f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
idaman

Membangun Keluarga Idaman; Semua Merasa Nyaman

Membangun keluarga idaman memang menjadi impian setiap orang atau pasangan. Keluarga harmonis, keadaan rumah akan menjadi damai, menyenangkan, dan nyaman. Semua orang ingin membina rumah tangga hingga menjadi keluarga idaman, tetapi tidak semua orang mampu. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Di tahun baru ini, tak ada salahnya jika salah satu resolusimu adalah menciptakan keluarga harmonis dan bahagia. Jika resolusi tersebut tercapai, maka akan menjadi ‘surga dunia’ yang dapat berpengaruh dalam aspek kehidupan anda yang lain. Lalu seperti apakah cara untuk membangun keluarga idaman ala Ust.Khoiruddin Bashori? berikut ulasannya.

Keluarga Idaman itu Seperti Apa sih, Ust?

Ya kalau dalam bahasa kita yang paling sering kita dengarkan, keluarga sakinah mawaddah warahmah, keluarga bahagia, sejahtera, keluarga yang sehat. Yang suasana di dalamnya itu penuh dengan kasih sayang. Coba perhatikan ciri-cirinya, apakah keluarga itu menjadi keluarga idaman atau belum.

Pertama, pasti di dalam keluarga ada aturan main yang jelas. Semua anggota keluarga itu taat dengan aturan main yang telah disepakati. Sebab, terkadang kalau belum ada aturan, maka yang satu ke utara, yang satu ke barat, mungkin anaknya ke kiri, anak yang satu lagi ke kanan. Seperti tidak jelas, bentuk keluarga ini mau dibangun menjadi keluarga yang seperti apa. Kelihatannya belum ada kesepakatan mengenai aturan main yang harus dipegang bersama.

Nah, kalau keluarga idaman biasanya sudah punya undang-undang keluarga yang telah tersepakati, sehingga semua anggota keluarga punya komitmen. Misalnya, memprioritaskan keluarga di atas segalanya. Kalau ada tabrakan acara pribadi, maka tetap menomorsatukan keluarga. Ini menjadi bagian yang disepakati

Kedua, membangun hubungan yang berkualitas dan ini menjadi penting. Harus saling menjaga hubungan antara pasangan, anak, mertua, dengan keluarga besar. Karena menjaga hubungan baik dengan anggota keluarga adalah hal yang terasa penting, sehingga menjadi bagian yang harus diusahakan bersama.

Karena sudah berniat untuk hidup bersama, namanya berkeluarga maka harus menjaga relasi. Sebab, Kalau ada masalah di dalam relasi, biasanya nanti efeknya bisa kemana-mana. Bisa memengaruhi ketenangan dalam bekerja, bisa memengaruhi ketenangan batin karena relasinya tidak lancar. Maka harus menjaga dan merawat hubungan dalam keluarga agar berkualitas.

“Berbeda Pendapat itu Boleh, karena begitu Komunikasi Terbuka, Semua Bisa Terungkap.”

Ketiga, komunikasi terbuka. Berkaitan dengan relasi tadi, supaya relasinya bisa terjaga dengan bagus maka komunikasi harus terbuka antara satu sama lain. Termasuk pikiran, perasaan, atau aspirasi harus dikomunikasikan dengan terbuka. Nah, kalau satu sama lain bisa berkomunikasi dengan baik, maka yang lain akan bisa tahu “oh pasangan saya aspirasinya seperti ini”, “yang saya tidak sukai seperti ini” hingga satu sama lain menyesuaikan diri menjadi lebih gampang.

Baca Juga  Pernikahan Bukanlah Pencapaian dan Pasangan Bukanlah Objek untuk Dimenangkan

Saling menyesuaikan, semuanya harus menuju kepada nilai-nilai yang terdapat di undang-undang keluarga yang telah tersepakati bersama. Karena komunikasi terbuka, maka konsekuensinya adalah perbedaan pendapat.

Berbeda pendapat itu boleh karena begitu komunikasi terbuka, kan semuanya bisa terungkap. Harus meyakini, bahwa berbeda pendapat itu adalah hal biasa. Bisa karena perbedaan usia, misalnya anak dengan orang tua yang dalam banyak hal sering berbeda pendapat karena memang berasal dari generasi yang berbeda.

