Warung Bakso P-4
Parman merasa malu mengakui ayahnya yang hanya seorang sopir angkutan umum. Ketika teman-temannya bertanya perihal ayahnya, maka Parman berbohong bahwa ayahnya bekerja di instansi pemerintah. Kebohongan pertama melahirkan kebohongan kedua, ketiga, dan seterusnya. Parman berbohong tentang ia yang jarang jajan di sekolah dengan mengatakan bahwa makanan kantin tidak higienis dan dapat membuat sakit perut. Padahal ia tidak mempunyai uang untuk jajan, uangnya habis untuk ongkos naik becak pulang pergi. Jika ingin jajan ia harus rela berjalan jauh dari rumah ke sekolah.
Parman pun menebar kebohongan selanjutnya, seandainya teman-teman memergoki dirinya berjalan kaki menuju sekolah, ia mengatakan dengan berjalan kaki kita seperti berolahraga, dan olahraga dapat menyehatkan badan. Kalau teman-teman melihatnya naik becak, maka akalnya bergerak cepat menciptakan suatu kebohongan baru, bahwa sebagai makhluk hidup kita harus saling tolong menolong, ia ingin berbagi sebagian rezeki yang telah Tuhan berikan kepada tukang becak.
Begitulah hari-hari dilalui dengan kebohongan-kebohongan, hingga suatu hari ia sedang naik angkutan umum bersama teman-teman ke toko buku. Secara kebetulan sang sopir adalah ayahnya. Ayahnya menyapa Parman, namun Parman tak menanggapinya karena malu jika teman-teman mendengarnya.
Ketika Parman dan teman-temannya sudah turun dari angkot. Pertemuan Paijo—Ayah Parman dengan anaknya di angkot membuat jejak luka di hati. Paijo tenggelam dalam lamunan, dirinya seperti orang asing dihadapan anaknya. Anak yang dibesarkan dengan darah dan air mata dari kecil hingga menginjak masa remaja. Karena banyak melamun Paijo kehilangan konsentrasi saat mengendarai mobil. Lalu ia menabrak tiang di pinggir jalan, entah siapa yang meletakan tiang di sana. Darah segar keluar dari pelipis, mengalir di pipi yang telah kadaluwarsa. Orang-orang yang melihat tragedi tersebut lantas menolongnya dan membawa ke rumah sakit terdekat. Namun terlambat, malaikat maut telah menanggalkan roh Paijo dari jasadnya.
Sekarang Parman menyesali perbuatannya. Dia salah dalam memandang ayah. Ayah sudah bekerja keras semampu yang ia bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sekarang Paman harus membayar kebohongan yang telah membuat ayahnya terluka lalu meninggalkan dunia. Parman menggantikan peran ayahnya yang telah wafat. Karena ia tidak bisa mengendarai mobil, maka ia memilih menjadi tukang bakso keliling. Bakso diambil dari orang lain beserta gerobaknya dan membagi hasil dengan orang tersebut. Paginya bersekolah lalu siang sampai malam ia berjualan bakso. Semua itu Parman lakukan untuk menafkahi ibu dan adik. Prishaa—Ibu Parman tidak bisa berjalan akibat kecelakaan beberapa tahun yang lalu dan Pamela—Adik Parman baru kelas 1 sekolah dasar.
Ujian kembali menerpa Parman, ia belum lama membuka lembaran-lembaran baru sebagai tukang bakso. Tetapi sudah harus bertemu bab kesedihan selanjutnya. Ibu semata wayang menghembuskan nafas terakhir di rumah yang tak ramah—atap bocor dan tembok berwarna putih kusam. Parman sangat menyayangi ibunya, ia bak bidadari yang rela melepaskan sayapnya, terjun di kehidupan melarat bersama suami tercinta. Ia memilih ayah sebagai suaminya yang hanya sopir angkutan umum dan menolak lamaran lelaki lain yang secara materi lebih baik daripada ayah. Ayah bagi ibu adalah suami yang berperilaku lemah lembut—tidak pernah main tangan maupun main belakang dengan perempuan lain, sedangkan ibu bagi Parman serupa pohon rimbun yang siap menaungi Parman dan adik tatkala masalah menjamah mereka.
