Mudik bukan hanya melulu urusan rindu kampung halaman. Bukan hanya sebagai acara sungkem pada orang tua, ziarah ke makam leluhur atau reuni dengan keluarga, kerabat serta sahabat.
Sisi lain mudik adalah sesi yang tepat untuk wawancara : sudah berjodoh atau belum, berapa anak dipunya, bekerja di mana dan apa jabatannya. Efek samping lainnya menjadi momen untuk survey baju terbaru, rumah megah, mobil terkini, perhiasan termulia. Mudik terkadang menjadi instrumen mengukur kesuksesan teman, tetangga, bahkan anggota keluarga. Lalu mengevaluasi seberapa hebat diri kita?
Bila diteliti, bisa jadi ini bermula karena manusia mudah terpesona. Tiap orang punya rujukan sendiri. Boleh saja terpesona pada glowingnya Kim Jisoo, anggota Blackpink. Pencinta sepakbola bisa jadi terpesona pada rekor-rekor Messi atau Ronaldo. Terkagum pada statistik kesuksesan para sultan dan crazy rich milenial. Yang konsen akademis silau dengan penerima beasiswa LPDP. Mungkin pada saat musim reuni sekolah, tercengang dengan angkatan satu letting sekolah yang punya milyaran di umur sebelum 30-an.
Terpesona Diri Sendiri
Meskipun begitu, penyakit yang jauh lebih berbahaya bukan terpesona pada orang lain melainkan pada diri sendiri. Manusia adalah makhluk yang terpesona pada diri mereka sendiri, demikian kata malaikat Raqib dalam kisah Malaikat Cuti, termuat dalam Bukan Perawan Maria, karya Feby Indirani.
Bagi sebagian besar muslim, rasanya tak susah-susah amat untuk berpuasa. Kecuali kita bertanya pada para kuli dan para pekerja yang membutuhkan fisik yang berat.
Di luar puasa Ramadhan ini, banyak orang cukup sukses menahan diri dari mengkonsumsi makanan yang menggendutkan. Diet dari minuman tak berpihak pada tubuh nan sehat. Bahkan sekuat tenaga mampu membujang tanpa seks.
Tetapi tampaknya yang lebih berat adalah mencegah tidak pamer kesuksesan dan keberhasilan. Pendek kata, berpuasa dari flexing. Bahkan aktivitas ibadah pun tidak netral dari infeksi flexing. Di saat umroh, misalnya ada yang menjadikan Ka’bah sebagai lokasi yang instagramable.
Dunia kini mewujud layaknya gelaran ekspo. Pilihan utamanya, setiap orang buka stand masing-masing. Untuk membuktikan bahwa seseorang paling kaya, paling hebat, paling sukses, paling bahagia dan atau mengklaim dirinya paling benar. Pilihan kedua, menjadi pengunjung yang raun-raun melihat bermacam-macam produk keberhasilan dan kesuksesan. Kalau pun anda membeli sesuatu, makan sesuatu bahkan cuma numpang mejeng, toh ujungnya pamer juga. Mirip polah bocah-bocah : menjilat es krim di depan teman-teman tanpa membaginya. Rasanya happy menikmati sesuatu secara eksklusif.
Di era medsos, perilaku suka pamer ini seperti api ketemu dengan bensin. Kesempatannya terbuka 24 jam nonstop, karena medsos bukan rumah sakit yang mengatur jam bezuknya. Bukan seperti sekolah, menunggu bel istirahat, untuk berlarian ke kantin. Bukan shift satpam yang diatur per delapan jam.
Apa saja bisa dipamerkan. Saat seseorang mendapat musibah dan cobaan, misalnya tak jarang menaikkan status “Tuhan bersama orang yang sabar”. Dengan kata lain, mengumumkan bahwa dia golongan orang yang sabar. Tatkala makan berlauk kangkung, ia tetap tergoda untuk memposting “bahagia itu sederhana”. Ternyata bahagia yang letaknya dalam diri sendiri pun harus mendapat persetujuan khalayak.
Soal pamer ini tentu saja paling kentara adalah pamer kekayaan. Para ahli flexing bersliweran di medsos, menunjukkan Tesla, iphone 13, kondangan dengan jet pribadi, tas LV, donasi dana dengan nilai milyaran dan sebagainya.
