Bayangkanlah bahwa pria berasal dari Mars dan wanita dari Venus. Pada suatu hari di zaman dahulu, penduduk Mars yang sedang meneropong melalui teleskop menemukan orang-orang Venus. Melihat penduduk Venus, timbul perasaan-perasaan yang belum pernah mereka kenal. Mereka jatuh cinta dan segera menciptakan penerbangan angkasa untuk terbang ke Venus.
Orang-orang Venus menyambut orang-orang Mars dengan tangan terbuka. Secara naluriah, mereka tahu hari ini akan datang. Hati mereka terbuka lebar-lebar untuk cinta yang belum pernah mereka rasakan.
Cinta antara penduduk Venus dengan penduduk Mars terasa ajaib. Mereka senang berkumpul bersama, melakukan segala sesuatu bersama, dan saling berbagi rasa. Meskipun berasal dari dunia yang berbeda, mereka bahagia atas perbedaan-perbedaan itu. Selama bertahun-tahun mereka hidup bersama dalam cinta dan keselarasan. Kemudian mereka tiba di Bumi dan mulai amnesia. Mereka lupa bahwa mereka berasal dari planet yang berlainan, para pria dan para wanita pun terus-menerus bertengkar.
***
Dr. John Gray menuliskan kiasan mengenai konflik umum yang terjadi antara pasangan dalam buku Men Are From Mars Women Are From Venus. Kita bisa lihat—rasakan, bahwa pola komunikasi laki-laki dan perempuan ternyata berbeda. Dan perbedaan inilah yang sebenarnya memperjelas bahwa laki-laki dan perempuan itu saling membutuhkan. Saling melengkapi satu sama lain.
Seperti yang Bruce Lee katakan, “Aku tidak pernah takut akan seseorang yang telah berlatih melakukan 10.000 tendangan sekali waktu, tapi aku takut terhadap seseorang yang berlatih melakukan satu tendangan 10.000 kali.”
Saya menyadari bahwa menghangatkan hubungan pernikahan, harmonis, membahagiakan pasangan, tidak melulu soal berapa banyak tempat yang dipijak, berapa banyak uang yang dikeluarkan, atau berapa banyak barang ber-merk yang dibelikan (meskipun saya juga tidak menolak jika dikasih hehe). Namun, seberapa sering kita mengasah ‘berlatih’ melakukan satu kegiatan ‘ngobrol’ dengan 10.000 kali, atau bahkan lebih dari itu.
Jadi, ketimbang saya menuntut melakukan aktivitas bersama pasangan yang beraneka ragam ala selebgram—yang bahkan bisa bikin kantong kering. Saya malah meminta kepada suami untuk selalu menyisihkan waktu tiap ba’da subuh dan akhir pekan untuk ngobrol atau bisa kita sebut ‘kencan’—’us time‘.
***
Kencan yang ada di pikiran saya, tidak begitu sempit, tidak hanya seputar kegiatan nonton film di bioskop, makan di restoran, jalan-jalan ke Bali atau luar negeri. Tetapi bisa juga melaui sehabis sholat dan kami mengaji Al Qur’an bareng, kemudian mendiskusikan makna ayat tersebut; atau merutinkan baca Sharah Shahih Al Bukhari jilid 1-10 (meski belum khatam) yang merupakan mahar pernikahan kami; atau barangkali ngobrol santai tentang aktivitas apa yang telah kami lewati setelah makan malam di kamar.
Kegiatan yang saya sebutkan itu juga merupakan sebuah kencan yang mampu menawan hati saya—sungguh! Meskipun minim foto instragramable untuk dipost, tetapi kencan sederhana ini selalu memenangkan hati. Karena kebahagiaan ada di dalam diri kita sendiri, bukan diukur oleh jumlah like atau beribu komenan.
Beberapa hari lalu ketika saya membuka beranda instagram, saya membaca status Mbak Tristiul mengenai komitmennya bersama suami untuk rutin berkencan. Dan ternyata bukan saya seorang yang berpikir begini, hal yang perlu disyukuri karena ternyata masih ada pasangan-pasangan lain yang terus mau bertumbuh dan berkembang bersama.
Begini bunyinya:
“Aku ingin kita kencan rutin, diskusi rutin seminggu sekali. Untuk ungkapan uneg-uneg, evaluasi keberjalanan rumah tangga, dan merencanakan apa yang akan kita lakukan. Saya sangat diuntungkan dengan ritual ini. Uneg-uneg masing-masing yang bisa muncul tiba-tiba secara mentah dan menyakiti, lebih tersampaikan secara jernih saat kencan, atau terkonfirmasi lebih tepat. Perbedaan sudut pandang, karena didiskusikan rutin dari kencan ke kencan—mempermudah kami untuk bisa saling memahami.”
***
Ritual ‘kencan’ ini pun sangat membantu saya. Hingga pada saat saya sedang merasa malas memasak dan melakukan apapun, suami akan cepat tanggap dengan berkata, “kita gofood ya, mau makan apa?” Atau suami akan ikutan diam duduk di samping, tidak melakukan apa-apa saat saya sedang tidak ingin melakukan apapun (adegan ini hanya berada di akhir pekan).
Ketika salah satu dari kami tiba-tiba diam, kami saling memberi waktu tersendiri untuk menikmati kesenangan atau hobi. Semisal, bermain game atau nonton bola akan begitu berarti untuk suami saya ketika pikirannya butuh refleshing. Atau membaca novel dan nonton video lucu akan sangat membantu saya merefleksikan diri.
Ketika salah satu dari kami marah, kami sepakat untuk menerima perasaan tersebut. “Sayang, aku marah!” atau “Tahu nggak sih, aku tuh lagi marah, Beb!”
Sebab, kami percaya bahwa pasti ada maksud yang ingin Allah sampaikan lewat perasaan tersebut, entah itu cemburu, kesal, marah, dan lain-lain. Bisa jadi, ini adalah sinyal dari adanya hal yang perlu kami kita perbaiki, atau barangkali ada pembelajaran yang ingin Allah berikan.
***
Seperti fitrah perempuan yang condong pada perasaan, mampu menjadi obat pelipur lara seorang lelaki. Hingga kemudian, kita sering mendengar kisah turunnya wahyu pertama yang saat itu Rasulullah saw dalam suasana ketakutan. Ibunda Khadijah yang penuh rasa kasih-sayang menguatkan Rasulullah, ia melimpahkan rasa damai dan tentram ke dalam hati yang besar itu, hati yang sedang mengalami kekhawatiran dan gelisah.
Seperti Rasulullah yang hanya tersenyum ketika mendengar perasaan negatif istrinya. My husband pun berusaha demikian. Dan yang namanya usaha tidak cuma dilakukan sekali-dua kali saja. Tapi berkali-kali, sampai mentok bila perlu.
Karena banyak sekali konflik dalam hubungan kami, disebabkan karena komunikasi yang buruk, dan segera terselesaikan dengan komunikasi yang baik.
Saya pun masih terus mengulik dan berusaha menemukan banyak formula seputar dunia per-kencan-an yang dapat meningkatkan pola komunikasi saya dan suami menjadi lebih baik. Pada akhirnya, “ngobrol” adalah sebuah kebutuhan untuk setiap pasangan.
Mahasiswi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Awardee Beasiswa Unggulan kemendikbud RI. Ketua Korwil PII Wati Banten 2018-2020.