Keempat, saling mendukung. Saling mendukung satu sama lain ketika pasangan lagi sibuk, maka yang satu harus mengambil alih untuk mencukupkan apa yang mestinya dia lakukan. Jangan sibuk sendiri-sendiri. Kalau saling mendukung, insyaallah apapun yang terjadi itu bisa tercover bersama antara pasangan dan anak-anak.

Bagimana jika dalam Sebuah Keluarga Ada Musuh dalam Selimut ?

Itu sesuatu yang wajar karena kalau kita baca surat At-Taghabun ayat 14, Allah menyatakan dengan statement yang tegas, Yā ayyuhallażīna āmanū inna min azwājikum wa aulādikum ‘aduwwal lakum yang artinya wahai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.

Kalau kita gagal untuk membangun sebuah keluarga yang harmonis dan keluarga idaman, bisa jadi karena ada salah satu atau salah dua, ya pasangan atau mungkin anak-anak kita. Itu bisa terasa dalam keluarga, “ini kok beda sendiri”, “ini kok nggak bisa kompak dalam satu komunitas keluarga.” Mungkin visinya berbeda atau cara berpikir berbeda yang tidak bisa tersalurkan dengan baik sehingga ini terasa menjadi musuh. 

Bisa lihat surat An-Nisa ayat 1, wattaqullāhal ladzī tasā’alūna bihī wal arhām: kita diminta untuk selalu bertakwa kepada Allah dan ketika minta sesuatu maka minta juga kepada Allah untuk menjaga hubungan yang baik dalam keluarga. Innallaha kaana ‘alaikum raqiiban: karena sungguh Allah selalu menjaga dan mengawasimu.

Baca Juga  Seberapa Penting Perjanjian Pranikah?

Jadi, kita diminta untuk bertaqwa dan memohon kepada Allah artinya kita tidak boleh meminta kepada makhluk selain Allah. Wal arhām: kita hendaknya menjaga hubungan baik dalam keluarga dengan penuh kasih sayang. Jadi apapun yang terjadi, mestinya tetap harus berbuat baik dengan keluarga. Jangan hanya karena berbeda, seolah-olah posisi menjadi musuh, ya namanya keluarga tetap harus memperlakukan dengan baik.

Jangan seperti ungkapan lama, “kehilangan telur satu, ya nggak apa-apa”, sudah putus asa. Kalau orang Jawa mengatakan “ilang-ilangan endhog siji.” Itu kan menunjukkan putusnya silaturahmi. Itu tidak boleh karena dalam tafsir Al-Qurthubi menerangkan bahwa menyambung silaturahmi hukumnya wajib. Berarti kalau memutus silaturahmi, hukumnya haram apalagi dengan keluarga sendiri atau dengan saudara sendiri. Itu tidak boleh.

Maka dalam surat An-Nisa ayat 19, Allah menegaskan wa ‘āsyirụhunna bil-ma’rụf: kita harus berinteraksi, bergaul, dan memperlakukan keluarga dengan bil ma’ruf, dengan cara yang baik. Ini tuntunan Allah, memang kadang tidak mudah membangun keluarga idaman, pasti ada kerikil-kerikilnya. Perlakukan semua anggota keluarga dengan baik, berkomunikasi dengan baik, cari solusi yang baik. Supaya kelak, secara perlahan keluarga ini makin menuju kepada keluarga idaman yang menjadi cita-cita bersama. Puncaknya itu ya keluarga idaman.

Cara Menuju Puncak Keluarga Idaman itu Gimana?

Pertama, openness. Komunikasi terbuka itu sangat penting dalam keluarga. Jujur, terbuka, kemudian cari solusi. Ketika saluran komunikasi ini macet, maka keluarnya juga lucu-lucu. Nanti ada yang curhatnya ke media sosial, ada yang curhat ke teman dekat, dan yang berbahaya ketika curhatnya ke lawan jenis kemudian lawan jenisnya ini menerima dengan penuh perhatian padahal yang di rumah tidak perhatian. Ini bisa menjurus pindah ke lain hati jadi perlu kehati-hatian.

