f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dimas

Belenggu

Sarah, 40 Tahun       

Aku, dia dan derita. Mungkin hanya itu yang pantas aku definisikan mengenai hidupku ini. Kadang aku berfikir akankah Tuhan marah? Aku selalu mengeluh tentang berbagai peraturan yang mulai mengekang bahkan membelengguku dahulu, sekarang dan nanti. Bahkan kebahagiaan saja tidak berpihak untuk hidupku. Tidak tahu kapan terakhir kali aku tersenyum lebar. Sekarang umurku hampir menginjak kepala empat, aku sendirian, berada di tengah-tengah orang asing, demi keluar dari kurungan itu.

Sarah, 15 Tahun

“Nggak mau Bu, aku pengen sekolah negeri di Kabupaten!” jawabku tegas. Kali ini tidak akan kubiarkan keinginanku terkubur kembali. Setelah kemarin aku mengiyakan keinginan ibuku untuk masuk ke sekolah menengah pertama pilihan mbah kakung.

“Ibu, Sarah udah gede, Sarah mohon untuk kali ini, kali ini saja,” kataku melembut setelah melihat air wajah ibu berubah kelabu.

Aku tahu ibuku orang yang lemah, lebih tepatnya tidak berdaya dengan peraturan-peraturan dari keluargaku. Kami hanya tinggal berdua, aku tinggal dengan ibuku, aku hanya punya ibuku. Walaupun sebenarnya aku punya keluarga besar, bahkan sangat besar. “Ketua” dari keluarga besarku ini ialah mbah kakung. Laki-laki berumur 60 tahun kurus tinggi dengan sorot mata tajam, yang sering menelan keberanian setiap anggota keluarga untuk berpendapat. Termasuk ibuku.

Ibuku semakin lemah di depan mbah kakung karena kejadian 15 tahun lalu. Hal itu sampai membuat mbah putri jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ya, ibuku hamil di luar nikah, setelah mencoba memberontak peraturan yang mbah kakung tanamkan pada dirinya. Ibuku melawan, mencoba mengambil jalan berbeda, akhirnya Tuhan menunjukkan bahwa jalan yang ia pilih salah.

Ibu pulang membawa “aku” yang masih belum memiliki bentuk sempurna. Mbah kakung marah besar, mbah putri jatuh sakit melihat putri bungsunya datang dengan perut yang mulai membesar. Namun, keluarga tidak “membuang” ibuku, pesan dari mbah putri sebelum ia pergi, untuk menjaga dan merawat ibuku serta aku nantinya setelah lahir. Keluarga menghormati pesan terakhir mbah putri, begitu pula mbah kakung.

“Mbah kakung sudah mendaftarkanmu, ibu tidak bisa apa-apa, selain itu sepupu-sepupumu juga sekolah di sana, kali ini dengarkan mbah kakung,” jawab ibuku tegas.

Aku marah, bukan hanya marah dengan penolakan ibuku, namun dengan kata-kata terakhir yang dia ucapkan, “Kali ini dengarkan mbah kakung.”

Sarah, 18 Tahun

Aku bosan berdebat. Sangat bosan. Aku tidak mendengarkan kata-kata ibuku, saat ibu membawa formulir pendaftaran di salah satu Universitas Negeri yang tentunya pilihan mbah kakung, lagi. Padahal, aku sudah diterima di salah satu Universitas Seni di Bandung dengan urutan nilai teratas.

Baca Juga  Sudut Pandang Perempuan dari Berbagai Roman

Sebelum kelulusan aku mencoba mengirimkan lukisanku kepada universitas itu, tentunya tanpa sepengetahuan ibu dan mbah kakung. Setelah ada pengumuman penerimaan, aku berjingkrak, namaku ada di bagian paling atas dengan perolehan nilai tertinggi. Aku memberitahukan itu depan ibu dan mbah kakung. Berharap dengan posisi tersebut aku dapat melonggarkan sedikit aturan-aturan mbah kakung. Tapi tidak. Mbah kakung tidak memberikan respon, dia berlalu begitu saja. Ibu-pun sama.

Formulir tersebut berisikan nama universitas pilihan mbah kakung beserta dengan jurusan yang aku tidak mengerti. Tapi apa daya, aku tetap mendaftar dan akhirnya aku lolos. Aku lolos dengan nilai yang cukup baik, walaupun bukan dengan nilai tertinggi. Aku mengetahui bahwa aku pintar, atau mungkin cerdas. Mbah kakung membelai rambutku dan tersenyum tipis saat mengetahuinya.

