Menjemput Impian dalam Kebimbangan
Adzan subuh baru selesai berkumandang, ketika terdengar kegaduhan di sebuah sekolah dasar di depan rumahku. Suara riuh anak-anak calon siswa baru SD itu, seakan tak peduli dengan kekhusyukan sholat subuh berjamaah di sebuah masjid dekat sekolah. Dari nada yang kudengar dengan jelas, mereka sedang bersuka cita karena hari pertama masuk sekolah.
Mengapa pagi masih gelap sudah berada di sekolah? Inilah keunikan yang terjadi setiap tahun di desa tempat aku tinggal. Hari pertama tahun pelajaran baru, bagi siswa baru merupakan hari yang paling menyenangkan sekaligus merepotkan banyak orang.
Mereka gembira, senang dan bahagia menjadi siswa baru di SD setelah lulus dari TK. Dari cahaya lampu di halaman sekolah, tampak semburat keceriaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka yang pagi itu sudah rapi dan necis memakai seragam lengkap.
Merepotkan? Ya. Hampir pasti Pak Penjaga SD tersebut semalaman tidak bisa tidur karena ponselnya berdering puluhan kali dari wali murid yang minta agar membuka gerbang sekolah usai waktu subuh.
Untuk apa? Tujuannya sama, yaitu para siswa baru ingin memilih tempat duduk yang mereka rasa strategis, padahal ibu atau bapak gurulah yang akhirnya mengatur posisi duduk mereka dalam kelas. Keunikan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Tapi sejak ada pandemi covid setahun lalu, kini tidak ada lagi.
***
Sepanjang tahun 2020, sekolah tatap muka bisa dibilang tidak ada. Ujian Nasional yang pernah sempat menjadi polemik, juga tidak ada. Proses pembelajaran yang pelaksanaanya daring serentak di semua sekolah seluruh Indonesia. Semua ini terpaksa dilakukan pemerintah demi menekan bertambahnya jumlah penduduk yang terkena maupun terpapar covid 19.
Tidak semua guru, siswa dan orang tua bisa menerima dengan lapang dada aturan ini, apalagi siswa baru di sekolah dasar. Meski aturan ini berlaku untuk semua sekolah tingkat dasar maupun tingkat-tingkat di atasnya, lokasi sekolah juga sangat berpengaruh. Misalnya, sekolah di kota dan di pelosok desa tidak akan sama dalam melaksanakan program pemerintah yang satu ini.
Belajar secara daring yaitu dalam jaringan yang harus melibatkan sebuah perangkat elektronik berupa gawai atau gadget. Kendati jaman sudah maju dan hampir semua orang punya perangkat ini, namun di desa tidak semua anak usia SD punya gadget sendiri.
Akan sangat beruntung bagi mereka yang sudah mendapat fasilitas dari orang tuanya dengan berbagai sarana penunjang demi kelancaran belajarnya. Lain cerita bagi mereka yang terpaksa menggunakan gawai bergantian dengan saudara atau dengan orang tuanya.
Salah satu harapan hampir semua orang di manapun, covid segera berlalu sehingga proses belajar anak kembali normal seperti tahun-tahun sebelumnya. Sempat ada setitik harapan, di tahun 2021 mulai pemberlakuan sekolah tatap muka. Ternyata pandemi ini justru makin mengkhawatirkan. Akhirnya dengan perhitungan secara cermat dan teliti yang melibatkan banyak pihak, sekolah tatap muka kembali ditiadakan.
***
Dampak belajar secara daring tak hanya dirasakan oleh guru dan siswa tapi juga orang tua siswa. Demi keselamatan dan kesehatan anak didik, guru dituntut untuk memiliki ketrampilan dan kiat-kiat jitu bagaimana agar materi pelajaran tersampaikan. Bila perlu, guru mencari model pembelajaran yang lebih praktis dan tidak memberatkan antara siswa dan guru.
Kerja sama orang tua, guru dan siswa sangat penting, karena dengan adanya sinergi antara orang tua dengan sekolah akan membawa dampak yang lebih baik. Bukan saat yang tepat bila orang tua menuntut dan berharap banyak tentang prestasi anak. Keselamatan anak jauh lebih penting. Selain hak belajar, anak juga memiliki hak untuk bermain. Waktu bermain dan area bermain juga penting agar anak punya imunitas dan tidak mudah stress.
Demi kelancaran proses pembelajaran dan demi kesehatan, tidak ada salahnya pihak sekolah terutama guru membuat jadual untuk menemui langsung anak didik atau sebaliknya secara berkala. Karena dengan cara ini, guru akan tahu mana siswa yang benar-benar bisa belajar lewat daring maupun yang ada kendala. Misalnya, di keluarga miskin yang hanya memiliki sebuah gawai dipakai bergantian. Bila ini terjadi, pihak sekolah sudah seharusnya turun tangan agar setiap siswa mendapatkan keadilan dalam belajar.
Prokes 3M masih terus digalakkan dan belajar tatap muka yang diidam-idamkan tahun ini terlaksana, terpaksa ditunda entah sampai kapan. Keceriaan dan keriangan para siswa di sekolah yang tidak tampak dalam setahun terakhir ini, terpaksa pula hanya sebagai mimpi. Apalagi bagi siswa baru, kebahagiaan bertemu dengan guru dan teman-teman baru juga merupakan impian. Ya, mereka serasa menjemput impian dalam kebimbangan.

Seorang ibu rumah tangga dengan 3 anak, masih aktif di ‘Aisyiyah Donorojo Jepara.

Bu Guru Wiendy
Inilah kesan & Pesan anak2 selama belajar daring…
https://youtu.be/006MuozZqpM
Wurry Srie
Trmkasih Bu Guru Wiendy, smg bermanfaat.