f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
nikah

Yuk Nikah, Mumpung Lagi Wabah

Menikah adalah impian semua orang. Entah pria atau perempuan, dan menjadi tujuan akhir bagi pasangan sejoli. Bagi kita yang muslim, menikah adalah sunnah. Rasulullah bahkan sangat menganjurkan ummatnya untuk menikah.

Namun banyak hal yang menghambat keinginan seseorang untuk menikah. Dari alasan sepele seperti belum siap, belum mapan, bahkan belum mendapat restu orang tua. Tapi ada satu alasan yang sering kita dengar, yaitu karena biaya yang besar untuk mahar maupun resepsi.

Menikah jaman sekarang memang relatif perlu modal besar. Biaya mahar dan biaya pesta adalah alasannya. Mahar sebagai salah satu kewajiban dalam rangkaian pernikahan mungkin sudah biasa, namun biaya pesta yang kadang hanya karena dorongan gaya hidup bisa jadi penyebab bengkaknya biaya.

Seringkali kita harus merayakan resepsi pernikahan dengan besar-besaran, karena memang keluarga besar yang juga bejibun jumlahnya. Belum lagi lokasi yang juga turut mendorong mahalnya sebuah resepsi. Resepsi di hotel berbintang atau di villa dengan konsep super romantis dan modern bisa berbuah tagihan selangit bagi kedua mempelai dan keluarganya.

Biaya pernikahan kalau kita amati, semakin tahun semakin meningkat. Trend yang selalu berubah setiap tahun dari yang dulu biasa-biasa saja, sekarang acara resepsi sudah memiliki trend. Konsep resepsi yang ditawarkan oleh para Wedding Organizer (WO) semakin beragam, variasi harga dan konsep dibuat unik. Semakin unik, semakin mahal.

Seandainya tak memakai WO-pun, mempelai dan keluarganya harus bersiap menganggarkan biaya-biaya standar untuk sebuah pernikahan. Mulai dari tata rias, cetak undangan, baju pengantin, baju seragam keluarga mempelai, katering makan hingga sewa gedung. Semuanya punya harga standar masing-masing. Itu belum masuk biaya administrasi di KUA atau catatan sipil dan tetek bengek lainnya.

Baca Juga  Perempuan, Matriarki dan Kekerasan
Pandemi Covid Mengubah Segalanya

Pandemi covid-19 yang melanda setahun terakhir nampaknya mulai berdampak ke biaya pernikahan tersebut. Wabah ini menyebabkan banyak kegiatan pernikahan tertunda. Pembatasan keramaian adalah penyebabnya.

Banyak WO yang mengeluhkan aturan pembatasan ini. Akibat adanya aturan pembatasan keramaian banyak mempelai yang menunda perhelatan pernikahannya. Mereka nampaknya tak ingin kehilangan momen resepsi yang megah seperti yang mereka impikan .

Meskipun sebenarnya inti pernikahan adalah akad dan sahnya, bukan pestanya. Namun bagi beberapa orang, resepsi tak kalah penting dari sekadar akadnya. Apalagi jika pihak keluarga sudah ikut andil dalam penentuan pesta. Makanya jangan heran, kadang kala pihak keluarga lebih sibuk mengatur rencana resepsi daripada mempelai yang mau menikah.

Keberadaan wabah Covid sekarang adalah ‘berkah’ bagi para mempelai yang selalu beralasan anggaran sebagai penghambat pernikahan. Bagi mempelai yang memiliki keterbatasan anggaran, adanya covid sekarang adalah waktunya untuk segera mengikat janji suci.

Covid bisa jadi alasan Anda menikah dengan kesederhanaan dan budget minimalis. Tak akan ada yang berani complain, jika Anda dan pasangan hanya menikah sederhana di KUA atau di catatan sipil. Tak akan ada yang berani protes jika kita melaksanakan pesta dengan sederhana dan tanpa undangan selain keluarga dekat kedua mempelai.

***

Anda tak perlu berargumen kesana kemari karena nikah dengan ala kadarnya. Kondisi wabah yang sedang dahsyat-dahsyatnya saat ini sudah cukup menjawab jika ada yang mau protes kenapa acaranya biasa-biasa saja. Jangankan mau acara rame-rame seperti pada umumnya, mau melaksanakan akad saja syaratnya sudah macam-macam dari tim gugus covid setempat.

Hal ini dialami sendiri oleh rekan saya yang baru saja menikah di awal pandemi kemarin. Sebelumnya dia dan pasangannya sudah menghitung anggaran yang hampir puluhan juta rupiah. Namun, karena wabah melanda, pesta pernikahan yang sudah direncanakan pun harus dibatalkan karena dilarang. Terpaksa mengikat janji suci secara sederhana di KUA. Dan mau tau biayanya berapa? tidak sampai 10 juta rupiah!

Baca Juga  Alam dan Cinta Sang Ibu sebagai Sumber Kreativitas

Berkah? Lah iya. Bayangkan berapa uang yang berhasil “selamat” oleh kedua mempelai ini dari acara pernikahan yang sebenarnya adalah pemborosan. Uang yang awalnya harus habis untuk acara pesta, akhirnya bisa masuk ke tabungan, dan tanpa disangka, uang ini ternyata bermanfaat.

Saat wabah semakin mengganas, istri teman saya ini di PHK. Uang simpanan tadilah penyelamatnya. Uang yang awalnya dianggarkan untuk pesta akhirnya digunakan untuk modal usaha. Meskipun tidak besar, namun uang yang tersimpan cukup untuk menjadi penyambung pendapatan keluarga.

Inilah Saatnya!

Apa yang bisa kita petik dari kejadian ini? Jadi gini, kalau menurut saya bagi yang ngebet pengen nikah dan terbatas budget, ya sekaranglah saatnya. Mumpung lagi wabah. Tak perlu pakai acara pesta, tak perlu mengundang banyak orang untuk hadir. Anggaran bisa ditekan, tanpa mengurangi kesakralannya. Calon mertua juga gak akan protes kok karena acara nikahan anaknya mungkin gak semewah harapannya.

Wabah covid yang sedang melanda seluruh negeri mungkin menjadi penghambat beberapa pasangan untuk menunda. Namun, untuk Anda yang memilih jalan kesederhanaan tanpa harus banyak alasan, inilah saat yang tepat. Jadi, mumpung wabah, buruan nikah.

Editor: Lailatul Qoderia

Bagikan
Post a Comment