Site icon Inspirasi Muslimah

Pernikahan Beda Harakah, Refleksi antara Pemikiran dan Perasaan

pernikahan

Pernahkah terbayang berjodoh dengan orang yang berbeda pandangan agama dengan kita? Lalu melangsungkan pernikahan dengannya? Atau mungkin saat ini kita sedang berada pada titik mencintai seseorang yang berbeda harakah dengan posisi pergerakan kita sekarang? Tentu saja, masalah ini sangat menuntut manajemen pikiran yang cenderung menimbulkan penolakan dan perasaan bagaimana bisa menjadi penengah dalam persoalan tersebut.

Walaupun harapan ingin mencintai dan memilih seseorang yang sejalan dengan pemikiran kita, tapi itulah keunikan takdir jodoh dari-Nya. Menuntut kita untuk terus belajar tentang kehidupan yang lebih mendalam lagi agar mampu lebih sabar menghadapi perbedaan dan mencintai dengan lebih bijak. Memang bukan sesuatu yang mudah, apalagi konsep pandangannya sangat jauh berbeda, butuh cara beradaptasi yang tepat untuk memecahkan kesenjangan tersebut.

Mengingat persoalan mengenai perbedaan pandangan dalam beragama atau harokah yang visi misinya berbeda ini merupakan salah satu faktor sensitif dalam memicu terjadinya sebuah perceraian. Sehingga penting sekali bagi kita untuk memahami dan menyadari hakikat dan tujuan pernikahan sekaligus mengikuti kebijaksanaan berpikir dalam pernikahan sebelum memutuskan untuk menikah. Supaya keretakan rumah tangga dapat terminimalisir.

***

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.(QS. Al Ruum/29 : 21).

Dalam ayat di atas, sudah jelas bagaimana seharusnya kita menjalani sebuah pernikahan. Rasa penuh kasih dan sayang menjadi salah satu unsur penting untuk mewujudkan keharmonisan dalam rumah tangga supaya senantiasa tercurah setiap harinya. Ketentraman ini memang sangat mudah hadir bagi pasangan yang saling mencintai dan searah pandangan atau pemikirannya.

Kerangka berpikir perkawinan (pernikahan) bagi manusia merupakan hal yang penting. Karena dengan sebuah perkawinan seseorang akan memperoleh keseimbangan hidup baik secara sosial biologis, psikologis maupun secara sosial. (Widodo, 2021). Sejalan dengan hal tersebut, tujuan pernikahan salah satunya adalah untuk mendapatkan ketenangan pikiran sebagai wujud dari visi keseimbangan psikologis dalam pernikahan.

***

Lalu bagaimana kalau pemikirannya bersimpangan? Sedangkan perasaannya ingin menetap dan terus mencintai? Berikut ini cara beradaptasi dengan pasangan saat mengalami kesenjangan ini dalam pernikahan beda pandangan agama atau pergerakan:

Sadari Bahwa Perbedaan Itu Rahmat

Banyak orang yang berasumsi bahwa perbedaan itu pemicu dari sebuah perpecahan. Wajar saja jika kita pun juga ikut berpikir demikian, sebab demikianlah kenyataannya. Walaupun sebenarnya perpecahan akibat adanya perbedaan. Khususnya perbedaan pemahaman ataupun cara pandang terhadap agama adalah kita yang salah dalam menyikapi perbedaan tersebut.

Perbedaan di antara kita itu adalah rahmat termasuk antara kita dan pasangan. Sehingga tidak baik bagi kita sebagai istri ataupun suami yang kemudian mempermasalahkan perbedaan pandangan agama ataupun harakah selama pandangannya tersebut berdasarkan Alquran dan As-sunnah dengan penggalian hukum yang sudah memenuhi syarat. Sebagaimana dalam sabda rasulullah berikut ini:

“Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat.” (HR. Nashr Al Maqdisi)

“Perbedaan pendapat para sahabatku adalah rahmat bagi kalian.” (HR. Al Baihaqi, Al Madkhal Ila As Sunan Al Kubra, No. 113)

Dengan demikian, penting bagi kita sebelum menjalani pernikahan dengan orang yang beda pemahaman agama ataupun harakah untuk menyadari bahwa perbedaan itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada kita dengan tujuan memberikan rukhshah  (keringanan) dalam melakukan segala aktivitas ibadah. Selain itu, juga menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk saling menghargai dan belajar cara beradaptasi dengan pasangan. Ini langkah penting yang perlu kita sadari sedari awal pernikahan supaya bisa mengendalikan ego dan menumbuhkan kasih sayang dalam keluarga.