Mabuk Pengakuan
Ya, manusia zaman kiwari semakin mabuk pengakuan. Untuk ini, manusia melakukan berbagai modus. Seperti dikisahkan Ong Hok Ham, konon raja Majapahit pada zaman kejayaannya, setiap menjamu tamu-tamu kerajaan dengan menggunakan piring, sendok dan mangkuk emas. Begitu acara makan selesai, di depan para tamu itu, para pembantunya cukup membuang alat-alat makan tadi di sungai daripada repot-repot membuang waktu untuk mencucinya. Padahal di dasar sungai itu telah dipasang jaring untuk menampung dan mengangkat kembali emas-emas tersebut.
Manipulasi yang dilakukan crazy rich abal-abal di zaman ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh “raja Majapahit” tadi. Terlepas itu hanya mitos belaka.
Memaknai kehidupan dunia dengan cara-cara yang didominasi menaikkan status dan flexing dan status dapat mereduksi makna hidup menjadi soal kalah menang. Memamerkan kelas VVIP hanya untuk menunjukkan bahwa ia bukan kelas ekonomi.
Kalaupun manusia tidak menang, paling tidak ingin ia ada di piramida menengah atas paling atas. Manusia ingin berada di puncak piramida. Sebab manusia adalah homo hierarchicus, tipe makhluk yang mengatur diri sendiri secara hirarkis. Manusia merasa puas di posisi atas karena merasa puas mendapat pengakuan dari status sosialnya.
Manusia adalah spesies Pengejar Status. Adam Smith dalam teori of Moral Sentiments menyebutkan manusia mengejar kaya bukan karena butuh, melainkan karena bangga dengan kekayaannya, sehingga wajar jika mendapat perhatian dari banyak orang. Lahirlah istilah sultan, crazy rich, juragan, sosialita. Mereka menjadi pemenang di antara like, view, followers, subscribe dsb.
Ya kalau kita bisa sedikit bersaing. Jika kaya juga tidak, tetapi masih tenggelam dalam makna kehidupan flexing, maka yang terjadi justru crazy yes rich no. Miskin iya, waras tidak.
Dalam konteks berpuasa, rasanya kita belum mampu menahan diri dari dari pamer-pamer ini. Lalu Ramadan usai, akankah lebaran bermakna sebagai puncak kemenangan? Bisa jadi lebaran justru menjadi puncaknya laku pamer-pamer ini.
Jangan-jangan berpuasa yang didapat hanya lapar dan haus dan tentu saja update status. Lebih jauh lagi, tak cuma mudik yang diwarnai pamer, tetapi keseharian kita sudah tak bisa lepas dari pamer. Dengan kata lain, urip mung mampir flexing.
Spirit Silaturahim
Spirit mudik adalah spirit Idul Fitri. Kembali pada fitrah manusia yang hanif. Makhluk yang berkecenderungan untuk berbuat baik. Tidak seperti yang oleh Richard Dawkins gambarkan dalam The Selfish Gene manusia yang punya gen egois.
Dalam mitos Yunani terdapat kisah tentang Narcissus yang mati tenggelam tak mampu menguasai hasratnya untuk selalu bercermin di air telaga. Setiap saat mengagumi ketamapanan, kehabatan, keelokan, kesuksean dirinya sendiri.
Semoga kita bukan narcisssus-narscissus sehingga lupa bahwa manusia yang perlu dikagumi, dicontoh dan ditiru adalah Nabi Muhammad SAW. Dengan spirit menghindari flexing ini, amal apa yang akan kita pamerkan pada Hari Perhitungan?
Menyaksikan jutaan pemudik, sebagia pemudik rela berhujan panas, berdesak-desakan, mengalami macet perjalanan bahkan dengan sarana dan bekal ala kadarnya, semoga “mudik mung mampir flexing” ini hanya sebuah kekhawatiran yang berlebihan. Sebab hidup memang akan bermakna jika menjauhi perilaku flexing, egois dan narsis berlebihan. Urip ora mung mampir flexing. Hidup yang sebentar ini jangan hanya untuk pamer-pamer. Kehidupan yang indah adalah kehidupan yang mampu menyambung (shilat) tali kasih sayang (rahim).
Semoga kita dapat meraih kemenangan. Pencapaian tertinggi adalah mendapat syafaat agar mudik sekampung dengan Nabi di akhirat nanti. Wallahu a’lam.
Semula ayanya berniat menyematkan Nurul Ka’bah di akta kelahiran sebagai namanya. Bertautan kisah itu, kata “cahaya” diwariskan menjadi nama puterinya. Keseharian ia menjadi policy analyst di Pemerintah Kota Tegal. Suka membaca dan menulis menjadi caranya untuk “mencahayai” setidaknya untuk dirinya sendiri.
