Site icon Inspirasi Muslimah

Rabi’ah Al-Adawiyah, Pencapaian Cinta Ilahi (4)

ilahi

Kita kembali menelisik kehidupan para sufi, hal ini terkait dengan apa tujuan mereka untuk beribadah?. Pada dasarnya tujuan ibadah para sufi adalah untuk berada sedekat mungkin dengan sang pencipta-Nya, yaitu Tuhan. Guna mencapai kedekatan dengan Tuhan, para sufi harus menempuh jalan (Thariqah), yang panjang, penuh duri, dan berisi (maqamat).

Di samping maqamat (amalan-amalan peribadatan), terdapat pula dalam literatur tasawuf istilah hal (ahwa). Hal ini merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, sedih, takut, gelisah, dan sebagainya. Namun, terdapat perbedaan antara maqam dan hal, maqam diperoleh atas usaha manusia, sedangkan hal didapatkan sebagai anugerah dan rahmat dari Tuhan.

Selain sebagai maqam, mahabbah (Cinta Ilahi) juga sering dipandang sebagai suatu keadaan spiritual yang tinggi yang merupakan anugerah Tuhan karena cinta-Nya. Menurut Rabi’ah Al-Adawiyah, yang satu sebagai bentuk maqam dan yang satu sebagai bentuk hal.

Cinta Ilahi Rabi’ah Al-Adawiyah yang pertama, selalu mengingat Allah, merupakan jenis maqam. Didalamnya ada daya dan upaya yang dilakukan oleh seorang hambah. Dan yang kedua adalah jenis hal, terbukanya tabir antara hambah dengan Tuhan adalah anugerah dan rahmat dari Tuhan.

Semua itu adalah tujuan yang sangat jauh yang akan dicapai oleh Rabi’ah. Karena itu, berdasarkan sumber yang ada (ajaran, doa, syair dan hikayat), ia menempuh thariqah dengan sangat tekun dalam beribadah.

Proses Pencapaian Cinta Ilahi

Dalam proses mencapai cinta Ilahi, Rabi’ah Al-Adawiyah sangat tekun dalam melaksanakan segala macam ibadah yang dianjurkan oleh Tuhan kepada hambah-Nya. Adapun beberapa ibadah tersebut merupakan ibadah yang menghantarkan Rabi’ah kepada pencapaiannya.

Ibadah dan Doa

Ibadah merupakan jalan menuju tingkat taqwa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala: “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah, 2:21).

Ayat di atas menjelaskan bahwa, seorang hamba yang hendak mencapai keridhoan Allah harus melaksanakan ibadah. Ibadah merupakan sarana paling utama untuk menuju kepada Allah. Rabi’ah adalah seorang yang sangat tekun dalam beribadah kepada Allah. Harapanya akan ridho Allah membuatnya tidak berhenti dari beribadah kepada Allah.

Suatu saat, ia pernah mengucapkan doa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala perkara yang menyibukkanku untuk menyembahmu. Dan dari segala penghalang yang merenggangkan hubunganku dengan-Mu.”

Rabi’ah sangat tekun dalam beribadah, dan ibadahnya yang ia lakukan semata-mata untuk mengabdi kepada Allah Hal ini disampaikan oleh Rabi’ah ketika ditanya apa yang mendorongnya tekun dalam beribadah kepada Allah. Rabi’ah menjawab: karena Allah saja. Apakah tidak wajar jika Allah memerintahkan kita untuk beribadah kepada-Nya, mengingat banyak nikmat yang telah diberikan kepada kita?.

Berbicara tentang doa, diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Doa adalah esensi dari ibadah. Secara umum doa terbagi menjadi dua pengertian yaitu:

Pertama, doa melahirkan maksimum kehinaan dan kerendahan diri dalam tiada berdaya dan menyatakan hajat, keperluan, kerendahan, ketundukan kepada Allah Swt. Kedua, doa menyatakan apa yang dikehendaki oleh seseorang terhadap Allah SWT. Untuk mendapat kemanfaatan dan menolak kemudharatan.

Menurut Al-Qusyairi, doa adalah jawaban bagi setiap kebutuhan. Doa adalah tempat beristirahat bagi mereka yang miskin, tempat berteduh bagi yang gundah, dan kelegaan bagi yang terbakar api hasrat, serta sarana penghubung antara hamba dengan sang pencipta-Nya.