Sarah, 25 Tahun

Aku muak, sangat muak. Kugenggam rambutku dengan kasar, mencoba untuk menyadarkan diri bahwa aku salah dan mereka benar. Tapi lagi-lagi pikiran tidak menerima peraturan itu. Apa yang kurang? Aku lulus dengan nilai terbaik di usiaku yang masih muda, 22 tahun. Bahkan salah satu profesor menawarkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi lagi dan lagi, mbah kakung berkata tidak. Ibu tetap sama. Aku-pun sama.

Tapi kali ini di usiaku yang sudah cukup untuk menikah, lagi dan lagi keinginanku ditolak. Dimas adalah laki-laki yang selama ini menjadi penenang hati ini. Lamaran Dimas ditolak mentah-mentah di depan anggota keluargaku yang lain. Aku hanya menangis dan menangis, Dimas tidak hanya ditolak, dia juga mendapat pengusiran dengan cara yang tidak bermartabat. Mbah kakung menunjuk marah, “menelan” Dimas dengan sorot matanya. Dimas pergi, aku diam.

Seminggu kemudian aku menghubungi Dimas, menanyakan kabarnya. Kami saling merindukan. Aku mulai merencanakan hal gila. Kisah ibuku kembali terulang. Aku mengajak Dimas untuk pergi ke kampung halamannya, dan memulai hidup di sana bersama dengan keluarga besar Dimas. Dia menolak. Dimas hanya menuyuruhku bersabar, dia akan kembali datang untuk meminangku, walaupun nantinya akan mendapat pengusiran lagi. Dimas akan mencoba. Begitu rencananya. Aku awalnya menolak, namun mulai luluh dengan kata-kata Dimas. Hal ini membuat kekhawatiranku berkurang akan kisah ibuku yang tidak akan terulang.

***

Namun Dimas tidak datang, sebulan, dua bulan sampai dengan akhir tahun. Dimas tetap tidak datang. Khayalanku akan kebahagaiaan kandas. Dimas tidak bisa dihubungi, dia menghilang. Aku mulai mencari keberadaannya. Dimas hilang. Usiaku mulai menginjak angka 26 tahun.

Mbah Kakung mulai meracau akan menjodohkanku dengan pemuda dari kenalannya. Bibit, bebet dan bobot menjadi perhitungan. Keluarga, pekerjaan dan masa depan sudah tertulis jelas dari pemuda itu. Aku tidak mau dan jelas menolak dengan mata membelalak. Aku masih hidup dengan khayalan bersama Dimas. Malam itu aku benar-benar mengacaukan suasana.

Baca Juga  Ika Mendebat Salat

“Cukup dengan ekspektasi Mbah Kakung. Sarah muak, sangat muak dengan ini!” tangkisku saat ibuku menjelaskan pemuda itu.

“Apa yang kau pikirkan, Mbah Kakung memilihkan pemuda terbaik di antara yang terbaik,” jawab ibuku.

“Dari kecil sampai sekarang, Sarah tidak bisa berjalan dengan pilihan Sarah. Sarah hanya bisa diam dan berkata iya. Tolong, tolong kali ini, biar Sarah memutuskan sendiri.”

Aku tidak tahan, aku berteriak.

“Ibu tahu, ini kesalahan Ibu. Dua puluh enam tahun lalu kalau ibu tidak melakukan kesalahan itu, Sarah tidak akan lahir di keluarga yang memuakkan ini. Biang utama dari penderitaan hidup Sarah itu Ibu. Ibu diam setiap Mbah memerintahkan sesuatu. Ibu hanya diam saat melihat Sarah menangis. Kenapa Ibu hanya diam, kenapa Ibu tidak melawan seperti 26 tahun lalu, dosa yang Ibu lakukan, kenapa harus Sarah yang menanggung?!”

Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku, aku mencapai batas.

***

Mbah kakung berjalan ke arah kamarku dan satu tamparan keras, hangat di wajahku. Matanya menelanku, kemarahannya juga memuncak. Ibu terdiam. Lagi-lagi aku terdiam. Tapi aku muak, aku sangat muak. Aku mendorong diri untuk bangkit. Keberanianku terkumpul setelah sekian lama kupendam. Aku menatap mbah kakung dengan berani.

“Kurang, kurang semuanya kurang. Sarah harus masuk ini, masuk itu. Mbah Kakung hancurkan hidup Sarah. Apa yang Mbah Kakung mau? Surga, karena telah menerima banyak dosa dari putri bungsunya yang dinodai pria tidak Mbah kenal. Kemudian menanam pahala karena telah menjadikan cucunya seorang yang baik, penurut, yang mencerminkan kepribadian Mbah,” aku menjadi Sarah yang berbeda malam ini.

