5 Hal Tak Terduga Akibat Anak Selalu Dibelikan Buku
Setiap bulan saya selalu membelikan buku untuk anak saya. Entah hanya satu buku atau satu paket besar, tergantung budget yang ada di bulan itu, saya tidak pernah absen membeli buku. Saya memang pecinta buku anak. Meskipun mendiang ibu saya dulu juga membelikan buku saat saya kecil, entah kenapa saya seperti mengenang masa kecil saya saat membaca buku anak yang ada di rumah.
Tiga bulan lagi, anak saya genap berusia dua tahun. Dan buku anak yang sudah ia miliki sudah hampir ratusan jumlahnya. Mulai dari buku berbahasa Inggris, Jawa, dan Indonesia semuanya terjajar rapi di empat rak buku yang kami punya. Dulu, saya berpikir bahwa mengenalkannya buku sedini mungkin bermanfaat bagi perkembangan bahasanya. Tapi, ternyata manfaatnya lebih dari itu. Ini bukan tentang bertambahnya kosakata atau pengetahuan, karena saya yakin artikel atau jurnal di luar sana sudah banyak membuktikannya. Ketika saya mengamati perkembangan anak saya setiap harinya, ternyata inilah 5 hal tak terduga akibat memaparkan buku kepadanya sejak dia lahir.
1. Otot lehernya terstimulasi
Saat anak saya masih berusaha menegakkan kepalanya dan air liur yang menetes ke mana-mana, saya suka menjebaknya di antara buku-buku di atas matrasnya. Ternyata, itu membantu otot lehernya menjadi lebih kuat. Lama-lama, dia bisa menatap beberapa judul buku lebih lama saat dia sedang tengkurap. Dia pun seperti tertarik untuk menyentuh gambar di bukunya saat tangan mungilnya terus bergerak mendekati buku.
2. Motorik halusnya terlatih
Jangan ditanya sudah berapa buku yang anak saya sobek, injak, dan remas. Sebagai ibu baru, saya cukup terkejut dengan kekuatan tangan dan kaki seorang bayi. Ada buku favorit kami yang berjudul Never Look for A Chameleon! dengan bahan kaku dan tebal di sampul dan halamannya yang sering saya bacakan untuknya. Saya pikir itu sudah cukup aman untuk tidak dirusak oleh anak saya. Tapi seiring bertambahnya umur, buku itu kini tinggal kenangan. Setiap halamannya lepas dan bahkan bunglon itu pun seperti bukan bunglon lagi akibat ditarik dan dicoret. Tapi, sekarang ini saya sudah berani membiarkannya melihat buku berbahan kertas tanpa saya awasi. Dia sudah bisa membuka halaman demi halaman dengan baik. Sudah tidak ada di fase robek-merobek di umur 19 bulan. Untuk buku yang ada fitur interaktifnya seperti menggerakkan senter, memutar, atau membuka jendela di halaman buku, dia pun bisa melakukannya dengan baik.
3. Fokus melihat gambar lebih lama
Ketika usianya kurang dari satu tahun, anak saya tidak sabaran saat dibacakan buku. Dia cenderung gelisah untuk membuka halaman berikutnya sebelum saya selesai membacanya. Seperti cepat bosan untuk berlama-lama di satu halaman saja. Tapi, kini tidak lagi. Terakhir kali saya membacakan buku berjudul Dik Buto Makan Rembulan untuknya, dia tidak hanya menunjuk si Buto tapi juga bisa tertawa. Bahkan saat ia membuka buku itu sendiri, saya lihat dia seperti mengamati setiap halamannya. Pemandangan seperti anak yang sudah bisa membaca mandiri. Bahagianya!
4. Mengambil buku yang di dalamnya ada objek yang saya sebut
Ini mungkin menjadi hal yang sangat mengagumkan untuk saya dalam mengenalkan buku ke anak. Pernah suatu ketika anak saya menunjuk jam yang tergantung di dinding. Saya bilang, “Apa itu? Itu jam. Jam.” Dan anak saya berlari menuju rak bagian bawah dan mengambil sebuah buku Sehari Meneladani Nabi. Saya bingung melihat apa yang dia lakukan. Tapi tidak lama, dia berhenti di satu halaman yang ada gambar jam besar untuk menunjukkan waktu salat. Saya pun bertepuk tangan riuh seperti melihat dia memenangkan lomba. Kok bisa dia mengingat gambar jam di buku itu? Tapi saya rasa, itulah ajaibnya konsisten membacakan buku ke anak. Ternyata dia tidak hanya mendengar dan melihat, tapi dia juga bisa mengingatnya.
5. Tidak bosan dengan buku
Anak saya pun sama dengan anak kebanyakan walaupun kelihatannya bisa menyukai buku sejak kecil. Kadang saat saya mengajaknya keluar dengan sepupunya yang sedang menonton YouTube di HP, dia penasaran dan ikut melihat. Atau saat menginap di rumah kakeknya dan sepupu yang lain sedang menonton TV, dia juga menonton. Tapi sebelum saya mengingatkannya untuk berhenti, anak saya sudah kabur duluan melakukan hal lain.
Pertama kalinya saya Salat Id bersamanya bulan lalu, saya membekalinya dengan beberapa buku kesukaannya beserta camilannya. Ternyata anak saya bisa untuk tidak ‘mengganggu’ kekhidmatan saat Salat Id berlangsung. Padahal kalau di rumah, dia sering tiba-tiba merayap di antara kaki suami saya saat Salat atau memeluk saya dari belakang saat sujud. Belum lagi cekikikannya. Namun, hal itu tidak terjadi kemarin. Dia asyik dengan buku dan mengunyah amplang. Begitu pun saat di mobil, kami tidak butuh tontonan anak atau lagu anak untuknya karena melihat buku baginya sudah cukup walaupun setiap hari, dia selalu membuka buku di rumah. Tentunya hal-hal di atas membuat saya seperti berjalan di jalan yang benar.
Tidak salah membelikan buku bahkan sebelum anak saya lahir (semoga suami saya masih terus mendukung saya untuk membeli buku anak setelah membaca tulisan ini). Dan semoga seluruh kenangannya ketika membaca buku bersama atau tanpa saya bisa memberikan kesan untuknya bahwa buku bisa membantunya dalam banyak hal.
Ibu yang hobi belanja, membaca, dan menulis buku anak.

Yove Hesu
Happy birthday to you the writer, may God is always blessing you, get your dream, wish you all the best life… Amen.