Manajemen Emosi dengan Tetap Bersabar

Dalam menyikapi permasalahan, manajemen emosi itu sangat penting. Terlebih dalam lingkup ikatan pernikahan yang sudah jelas tidak akan jauh dari  konflik walaupun kecil. Dengan begitu, tentu saja termasuk solusi penting juga untuk kita pelajari sebagai bekal menghadapi persoalan rumah tangga selain menyadari hakikat dari sebuah perbedaan.

Level manajemen emosi yang berhasil adalah bentuk refleksi dari kesadaran kita terhadap hakikat dari sebuah perbedaan pandangan dalam aspek agama maupun aspek-aspek lainnya. Kalau kita sudah menyadari betul bahwa perbedaan itu adalah rahmat yang Allah kehendaki dengan kuasa-Nya. Maka sudah pasti kita akan bisa bersabar ketika dihadapkan dengan perbedaan pandangan yang kurang kita sukai atau bahkan yang sangat bertentangan dengan cara pandang kita terhadap hal tersebut.

Demikianlah seharusnya kita beradaptasi dengan pasangan yang berbeda pandangan agama ataupun harokah dengan diri kita. Supaya kita bisa mendapat kebaikan dunia maupun akhirat dari Allah SWT. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. AL Baqarah ayat 153).

Lebih Sering Berdiskusi Ringan dengan Pasangan

Saling memahami satu sama lain dalam keluarga juga menjadi salah satu kunci utama untuk mempertahankan ikatan pernikahan. Terlebih dalam posisi kita yang dihadapkan dengan takdir mencintai dan memilih pasangan yang memiliki pandangan agama ataupun harakah berbeda visi misinya dengan pergerakan keislaman kita sendiri.

Bukan sesuatu yang sulit dalam memahami pasangan, apabila kita sering melakukan diskusi ringan dengannya. Sebab, dengan berdiskusi kita akan tahu mana saja cara pandang kita yang membuat pasangan murung ataupun marah. Sehingga nanti kita dapat mengantisipasi masalah tersebut dengan cara meminimalisir tindakan secara langsung di hadapan pasangan saat menjalankan pemahaman agama yang tidak disukai oleh pasangan.

Sadari Posisi Kita dalam Pernikahan

Menjalankan keyakinan dalam beragama memang hal yang sangat diperbolehkan, walaupun pemahaman tersebut berbeda dengan orang-orang di sekitar kita. Hanya saja dalam konteks pernikahan, perlu juga menyadari posisi kita di dalam ikatan pernikahan tersebut sebagai pertimbangan dan kebolehan dalam mengaplikasikan pemahaman agama yang kita miliki.

Jika posisi kita sebagai seorang istri, tentu kita sudah paham tentang ketaatan kepada suami merupakan hal yang diwajibkan oleh agama. Walaupun memang, dalam ketaatan kepada suami ada batasnya, yaitu ketika ia menyuruh pada kemungkaran. Sikap kita sebagai istri tentu harus menolaknya, bukan menaatinya lagi. Sebab, yang dimaksud ridho Allah adalah ridho suami hanya berlaku dalam hal kebaikan menurut syaria’t bukan dalam keburukan.

Menyadari hal ini, maka kita sebagai istri harus mengikuti pemahaman suami sesuai perintah dalam hal ketaatan tersebut. Walaupun pemahamannya berbeda dengan pandangan kita. Mengingat pada poin pembahasan pertama, yaitu kita tidak boleh mempermasalahkan perbedaan pemahaman agama, apalagi sudah kita ketahui bersama bahwa perbedaan dalam hal tersebut itu adalah rahmat atau bentuk kasih sayang Allah SWT kepada kita.

Demikianlah beberapa upaya yang bisa kita lakukan dalam beradaptasi dengan pasangan yang kita cintai tetapi berbeda pandangan agama atau harakah dengan kita supaya bisa mengantisipasi konflik penyebab perceraian selama menjalin ikatan pernikahan.

Bagikan
Exit mobile version