Maqamat dan Ahwal Dalam Cinta Ilahi
Maqamat

Adapun maqamat yang pernah Rabi’ah lalui antara lain: taubat, zuhud, sabar, syukur. Namun, urutan ini bukanlah urutan yang pasti, karena memang tidak ada petunjuk tentang urutan maqamat yang dilalui oleh Rabiah Al-Adawiyah.

Taubat

Dalam ajaran tasawuf, sabar menduduki maqam yang pertama, karena dosa adalah dinding penghalang antara seorang hamba dan pencipta (Tuhan). Orang yang mencari keridhaan Allah dan menuntut bimbingan-Nya harus taubat terlebih dahulu.

Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 222). “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang ia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat.” (Q.S. Ar-Ra’d, 13: 27).

Menurut Rabi’ah, taubatnya seorang yang melakukan maksiat adalah berdasarkan kehendak Allah. Dengan kata lain, bergantung pada karunia Ilahi dan bukan karena kehendak manusia itu sendiri. Ia berpendapat bahwa orang yang bertaubat haruslah bersungguh-sungguh, tidak cukup dengan mengucapkan lafadz istighfar saja.

Zuhud

Pada perkembangannya, periode tasawuf didahului oleh adanya masa kehidupan asketik. Zuhud merupakan maqam terpenting bagi seorang calon sufi. Sebelum menjadi sufi, seorang calon sufi harus menjadi Zahid terlebih dahulu. Seorang sufi harus mampu mengalami kehidupan zuhud, yaitu menghindari kemewahan dunia dan hidup kematerian.

Rabi’ah yang sejak kecil rohaniahnya terbina dalam keluarga muslim dan kondisi sosialnya, membuatnya memilih hidup zuhud, setelah bebas dari perbudakan. Kezuhudannya itu terlihat jelas dalam segala sikap dan kata-katanya itu.

Sabar dan Syukur

Sabar merupakan amalan atau sikap yang wajib dimiliki oleh seorang sufi. Sabar adalah sikap seseorang menahan segala macam emosi, kemarahan atas apa yang telah di takdirkan oleh Tuhan. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 153).

Syukur adalah rasa terimah kasih kepada Allah atas segala kenikmatan yang diberikan kepada hamba-hambanya. Syukur berkaitan erat dengan rasa sabar. Kehidupan Rabi’ah yang sederhana telah mengajarkan perihal sabar dan syukur. Berbagai hikayat yang diakitkan dengan biografinya menunjukkan kebiasaannya dalam kesabaran dan kesyukuran.

Ahwal

Ahwal merupakan keadaan mental, seperti perasaan senang, sedih, takut, gelisah, dan sebagainya. Dalam perjalanannya Rabi’ah telah menemui hal seperti khauf, raja, sedih, ikhlas, dan rindu. Hal inilah yang mengantarkan Rabi’ah dalam menuju cinta Ilahi.

Khauf (Takut) dan Raja’(Harap)

Dalam perkembangan ajaran mistik dalam islam, khauf dan raja’ merupakan ajaran tertua dalam kehidupan para zahid dan sufi. Takut dan harap merupakan komponen iman. Sebagaimana Tuhan ajarkan bahwa orang beriman akan berdoa dengan rasa takut dan penuh harap. Firman Allah: “Mereka menyeruh kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” (Q.S. As-Sajdah, 32: 16)

Bagi Rabi’ah takut hanyalah kepada Tuhan yang menciptakan neraka, bukan kepada nerakanya. Ia memang telah meningkatkan ibadah dari maqam khauf dan raja’ menuju maqam mahabbah, tetapi tidak juga meninggalkan keduanya.

Rindu dan Sedih

Seseorang yang dilanda cinta tentu akan selalu mengharapkan pertemuan dan akan selalu menunggu pertemuan itu. Hal itulah yang disebut dengan rindu. Sedangkan sedih merupakan hal atau keadaan seseorang yang tanpa disengaja muncul di dalam bathin yang merindukan pertemuan dengan yang dicintainya. Cinta Ilahi telah menghantarkan Rabi’ah merasakan kedua hal ini.

Cemburu dan Ikhlas

Rabi’ah memandang bahwa kasih sayang Tuhan terhadap semua makhluknya sebagai sbuah ujian, hal itu menandakan di dalam diri Rabi’ah terdapat perasan cemburu pada orang lain. Akan tetapi Rabi’ah akan selalu mencintai Allah dengan penu rasa keikhlasan. Wallahu a’lam

Bagikan
Exit mobile version