Sampah Parasit bagi Manusia
Semakin bertambahnya populasi makhluk hidup, semakin bertambah pula kebutuhan yang mengiringinya. Manusia merupakan parlemen utama yang berpotensi merusak bumi. Banyak manusia yang tidak menyadari hal sepele yang berdampak besar tersebut. Populasi hewan semakin berkurang, populasi tumbuhan berkurang karena penebangan, populasi lingkungan tercemar, dan masih banyak populasi populasi berlebel buruk pada zaman modern ini. Zaman modern merupakan zaman di mana manusia muncul tanpa tahu diri; di mana rasa kepedulian hilang, dan dinmana yang kaya dapat menguasai semuanya.
Konsumsi Plastik
Salah satu perbuatan manusia yang merusak lingkungan sekaligus kesehatan yaitu perbuatan tangan yang selalu memproduksi atau mengonsumsinya. Mengonsumsi dalam kalimat ini berarti, mereka yang menggunakan dan membuang plastik. Tidak bisa dipungkiri bahwa plastik merupakan salah satu kebutuhan utama yang dibutuhkan manusia.
Berbelanja, membawa barang, merupakan salah satu kegiatan yang membutuhkan plastik. Setelah memakainya manusia akan membuangnya, bak habis manis sepah dibuang. Peribahasa ini sangat cocok untuk menyamakan hal tersebut. Apa manfaat manusia menyimpan plastik, mungkin ada beberapa yang menyimpanya, tetapi plastik akan terlihat usang jika menyimpannya terlalu lama, dan berakhir di tempat sampah.
Sebagian dari kita berpendapat bahwa tidak semua plastik bersifat jahat, tetapi ada kalanya kita berhati – hati dalam penggunaanya; mengingat bahwa kita hidup di zaman plastik. Kandungan yang terdapat dari plastik sendiri berupa zat beracun, zat oksidatif yang dapat memicu kanker, diabetes, penyakit jantung dan gangguan endokrin. Sedangan bahan kimia yang terkandung yaitu polivinil klorida (PVC) dan poliuretan (PUR). Tingkat toksisitas keduanya bahkan lebih tinggi dari polietilen tereftakat (PET) dan polietilen densitas tinggi (HDPE).
Membakar Plastik
Berbahayanya kantong plastik akan merengkuh kesehatan badan manusia. Pembakaran plastik akan mencemari udara sehingga akan menyebabkan gangguan pernapasan bagi mereka yang menghirupnya. Mengapa demikian, karena sampah plastik yang dibakar akan terjadi pelepasan zat berbahaya bersamaan dengan asap. Zat tersebut meliputi karbon monoksida, dioksin dan furan, valatil serta partikel berbahaya lainya.
Selain menganggu pernapasan, juga terdapat beberapa dampak berbahaya ketika sampah dibakar; di antaranya menyebabkan pusing dan sakit kepala yang disebabkan oleh zat karbo monoksida. Memicu kanker yang disebabkan oleh zat dioksin dan furan. Gangguan penglihatan dan penurunan kesadaran dan lain lain.
Namun di Indonesia membakar sampah plastik dipercayai masyarakat agar bisa mengurangi jumlah sampah plastik. Pasalnya, ketika sampah plastik dibakar bersamaan dengan sampah plastik lainnya, mereka akan mengeluarkan zat hydrogen dan karbon bercampr dengan zat klorida yang bisa membahayakan orang – orang sekitar.
Bahaya yang diterima lingkungan juga tidak kalah buruknya. Lingkungan merupakan tempat tinggal, tempat terpenting, dan tempat berpulang bagi manusia. Lingkungan berperan penting bagi manusia karena lingkungan pada dasarnya kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral, serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun di dalam lautan. Bagaimana jika lingkungan tersebut beracun, apa yang akan dilakukan manusia.
Plastik, banjir dan Pencemaran di Laut
Banjir tidak hanya disebabkan oleh tsunami, gunung meletus dan bencana alam lainya, tetapi sampah plastik juga menjadi salah satu sebab terjadinya banjir. Tangan tangan manusia yang tidak berakal, akan membuang sampah tidak pada tempatnya. Pinggir jalan, sungai, tanah lapang, menjadi objek termudah dalam hal pembuangan. Ketika hujan turun dengan curah tinggi, akan membawa plastik mengalir sampai dengan ujung sungai. Hal itu yang akan terjadi penyumbatan air sungai, air sungai akan menguap, volume air meningkat, dan banjir akan terjadi setelahnya.
Ketika hujan turun sebagian plastik juga akan tertimbun dengan tanah, yang mengakibatkan kesuburan tanah menjadi menurun. Plastik yang tertimbun d itanah akan menghalangi sirkulasi udara, ruang gerak bawah tanah akan terhambat, yang mengakibatkan nilai penurunan kesuburan tanah. hal tersebut terjadi karena sampah plastik memerlukan waktu yang lama untuk terurai. Mereka membutuhkan waktu 50 sampai 100 tahun untuk terurai, sedangkan putung rokok 10 tahun, kaleng minuman yang terbuat dari alumunium 80 sampai 100 tahun.
Sama halnya denga membuang sampah plastik di laut, air akan tercemar, hewan akan teracuni dan populasi ikan semakin menurun. Plastik yang ada di tubuh hewan tidak akan mudah terurai dan tidak mudah hancur, dan seiring berjalanya waktu; hewan akan mati dan racun akan menyebar ke hewan lainya. Air yang tercemar tersebut mengandung bahan kimia yang mengandung racun seperti Bisphenol A, Styrene Trimer serta Polystyrene.
Jaga Bumi Bersama dari Sampah Plastik
Seharusnya manusia lebih bisa menjaga bumi kita dengan baik. Cara – cara yang dapat kita lakukan untuk mengurangi pemakaian tas benda berbahan plastik yaitu dengan membawa tas belanja sendiri. Tas belanja berbahan kanvas atau tote bag lebih mudah disimpan dan dapat digunakan berulang kali. Menyimpan makanan di wadah kaca, akan lebih sehat daripada menyimpan di plastik. Dengan daur ulang sampah plastik, kita akan lebih bisa mengurangi banyaknya sampah plastik yang terbuat, misalnya didaur ulang menjadi benda unik, bisa berupa tas atau benda yang bermanfaat lainya.
Terdapat beberapa orang yang juga menggiling plastik sehingga terbentuk cacahan. Mereka mengumpulkan plastik berupa botol, gelas, dan lembaran plastik. Cacahan plastik tersebut didaur ulang dan dijadikan plastik yang baru. Namun tidak semua plastic bisa di daur ulang. Jenis plastik yang tidak bisa didaur ulang antara lain jenis polyvinyl chloride (PVC), polystyrene (PS), styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene sturene (ABS), polycarbonate (PC), dan nilon. Sedangkan jenis plastic yang bisa didaur ulang yaitu jenis polypropylene (PP), polyethylene terephthalate (PET), dan low density polyethylene (LDPE). PP biasa dijumpai pada kemasan cup plastik, sedangkan PET dan LDPE berasal dari botol plastik dan botol infus.
Terdapat dua cara penggilingan, yaitu memisahkan bahan yang basah dan yang kering. Jika plastik tersebut kering, pencuciaanya langsung setelah prosses penggilingan. Ssedangkan jika plastik tersebut basah akan dicampur dengan air dingin atau air panas.
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Semester 5 Institut Agama Islam Negeri Tulungagung. Hobinya menulis berita, artikel, cerpen, esai dan lain lain.
