Site icon Inspirasi Muslimah

Tantangan Kemanusiaan dari Peristiwa Akhir September

kemanusiaan

Setiap tahun, di bulan September, ingatan kita akan tertuju pada peristiwa keji pemeberontakan G30S/PKI. Peristiwa ini menurut sejarah telah menghilangkan 6 nyawa jendral Indonesia kala itu. Kejadian tersebut berlangsung malam hingga dini hari pada 30 September 1965-1 Oktober 1965. Nahasnya peristiwa ini justru terjadi setelah berhasil meraih kemerdekaan. Tentu peristiwa ini mempertanyakan kembali arti kemerdekaan yang telah diraih.

Kemerdekaan yang diraih dari penjajahan adalah kemerdekaan yang tinggal menjadi kenangan. Adapun kemerdekaan yang sekarang adalah bagaimana menghadapi permasalahan setelah kemerdekaan.

Secara umum, latar G30S PKI dilatarbelakangi oleh dominasi ideologi Nasionalisme, Agama, dan Komunisme (NASAKOM) yang berlangsung sejak era Demokrasi Terpimpin diterapkan, yakni tahun 1959-1965 di bawah kekuasaan Presiden Soekarno. Beberapa hal lain yang menyebabkan mencuatnya gerakan yang menewaskan para Jenderal ini adalah ketidakharmonisan hubungan anggota TNI dan juga PKI. Pertentangan pun muncul di antara keduanya. Setelah gerakan tersebut berhasil ditumpas, muncul berbagai aksi dari kalangan masyarakat untuk membubarkan PKI.

Tantangan Menjaga Keharmonisan

Wilayah yang masuk dalam peta kemerdekaan Indonesia sangat luas, sehingga tidak mungkin kita terlepas dari perbedaan-perbedaan yang ada. Ketidakharmonisan antara TNI dan PKI menjadi contoh nyata bagi kita bahwa perbedaan itu memiliki potensi atau kemungkinan yang besar untuk melahirkan pertentangan.

Jika hal ini terus terjadi, bukan tidak mungkin bahwa NKRI hanya akan ada dalam dunia mimpi. Benar kata presiden pertama NKRI, Soekarno, “Perjuangan kalian lebih berat dari pada perjuanganku, sebab perjuanganku hanya melawan penjajah. Sedangkan perjuangan kalian melawan bagsa sendiri“.

Oleh karena itu, hal ini menjadi tantangan serius dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai generasi penerus bangsa, kita perlu memiliki tenggang rasa dalam hal perbedaan. Tidak seperti PKI yang hanya memakai kaca mata kuda ketika tidak ada kesamaan sikap politik dan ideologi Indonesia dengan TNI. Ujung-ujungnya secara langsung mereka memberantas para jendral.

Perebutan Kekuasaan

Alih-alih ingin menguasai Indonesia dengan menjadikan komunis sebagai basis ideologinya, PKI justru dibubarkan terlebih dulu setelah kejadian meninggalnya 6 jendral tersebut. Sontak kematian itu menjadi hal yang mengerikan di mata masyarakat Indonesia bahkan dunia. karena nyawa harus melayang dengan sia-sia hanya karena kekuasaan.

Karena TNI khawatir bakal terjadi perebutan kekuasaan. Secara sigap, TNI menolak usulan PKI tentang pendirian angkatan kelima dari buruh dan petani yang dipersenjatai. Mereka tahu betapa sulitnya mengendalikan masyarakat yang bersenjata.

Tentunya, dalam hal perebutan kekuasaan ini menjadi hal yang tidak dapat terhindarkan. Pancasila sebagai basis ideologi NKRI lebih diterima daripada komunis. Karena pancasila lebih memenuhi kriteria di masyarakat kita daripada komunis.

Gejolak perebutan kekuasaan ini barangkali menjadi contoh bagi kita bahwa kekuasaan dapat menipu daya umat manusia jika tidak diimbangi dengan rasa kemanusiaan. Seseorang bisa lupa bahwa tanpa kehadiran orang di sekitarnya, kekuasaan itu hanyalah istilah kata belaka, tidak ada wujudnya.

Maka benar adanya, mengutip perkataan dari Gus dur, presiden ke-4 RI bahwa tidak ada jabatan yang perlu mati-matian mempertahankannya. Barangkali PKI terlalu ambisius mengejar kekuasaan sehingga menghalalkan segala cara. Tentu saja hal ini sangat berakibat fatal bagi diri dan sekitarnya.

Mengingat Untuk Merawat

Sebuah ungkapan jangan sekali-kali melupakan sejarah atau JAS MERAH patut kita sematkan dalam pikiran kita. Sebagai generasi penerus bangsa, peristiwa G30S/PKI cukup terjadi sekali saja dalam hidup. Peristiwa itu cukup menyayat hati bangsa ini.

Tugas kita sekarang adalah mengingatnya supaya tidak lupa. Lupa adalah hal manusiawi. Tetapi, lupa dapat terjadi jika tidak ada kebiasaan yang mengingatkannya kembali. karena bisa saja sejarah itu akan terhapus secara tiba-tiba jika sudah tidak ada yang peduli dengannya. Maka, salah satu wujud dari kepedulian itu adalah dengan mengingatnya. Dengan mengingat harapannya keutuhan Indonesian dapat terjaga.

Setelah mengingat, kita akan tergerak untuk merawat. Merawat adalah hal yang tidak mudah. Ibarat merawat tanaman yang ada di halaman rumah kita, perlu menyiramnya secara rutin. Tidak asal siram. Begitu juga dengan merawat ingatan tentang peristiwa ini, perlu membaca dan menuliskannya supaya tidak lupa dan tidak lekang oleh zaman.

Tidak ada kata NKRI harga mati, yang ada hanyalah NKRI milik penduduk negri yang memiliki hati nurani. Siapakah mereka itu? Mereka adalah yang menjunjung tanah air tercinta tanpa ada tumpah darah manusia. Itulah jihad yang harus dilakukan. Mewujudkan lima sila pancasila adalah hal utama yang harus dilakukan.

Semoga kita dapat terus menjaga dan merawat nilai kemanusiaan yang ada. Tanpa ada rasa putus asa dan bosan. Demi terciptanya peradaban yang gemilang, peradaban yang dicita-citakan banyak orang, terutama yang termaktub dalam sila ke dua dan ketiga yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab serta persatuan Indonesia.

Bagikan
Exit mobile version