Gelisah Teman
Aku ingin memiliki,
teman yang bisa kuganggu setiap waktu
untuk bicara
untuk diskusi
untuk sekedar curhat
atau pun hanya becanda
Aku ingin memiliki,
teman yang bisa kuganggu setiap waktu
berbicara tentang tanah
diskusi mengenai laut
sekedar curhat isi bumi
atau hanya becanda tentang nasib anak negeri
Andai kupunya,
ku ingin sekali menumpahkan rasa kesalku
memakikan ketidakberdayaanku
meluapkan kebodohanku
karena orang pintarlah yang saat ini bisa masuk istana
pintar memakaikan topeng di wajah
agar selalu nampak sumringah
walau di saat yang sama banyak napas yang terengah
memenuhi kebutuhan hidup yang semakin tak terarah
Ke mana teman itu?
Satu, yang bisa berkoar di layar kaca
Ia sekarang tiarap
karena bisa jadi jika ia tetap membara
semua akan digulungkan tikar
Dua, yang bisa menulis di media cetak
Ia bersembunyi
mencari aman dan menutup diri
karena tahu akan nasib anak dan isteri
jika ia terus melantunkan kalimat kritis
Tiga, para tameng negara penegak hukum
Tampak pistolnya tak lebih dari mainan anak-anak
yang dipegang hanya untuk kesenangan
bukan sebagai alat pengusir kekacauan
media pencipta keamanan
Empat, para anggota dewan
rindu rasa dengan spanduk janji lima tahunan
merdu nian saat masih mau berjabat tangan
dengan para rakyat yang hanya mampu sarungan
janji merdumu itu terbalut larut
seiring dengan hidangan cuci mulut
Para pejabat…
“Hei!”
“memang kau punya kawan pejabat?”
“tidak,” jawabku
“kalau begitu berdoa sajalah,”
“kita hanya rakyat jelata”
“yang tak punya daya upaya”
Pejabat…
tau kau dengarkah jerit hati rakyatmu?
Ogh…!
Agh…!
A_KarTasikmalaya, 231220

Penulis lahir di Singaparna Tasikmalaya adalah seorang pendidik di madrasah aliyah swasta di kota tersebut. Aktivis Nasyiatul Aisyiyah ini meniti pengalaman organisasinya mulai dari PRNA Singaparna sampai menjadi salah satu pimpinan harian di PWNA Jawa Barat. Kecintaannya terhadap dunia literasi melahirkan beberapa tulisan yang terbit di surat Kabar Priangan, Siap Belajar, dan Tribun Jabar. Salah satu puisinya terdapat pada antologi berjudul Nyanyian Tahun yang Tak Kulagukan Rindu dan 1 Januari Biru yang diterbitkan oleh FAM Publishing, Sawidak yang diterbitkan oleh Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Jawa Barat. Karya penanya dapat ditemui di akarmenulis.blogspot.com.
