Sibuk Mengarang Segala yang Mengering
#1
Sepagi ini, sudah perih mata kita diterkam bait demi bait sunyi. Sunyi yang betul-betul lirih. Hingga terasa jiwa tersayat perih. Betapa siksa terjebak di ruang hampa. Dan segala kegemerlapan dunia menyapa di saat tak terduga. Sedang kantong kian kerontang. Kepala kita pontang-panting, sibuk mengarang segala yang mengering. Tong kosong bunyinya nyaring.
#2
Segala hening kini terdampar dalam kening. Menumpahkan pikir yang terus membawa pening. Awal bulan, pertengahan bulan, pengujung bulan. Berlalu bersama waktu-waktu yang pilu. Kita terjebak lagi di alam kenang. Masa lalu yang menggambar bayang. Kini semua seperti diputar ulang. Terus-menerus. Tak terhingga rasanya. Kita sibuk mengarang yang mengering. Ya, segala telah mengering.
#3
Pena kita kini luntang-lantung. Lihat kelopak mata kita mulai berkantung. Kurang tidur atau terlalu banyak rebahkan diri? Segala aksara kini kian terkatung-katung. Tak pernah selesai menjadi puisi atau esai. Lalu di alinea pagi, kita kembali menemukan narasi. Dengan kata-kata memenuhi ransel, kita mulai kembali menerobos kamus bahasa. Menyibukkan diri sebagai pengarang. Namun, segalanya tetap mengering.
#4
Di perjalanan menuju rumah berwarna biru. Kita simpan semua diksi haru. Tak lupa pasang wajah lugu. Sebab itulah apa adanya kita. Menyajikan segala yang telah mengering di lembar-lembar koran, majalah, pamflet. Tak jarang kita berpura pintar. Pintar bepura. Sampai akhirnya terjebak di kebuntuan dan ketidaktahuan. Sesuatu yang kadang luput dari kesadaran.
#5
Dan segala yang telah mengering kini diguyur hujan.
Ahmad Soleh. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media. Pendiri Penerbit Irfani, penerbit buku indie di Kota Depok. Mahasiswa S2 Uhamka ini juga merupakan awardee beasiswa MPK-SDI PP Muhammadiyah tahun 2024. Selain aktif sebagai sekretaris MPI PDM Kota Depok, ia juga aktif sebagai anggota APEBSKID Komisariat Jakarta. Aktif di Instagram ahm_soleh
