Bulan Juni kemarin ini, aku benar-benar kehujanan. Deras sekali. Aku basah oleh air mata.
Jumat sebelum waktu asar, saya mendapat kabar kalau ibu dalam keadaan parah. Saat itu saya masih di luar kota. Ada pesan tambahan untuk tetap tinggal di sana, beserta kalimat “semoga ibu bisa melewati ini”.
Malam harinya ada panggilan mendesak, saya hanya diberi tahu dengan pesan singkat.
“Pulanglah, naik bus atau travel, jangan pakai motor. Kalau sudah di rumah akan saya ceritakan keadaan ibuk”.
Mendengar pesan tersebut, tentu saja saya langsung pulang.
Entah bagaimana, namun saya sudah menduga ibu tidak baik-baik saja, bahkan lebih buruk, saya menduga ibu telah tiada. Bayangan sendu memenuhi pikiran saya saat itu. Sepanjang perjalanan, saya menangis. Saya bahkan lupa kapan terakhir kali menangis.
Menangis memang tidak membuat takdir berubah, tapi paling tidak bisa membantu menerima takdir, setidaknya saya meyakini hal tersebut. Setelah menempuh 8 jam perjalanan, saya pun sampai di sebuah rumah sakit swasta.
Tidak ada yang benar-benar siap akan kehilangan. Sesampainya saya di sana, saya benar-benar yakin bahwa bayangan sendu kemarin memang benar adanya. Ibu memang sudah tiada. Saya kembali menangis, meski tidak lama. Saya agak menahan tangisan karena ternyata keluarga saya juga menahannya.
*
Kehilangan memang tidak pernah menyenangkan. Puncak patah hati seorang lelaki adalah saat ibunya pergi, dan tidak pernah kembali lagi. Banyak hal-hal yang baru aku tahu dari ditinggalkan. Salah satunya adalah melihat orang terdekat kita juga menangis dan kehilangan.
Secara insting, ketika melihat orang terdekat kita menangis, pasti kita ingin menenangkan mereka, namun ini menjadi ironi karena di saat yang sama, kita juga sedih dan butuh ditenangkan. Ini adalah tingkat kesedihan yang paling sedih yang pernah saya rasakan.
Dari sana saya belajar tentang manajemen air mata. Ketika sedang sendiri, saya menangis. Ketika sedang ada banyak orang, saya mencoba tegar. Saat itu saya merasa kalau hal tersebut adalah pilihan terbaik. Iya, ibarat bergantian meminjamkan pundak.
Namun, 3 hari berselang, saya sudah tidak tahan berpura-pura tegar. Saya akhirnya menangis di depan banyak orang. Kami sekeluarga bergantian menukarkan cerita kesedihan, kesan, kalimat yang diingat, sampai harapan-harapan yang terpaksa harus dinisankan.
Menangis di depan banyak orang memang sangat canggung. Sejak kecil, kita diajarkan untuk tidak boleh menangis dan selalu kuat, tabah, ikhlas ketika menerima cobaan. Yah, seperti ucapan salah satu artis Indonesia, jangan lupa senyum hari ini.
Tapi ketika akhirnya menangis di depan banyak orang, kemudian bercerita tentang kesedihan yang sedang dirasakan, beban dalam dada agaknya mulai surut. Mulai saat itu, saya sering bercerita dan bertukar kesedihan bersama-sama.
“Dulu ketika malam, ibu sering bertanya besok masak apa ya?”
“Biasanya kalau jam segini, ibu sudah bangun dan mulai masak”
Ingatan-ingatan akan kenangan mulai kami lampiaskan. Kami menjadi terbiasa bercerita tentang kehilangan, meski kadang kala masih dengan air mata, namun kami lega saat bercerita.
*
Satu hal lagi yang baru saya ketahui dari kehilangan, yakni kesedihan adalah peluapan emosi, alhasil tenaga kita juga terkuras ketika meluapkan emosi kesedihan (baca: menangis). Orang-orang yang sedang sedih dan menangis akan terlihat lesu, lemas, mereka lelah secara mental. Karena itu kita harus paham untuk memberi jeda pada tiap perjumpaan.
Di awal momen kehilangan, kami sangat lemas, meski secara fisik tidak mengerjakan apa-apa, namun secara mental, kami sudah habis dan butuh istirahat. Saat seperti itu, kami butuh pertolongan untuk sekadar menyambut tamu yang berdatangan. Budaya saling bantu di desa ketika ada keluarga yang meninggal sangat membantu kami menyembuhkan mental yang sudah letih.
Beban setelah ditinggalkan tidak berhenti sampai sana. Setelah agak sehat secara mental, dan ikhlas akan kepergian, kami masih harus memikirkan masa depan, apa yang harus kita lakukan ketika ibuk sudah tiada? Salah satu momen yang agak memberi tamparan kecil adalah ketika ada keluarga yang datang ke rumah untuk membantu mengurus rumah ketika sedang banyak tamu, kemudian mereka bertanya di mana barang ini, di mana barang itu?
Sialnya, saya baru sadar kalau saya tidak mengetahui tempat barang yang dimaksud, biasanya yang mengurus rumah dan menaruh barang-barang adalah ibuk, dan saya baru sadar akan hal itu. Momen seperti itu membuat kami harus bergegas untuk saling membagi peran, saling memenuhi kekurangan agar rumah kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Namun, bagaimanapun usaha yang lakukan. Seikhlas apapun mulut kami berbicara, kesedihan akan tetap berjalan bersama kami. Bahkan menulis memoar seperti ini saja sudah cukup membuat air mata mata saya berjatuhan. Sial, tidak ada yang baik-baik saja ketika ditinggalkan, tidak ada, tidak pernah ada!
Mahasiswa salah satu kampus Islami daerah Jogja. Dapat dihubungi lewat akun instagram @aduib07
