Sejak kecil, pertanyaan ini sering menghantui saya. Di tengah budaya patriarki yang kental, keraguan tentang kemampuan perempuan untuk memimpin tertanam dalam diri. Suara-suara sumbang yang meragukan, stereotip yang membelenggu, dan stigma yang melekat pada perempuan seakan menjadi tembok tebal yang sulit ditembus.
Di Indonesia, pemimpin perempuan masih terbilang langka dari pada pemimpin laki-laki. Pandangan yang meragukan kemampuan perempuan dalam memimpin pun masih kerap terdengar. Padahal, perempuan berpotensi yang sama seperti laki-laki untuk menduduki kursi kepemimpinan. Namun, seiring beranjak dewasa, suara hati saya mulai melawan keraguan itu. Saya melihat sosok-sosok perempuan inspiratif yang mendobrak batas dan menduduki posisi kepemimpinan dengan gagah berani. Mereka menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan, kecerdasan, dan keteguhan yang tak kalah dari laki-laki.
Dalam Islam, pemilihan pemimpin tidak boleh hanya berdasarkan jenis kelamin. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah Swt. pada QS Al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi :
وَاِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىۡ جَاعِلٌ فِى الۡاَرۡضِ خَلِيۡفَةً ؕ قَالُوۡٓا اَتَجۡعَلُ فِيۡهَا مَنۡ يُّفۡسِدُ فِيۡهَا وَيَسۡفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَؕ قَالَ اِنِّىۡٓ اَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُوۡنَ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Q.S Al Baqarah:30)
Dilansir dari liputan6.com, Firman Allah Swt. dalam QS Al-Baqarah ayat 30 menjelaskan bahwa khalifah, yang berarti pengganti. Kata khalifah berasal dari Bahasa Arab yaitu khalf yang memiliki arti menggantikan, dan kata khalaf yang bermakna orang yang datang kemudian, sebagai lawan dari kata salaf atau orang yang terdahulu. Dalam hal ini, tidak terbatas pada laki-laki saja. Setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin dalam berbagai aspek kehidupan. Kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin pemerintahan, tetapi juga dalam berbagai bidang seperti pendidikan, lembaga atau organisasi, keluarga, dan bahkan diri sendiri. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memimpin dan mengarahkan diri mereka sendiri dan orang-orang di lingkungannya.
Ayat itu dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas, “Masing-masing kamu adalah pemimpin. Dan masing-masing kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”.
Islam memperlakukan perempuan dan laki-laki sebagai dua pilar penting dalam kehidupan. Keduanya memiliki kedudukan yang sama dalam membangun dan memajukan dunia. Islam menganugerahkan perempuan dalam segi hak, kehormatan, dan tanggung jawab sesuai kodratnya sebagai hamba Allah.
Jauh sebelum Islam hadir, sejarah telah mencatat peran perempuan sebagai pemimpin. Salah satu contohnya adalah Ratu Balqis, pemimpin Kerajaan Saba’ (Yaman) pada masa Nabi Sulaiman AS.
Kisah Ratu Balqis termaktub dalam Al-Qur’an Surah An-Naml ayat: 23 yang berbunyi :
اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَةً تَمْلِكُهُمْ وَاُوْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ ٢٣
Artinya : “Sesungguhnya aku mendapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka (penduduk negeri Saba’). Dia dianugerahi segala sesuatu dan memiliki singgasana yang besar.” (Q.S. An-Naml ayat 23)
Hal tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak melarang perempuan untuk memimpin komunitas publik. Kisah Ratu Balqis dalam Surah An-Naml ayat 29-33 menjadi teladan bagi pemimpin perempuan masa kini. Ratu Balqis digambarkan sebagai pemimpin yang arif dan bijaksana serta demokratis. Ratu Balqis juga memiliki kemampuan intelektual tinggi dalam menegakkan kebajikan di negaranya. Keputusan-keputusannya selalu didasarkan atas kemaslahatan rakyatnya.
Sejarah pun mencatat kisah-kisah gemilang kepemimpinan perempuan. Ratu Cleopatra yang memimpin Mesir dengan kebijaksanaan dan ketegasan. Ratu Elizabeth I yang mengantarkan Inggris ke era kejayaan. Indira Gandhi, pemimpin India yang tangguh dan inspiratif. Sosok-sosok ini adalah bukti nyata bahwa perempuan mampu memimpin dengan luar biasa.
Kepercayaan diri saya pun mulai tumbuh. Saya sadar bahwa perempuan mempunyai power yang sama untuk memimpin dengan cakap dan berintegritas. Perempuan memiliki keunikan dan perspektif yang berbeda, yang dapat memberikan nuansa baru dalam kepemimpinan. Kemampuan perempuan dalam membangun komunikasi, menjalin kerja sama, dan menyelesaikan masalah dengan empati menjadi nilai tambah yang tak tergantikan. Banyak contoh pemimpin perempuan yang telah menunjukkan prestasi dan membawa perubahan positif bagi organisasi atau negaranya.
Dengan pemberian kepercayaan yang sama bagi perempuan dalam kepemimpinan, akan membawa manfaat bagi kemajuan bangsa. Keberagaman perspektif dan gaya kepemimpinan yang perempuan miliki dapat memperkaya proses pengambilan keputusan dan menghasilkan solusi yang lebih komprehensif.
Kesempatan dan akses yang sama untuk perempuan dalam berbagai bidang haruslah dibuka lebar. Dukungan dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat juga sangatlah penting untuk memperkuat kepercayaan diri dan memberikan ruang bagi perempuan untuk berkembang.
Namun, perjalanan menuju kepemimpinan perempuan tidaklah mudah. Stigma dan stereotip masih menjadi rintangan yang harus perempuan hadapi. Perempuan sering diragukan kemampuannya, diremehkan potensinya, dan bahkan dihambat langkahnya.
Di sinilah penting bagi kita untuk mendobrak tembok-tembok pembatas tersebut. Kita perlu mengubah pola pikir dan menghapus stigma yang melekat pada perempuan. Kita harus mendukung dan mendorong perempuan untuk berani mengambil peran sebagai pemimpin.
Saya percaya, dengan tekad, kerja keras, dan dukungan bersama, perempuan dapat menjadi pemimpin yang tak kalah hebatnya dari laki-laki. Masa depan kepemimpinan tidak hanya di nahkodai oleh laki-laki saja, namun perempuan juga dapat membawa kapal menuju masa depan yang gemilang.
Masa depan adalah milik mereka yang bertekad kuat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya. Kita sebagai perempuan, harus siap untuk mengambil peran dan berkontribusi dalam membangun masa depan.
Marilah kita berbondong-bondong untuk membangun generasi yang lebih inklusif dan adil, di mana perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk memimpin dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Oleh karena itu, sudah saatnya kita menyingkirkan stereotip dan membuka peluang bagi perempuan untuk berkiprah di dunia kepemimpinan. Kesempatan yang sama dan dukungan dari berbagai pihak akan mendorong perempuan untuk menunjukkan kemampuannya dan berkontribusi dalam membangun bangsa. Sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kedudukan yang sama dalam Islam. Kita harus saling menghormati dan mendukung satu sama lain untuk menyongsong masyarakat yang adil dan sejahtera.