Kedua, togetherness. Perlu membangun kebersamaan, sharing nilai-nilai, pikiran, atau keyakinan. Sehingga dalam keluarga terbangun sense of belonging. Jadi ada rasa keterikatan yang kuat, ada rasa memiliki “ini keluargaku, harus saya jaga”, “saya harus punya kontribusi bagi terwujudnya keluarga idaman di keluarga ini.” Ini yang harus ditumbuhkan. Maka togetherness harus kita perhatikan, selalu bersama-sama, jangan sendiri-sendiri. Persamaan dalam suka dan duka.

Ketiga, sharing activities. Melakukan kegiatan bersama anggota keluarga, spending time together. Ya, bisa menghabiskan waktu bareng-bareng keluarga. Mungkin nanya “kemana sebentar?”, bisa juga dengan makan rujak di halaman rumah sambil bersenda gurau, atau berolahraga bareng. Ini untuk menumbuhkan kebersamaan.

Baca Juga  Pernikahan Berbasis Bisnis, Solusi Manis Hindari Perceraian

Keempat, afeksi. Ketika sudah menyangkut keluarga maka faktor rasa menjadi penting. Kita harus menunjukkan kasih sayang dalam banyak bentuk, misalnya dengan kata-kata “makasih ya sayang”, bisa dengan pelukan, atau dengan hadiah. Ini merupakan wujud ekspresi afeksi, menunjukkan bahwa yang bersangkutan itu memang penuh perhatian. Kalau bepergian, bawa pulang oleh-oleh, mengajak jalan-jalan, atau membeli baju baru. Yang penting, afeksinya ini bisa dirasakan satu sama lain.

“Pulang Adalah Kata Terindah bagi Mereka yang Memiliki Keluarga Idaman. Masing-Masing Nyaman Berbagi Rasa dan Mengejar Asa.”

Kelima, support. Keluarga harus saling memberi dan meminta dukungan. Jangan merasa hebat sendiri, seperti tidak membutuhkan dukungan. “Aku nggak butuh bantuan, aku bisa sendiri”, ini tidak benar. Dalam sebuah keluarga, harus saling mendukung. Jadi, ketika anggota keluarga meminta bantuan ya dibantu, tapi ketika diri sendiri perlu bantuan ya minta bantuan juga. Jangan sungkan. Jika support ini bagus, biasanya keluarga akan solid dan kuat.

Keenam, acceptance. Harus berusaha untuk saling memahami, saling menghormati, dan saling mengapresiasi dengan plus minus dan pilihannya masing-masing. Menerima apapun keadaan keluarga. Misalnya, anak yang tadinya terpuruk karena menyalahgunakan narkoba tapi karena perlakuan seorang ibu yang luar biasa, dia bisa menerima dan merangkul. Akhirnya, anaknya bisa kembali sembuh dan berubah menjadi lebih baik. Jangan ketika anggota keluarga terasa berbeda, lalu ‘dibuang’ begitu saja.

Ketujuh, commitment. Belajar bersama untuk menunjukkan komitmen, misalnya bahwa keluarga ini prioritas pertama. Kebahagiaan keluarga adalah prioritas pertama di atas pekerjaan. Sehingga, ketika ada benturan antara keluarga dan pekerjaan, kita bisa pilih keluarga. Kalau memang ingin keluarga menjadi sebuah keluarga idaman, maka semua anggota keluarga harus loyal dalam memprioritaskan keluarga.

Terakhir, semua proses ini tidak instan, maka harus bersabar, menikmati prosesnya. Ketika ada kesulitan, selesaikan dengan cara yang positif. Insyaallah, ketika kita sabar berproses maka harapan dalam keluarga idaman tercapai. Tapi, perlu anda catat bahwa dalam proses sabar itu, akan ada iman yang naik turun. Jika saling mendukung maka menjadi lebih ringan.

Bagikan
Comments
  • membentuk keluarga harmonis merupakan idaman para pasangan yang sudah menikah dan ini tidak mudah, butuh banyak hal yang perlu disesuaikan antara 2 sejoli yang sudah menikah

    Januari 20, 2025
Post a Comment