Baca Juga  Bullying dalam Pandangan Al-Qur'an dan Sunnah: Menghormati dan Membela Kebaikan

Variasi tersebut tidak perlu kami risaukan, guru kami telah berpengalaman dengan penyakit-penyakit tersebut. Beliau sudah puluhan bahkan ratusan kali menghadapi penyakit yang sama dengan variasi gejala yang berbeda; dengan gamblang menjelaskan kepada kami mana-mana saja gejala yang kami perlu perhatikan sesuai dengan proses terjadinya suatu penyakit. Beliau telah menyederhanakan sedemikian rupa supaya ingatan itu melekat di otak kami bertahun-tahun kemudian. 

Pun jika kami lupa, beliau dengan sabar akan mengingatkan lagi dan lagi, walaupun kadang beliau kesal dan marah. Hal tersebut justru menjadi cambuk yang menancapkan ingatan lebih dalam lagi.

***

Sejak awal kami sekolah kedokteran, kami seringkali diberi tahu kalau pekerjaan kami berhubungan dengan manusia. Kesalahan sedikit bisa berbalik menyerang kami dengan brutal. Ketika membaca textbook, kekhawatiran kami senantiasa bertambah, penyakit yang ada di dunia terlampau banyak, kita tidak punya waktu mempelajari semuanya.

Tetapi, kami turut tenang, guru kami mengatakan kalau tidak semua penyakit harus kita hafalkan. Asal kita paham akar penyakit lewat proses terjadinya, semua akan gamblang. Toh, penyakit yang sering muncul ya itu-itu saja. Dengan bekal penyakit yang sering muncul tersebut, diharapkan pola pikir yang terbentuk akan berguna untuk mengatasi puluhan, bahkan ratusan penyakit lainnya. 

Semakin banyak bertemu kasus, pengalaman dan pengetahuan kami juga senantiasa bertambah dengan sendirinya. Proses belajar tidak boleh berhenti ketika pendidikan saja, proses itu berlangsung selamanya. 

***

Guru kami juga sering mengatakan kalau terapi yang ada di Indonesia tidak bisa selengkap yang ada di textbook. Fasilitasi di Indonesia terbatas, lewat arahan beliau, kami diharapkan bisa menyesuaikan semuanya tergantung fasilitas yang ada dan kebutuhan subyektif pasien. Sehingga kelak bisa siap ketika terjun di masyarakat.  

Baca Juga  Peran Perempuan dalam Ekofeminisme dan Pengelolaan Sampah: Studi Kasus TPA Desa Sukosari

Kadang pola pikir yang kami pelajari bersifat turun temurun. Saya seringkali mendengar kalimat dengan diksi yang sama ketika diajar oleh dosen satu dengan dosen yang lainnya, menandakan kalau ilmu tersebut berasal dari sumber yang sama, dari guru pendahulu yang sama. 

Jika saja gugurnya guru kami terus berlanjut, betapa besar kerugian kami, senior kami, adik kelas kami, dan bangsa ini. Tentu kami tidak ingin lingkaran ilmu ini terputus, ilmu yang beliau turunkan merupakan hasil dari proses penempaan yang panjang. 

Perlu waktu bertahun-tahun untuk menghasilkan dokter yang hebat seperti mereka. Kami belum tentu bisa menggantikannya…..

Bagikan
Comments
  • Butet

    Bisa, Dok. Aamiin.

    Maret 17, 2021
Post a Comment