Site icon Inspirasi Muslimah

Perdamaian dan Para Maryam Selanjutnya

maryam

Mustofa-1

Mari mengingat sejarah Nabi Isa Al-Masih yang menebar Islam dengan kasih. Di tengah semrawutnya tata sosial di Yerusalem. Zaman di mana lazimnya terjadi banyak kekerasan. Muncul seseorang pembawa perdamaian. Di mana fitnah mudah ditelan dan meracuni penduduknya dengan kebencian. Saat itulah Isa Al-Masih lahir. Terlahir dari rahim suci bundanya, Bunda Maryam di tengah merajalelanya fitnah.

Sudah pastinya kelahiran anak lelaki dari rahim suci yang jarang keluar dari mihrab itu memunculkan tanda tanya. Bahkan tersebar di penjuru kota, isu “kenakalan” Maryam. Sudah khalayak ketahui, makanan Maryam binti Imran berasal dari surga. Bagaimana bisa wanita terhormat pilihan Allah itu punya anak? Lantas fitnah mudah membuat orang menghakimi kejadian ajaib, lahir tanpa bapak ini.

Hampir saja Maryam diadili, diarak dan dihinakan dengan fitnah yang merajalela itu. Namun Maryam sedang berpuasa bicara. Allah berkehendak lain, Isa Al-Masih dalam buaian mengucapkan kata dengan fasihnya. Bayi berbicara bahwa beliau diutus sebagai nabi. Mukjizat yang membuat para rahib ketakutan dan penduduk tercengang takjub.

Singkat cerita, Isa Al-Masih yang sudah dewasa menebar kasihnya. Seperti kebanyakan seorang rasul, umatnya lebih banyak berasal dari kalangan budak atau kaum papa. Mukjizat yang ia miliki adalah daya tarik agama yang ia bawa. Isa Al-Masih mengetahui yang disembunyikan–atas izin Allah–dan menyembuhkan kebutaan. Bahkan menghidupkan kembali orang yang sudah mati.

Dakwah Islam dengan metode cinta kasihnya telah menggetarkan kaum Bani Israil, menginspirasi orang-orang Bani Israil memeluk agama damai yang Isa Al-Masih bawa. Di tengah zaman mudahnya terjadi peperangan, agama baru telah memberikan kesejukan. Sampai kekaisaran Romawi juga terusik. Sebagai catatan, sebetulnya Islam yang dibawa Isa bukan agama baru. Islam sudah ada sebelum zaman Isa Al-Masih.

***

Maryam binti Imran adalah madrasah pertama bagi perkembangan anaknya, Isa Al Masih. Maryam Radhiallahuanha, menjadi wanita yang berakhlak baik lantaran tumbuh dewasa atas didikan Nabi Zakaria Alaihisalam. Kepribadian cinta kasih Maryam yang dibalut ketakwaan, dikisahkan dalam Al-Qur’an. Sebagian di surat Maryam, sebagian di Surat Ali Imran.

“Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imran: 37)

Berdasarkan bekal pendidikan itulah, Maryam mampu menerapkan pola asuh cinta kasih kepada kepribadian Nabi Isa Alaihisalam. Maryam adalah sosok ibu yang berperan penting menegakkan prinsip perdamaian terhadap anaknya. Bisa dibilang, Maryam disebut the real peacekeeper woman saat itu.

***

Suka damai, bukan berarti Maryam binti Imran tidak menerapkan keberanian kepada putranya. Maryam sudah proporsional mengarahkan, kapan Isa Al-Masih menjadi penyejuk hati kaum papa kapan Nabi Isa harus berperang melawan ketidakadilan. Namun bukan takdir sang nabi untuk berperang melawan kezaliman saat itu.

Tugasnya adalah menebar perdamaian. Nanti di hari akhir, Nabi Isa akan turun dari langit dan mulai berjuang di sisi umat islam akhir zaman, melawan Dajjal Al Masih palsu. Peperangan itupun adalah bentuk melawan ketidakadilan dan membawa perdamaian. Dengan musnahnya Dajjal dan pengikutnya, maka tidak ada lagi kezaliman.

Berdasarkan dari kisah ini, betapa pentingnya peranan Maryam binti Imran sebagai orang tua, dalam menerapkan prinsip perdamaian. Orang tualah yang menjadikan seseorang memiliki kelembutan hati. Sebagaimana dikisahkan pula dalam buku parenting Tarbiyayul Aulad – Dr. Abdullah Nashih Ulwan (Bab IV hlm. 150).

***

Menebar cinta kasih di zaman kenabian Muhammad Saw. juga sangat terasa. Islam cinta kasih yang Rasulullah Muhammad bawa, mampu menghancurkan kezaliman dan kebodohan seluruh jazirah Arab.

Di zamannya terutama bagi klan Quraish sudah tidak ada lagi Tuhan selain Allah. Tuhan yang memerintahkan untuk berlaku adil terhadap wanita. Ajaran yang menghalalkan jual beli. Mengharamkan riba dan perilaku curang. Agama yang menolong kaum papa, merangkul orang kaya dan miskin dalam satu tali keyakinan. Pertarungan antar klan telah hilang. Pertempuran karena hal sepele, sirna. Kezaliman dihalangi rambu-rambu. Penjajahan dan perbudakan lambat laun dihapuskan.

Rasulullah adalah orang yang paling berlaku lembut terhadap keluarganya. Rasulullah memperhatikan kesehatan dan ketersediaan makanan bagi kaum Ahlus Shuffah (Orang-orang yang memilih tinggal di serambi Masjid Nabawi). Kelembutan hati dan suka damai-mendamaikan itu, bukan berarti Rasulullah tidak berani melawan kemungkaran. Sebagaimana Isa Al-Masih yang akan berperang pada masanya, Rasulullah pada masanya tidak segan-segan menghancurkan musuh Allah.

Meskipun Rasulullah yatim-piatu, didikan cinta kasih dan keberanian tak luput dari pola asuh yang diterapkan kepada baginda. Baginda pernah hidup dengan ibu susuan Halimah As Sa’diyah, pernah merasakan kasih sayang ibu kandung Aminah, pernah di bawah perlindungan paman Abu Thalib dan istrinya. Selalu disemangati oleh istri tercinta Khadijah Radiallahuanha dalam menepati kesabaran dan kuat dalam berjuang. Di mana hal ini membuktikan, peran perempuan dalam menjaga perdamaian dunia sangatlah penting. Semua orang tua mengharapkan cinta kasih, tetapi tak lupa menerapkan mental berani terhadap anaknya melawan kemungkaran.

***

Kesimpulan dari pembahasan ini tak lain dan tak bukan, adalah peranan perempuan dalam mendidik cinta kasih. Dunia perlu perdamaian. Hanya para Maryam selanjutnya yang mampu menghadirkan bibit unggul penegak perdamaian. Di mana cinta kasih tak menghalangi seseorang memerangi kemungkaran. Justru berlandaskan pola asuh cinta kasih inilah, seseorang berani membela agama dan martabatnya.

Para Maryam selanjutnya, yang mendidik anak agar menjunjung tinggi toleransi beragama dan perdamaian. Ada sebuah kata bijak penting untuk direnungkan, “Wanita itu adalah tiang negara. Bila baik wanitanya, maka baiklah negara. Bila buruk wanitanya maka buruk pula suatu negara”.

Bagikan
Exit mobile version