Sekarang tanpa ayah dan ibu sanggupkah Parman bertahan hidup di dunia orang-orang dewasa. Dunia di mana ia harus berpikir untuk memecahkan masalah-masalah yang tak pernah reda. Namun, tak ada pilihan lain, selain tetap membakar semangatnya meskipun hujan deras, hatinya berusaha tetap sejuk walaupun panas menggigit kulit-kulit. Urat-uratnya mulai terpahat di kaki-kaki legam yang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Suara keluar dari bibir-bibir runcingnya menghunuskan ke telinga-telinga manusia agar banyak yang membeli dagangannya.
Jam terus berputar, hari berganti hari, Parman tetap tabah menjalani hidup. Ketika memasuki usia perdagangan sekitar 6 bulan, rasa jemu bersua pada lubuk hati Paman. Ia merasa roda perekonomian bergerak lambat menuju ke arah kemajuan. Otaknya terus berputar, mencari pintu untuk mengeluarkan masalahnya. Lalu Parman memiliki ide untuk membuka warung bakso di pinggir jalan dengan rasa bakso yang bervariasi.
Setelah menemukan ruko dengan harga sewa yang terjangkau, Parman mengembalikan gerobak bakso kepada pemiliknya, ia mengucapkan banyak-banyak terima kasih. Parman memiliki tekad bulat untuk membuka usaha sendiri. Parman menamai warung bakso P-4 sesuai huruf depan keluarganya—Paijo, Prishaa, Parman dan Pamela. Untuk sementara warung bakso P-4 mempunyai menu bakso sewot, bakso ketawa, dan bakso kopi.
Bakso sewot ukurannya besar, di dalamnya diisi oleh cabai rawit sehingga memiliki rasa pedas. Parman terinspirasi tentang kehidupan jalanan yang semrawut dengan emosi yang sulit diatur. Meneriakkan klakson dengan dibumbui kata-kata kasar ketika macet menyapa, terburu-buru mengejar dunia yang fana.
Bakso ketawa ukurannya sedang, diukir permukaan bakso dengan menyerupai mulut yang terbuka lebar dengan isi dalamnya keju. Parman terinspirasi dari adiknya yang selalu tertawa karena merasa senang atau tertawa untuk menertawakan kesedihannya. Ditinggal ayah dan ibu di usianya yang masih kecil bersama kakaknya. Ceruk matanya tak sanggup tenggelamkan duka, hingga terbitlah tawa.
Bakso kopi berwarna hitam yang berasal dari charcoal dengan kuah kari. Parman terinspirasi dari masa-masa kelam hidupnya. Tapi dari kesalahan yang telah ditanamnya, ia dapat memetik pelajaran, bahwa penting untuk menghargai usaha seseorang.
Mungkin karena kurang promosi hari pertama, kedua, ketiga pembeli masih bisa dihitung dengan jari Parman. Hari keempat, kelima, keenam ada sedikit kemajuan, pengunjung dapat dihitung dengan jari Parman dan ditambah jari Pamela. Hari-hari selanjutnya warung bakso P-4 mulai dibanjiri pembeli. Cita rasa yang unik dibawa oleh mulut-mulut hinggap ke telinga-telinga peminat bakso. Parman menjadi kewalahan, ia membutuhkan dua orang untuk membantunya. Lalu ia merekrut orang-orang terdekat. Selain memperoleh uang, Parman dapat membantu tetangganya yang menganggur untuk bekerja di warung bakso P-4.
Dagangannya pun laris selama beberapa bulan, namun seperti pedagang pada umumnya, arus perekonomian tidak selamanya deras, akan surut pada waktunya. Untuk membanjiri warungnya kembali, ia membuat menu baru lagi bernama bakso rest in peace.
Bakso rest in peace memiliki bentuk yang berbeda dari teman-temannya. Bentuknya seperti kuburan, dengan ceker ayam sebagai batu nisan dan urat sapi yang telah dicincang halus untuk menutupi permukaan kuburan. Paijo membuat bakso rest in peace untuk mengenang ayah dan ibu yang telah banyak berjasa. Semoga mereka berbahagia di alam baka, mereka sudah tak perlu bersusah payah memeras keringat untuk memberi makan keluarga.
Pria introver yang kadang-kadang menulis cerpen dan puisi, serta mengabadikan momen melalui fotografi. Bergiat di beberapa komunitas literasi. IG: rudi_setiawan36