“Semoga Mbah mati dengan balutan pahala itu,” begitulah kata-kata terakhirku.

Aku meninggalkan rumah untuk pertama kalinya.

Aku mencari Dimas, aku pergi ke rumahnya. Apa yang aku dapat? Dimas telah menikah, keluarganya memberitahu. Sekarang Dimas berada di salah satu pulau besar di negeri ini, bersama keluarga kecilnya. Sama seperti keinginanku dulu. Aku hilang arah, aku menyalahkan Dimas. Tapi tidak bisa. Dia meninggalkanku dengan sejuta khayalanku untuk bersamanya. Lagi dan lagi penderitaan itu datang. Akan kumaafkan jika dia juga dijodohkan, sama sepertiku yang tidak bisa menolak, awalnya. Namun keluarga Dimas mengatakan bahwa itu wanita pilihannya, mereka sudah mengenal sejak beberapa tahun yang lalu, saat aku masih bersamanya.

***

Kembali ke rumah adalah jalan satu-satunya. Aku ingin memeluk ibuku, ingin meminta maaf dan bersimpuh. Aku bosan dengan hidup. Terbesit untuk mengakhiri hidup, namun aku menghilangkan pikiran tersebut, dengan memikirkan ibuku. Cercaan apalagi yang akan dia terima setelah putri satu-satunya ditemukan mati na`as.

Baca Juga  Hadiah Kecil dari Ayah

Aku pulang.

Ibu menamparku, beliau menangis bersujud dan berteriak. Ibu menjambak rambutku dan mengatakan bahwa aku pantas untuk mati. Aku berpikir awalnya aku pantas menerima ini, karena mengira ibuku masih marah dengan kata-kata yang aku lontarkan sebelumnya. Namun ternyata ada kejadian lain. Mbah kakung jatuh sakit, setelah kata-kata terakhirku padanya, mbah kakung jatuh tersungkur, dengan nafas tersengal-sengal dia menatapku pergi.

Ibuku membawaku ke halaman rumah dengan kasar, aku diperlakukan seperti binatang oleh ibuku sendiri. Ibu menarikku dengan kasar, kemudian menatap marah, sama seperti tatapan mbah kakung. Malam itu hujan pun turun menambah kacau suasana. Kali ini ibu tidak lagi menangis atau berteriak. Kata-kata terakhirnya cukup membunuh jiwaku, anaknya.

“Mati, anakku sudah mati,” tanpa ekspresi dia mengucapkan kata-kata itu. Jahat menembus perasaanku terdalam.

Kata-kata terakhir yang aku dengar darinya.

Sarah, 40 Tahun

Kini aku sedang menikmati kopi di balkon kecil apartemenku. Apakah aku sendirian? Iya, aku sendirian. Empat belas tahun aku sendirian. Aku hidup sendirian di salah satu kota budaya di Italia. Kota itu bernama Firenze. Kukatakan bahwa aku tidak hanya pintar, tapi juga cerdas. Wanita cerdas yang dibuang. Kolegaku sering bertanya mengenai keluargaku, tapi aku lebih banyak diam. Menghasilkan ratusan karya seni yang telah dipajang di puluhan pameran, menjadi jalanku untuk hidup. Aku masih tetap berhubungan degan sepupuku di tanah kelahiran, bertanya kabar ibuku, bagaimana keadaannya, bagaimana kesehatannya. Mereka hanya menjawab singkat, karena takut ketahuan anggota keluarga yang lain.

Ya, aku di-blacklist dari keluarga, tidak ada yang boleh menyebut namaku atau sekedar bercerita tentang bahwa ada satu anggota keluarga yang tinggal di luar negeri. Mbah kakung telah tiada, itu karena ulahku. Semenjak malam itu, dia sakit dan akhirnya menghembuskan napas terakhir. Jalanku dan ibuku sama. Kami dibelenggu oleh peraturan dan kebudayaan. Kami juga korban tragis dari penolakan peraturan tersebut. Kasar memang, namun tidak dapat dipungkiri, mbah putri meninggal karena ulah ibuku, dan mbah kakung juga, namun karena ulahku.

Dahulu, aku memimpikan kebebasan dan sekarang aku punya lebih daripada kebebasan itu. Namun aku sangat merindukan kehangatan ibu dan mbah kakung. Sangat.

Bagikan
Post a Comment