Site icon Inspirasi Muslimah

Peran Perempuan di Masa Rasulullah dan Sahabat

peran perempuan di masa rasulullah

Bagaimanakah peran-peran perempuan di masa ketika Rasulullah Saw dan para sahabat dulu? Bagaimana para perempuan ini menempatkan diri di masyarakat? Apakah karir mereka akan berhenti di rumah? Atau bagaimana  caranya mereka membaur di masyarakat? Nah, artikel kali ini akan membahas sedikit mengenai hal ini.

Terkait dengan peran perempuan ini pernah disampaikan oleh Dr. Dinar Dewi Kania, MM., M.Sos, direktur dari The Center for Gender Studies (CGS) dalam pembahasan keterlibatan perempuan muslimah dalam bidang politik, sosial, dan profesi pada masa kerasulan.

Sebagai seorang muslimah, tentu saja kita perlu mempunyai role model yang bisa menjadi teladan kita dalam menjalani peran sebagai seorang muslimah di masa kini. Mengingat bahwa tantangan yang dihadapi saat ini juga semakin beragam, peran muslimah juga sangat diharapkan dapat ikut serta menata peradaban yang sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip dalam ajaran agama.

Bagaimana peran perempuan di masa Rasulullah Saw dan para sahabat dulu di masyarakat? Berikut ini beberapa poinnya.

1.      Berperan di Bidang Pendidikan

Salah satu perempuan yang memiliki peran di bidang pendidikan ini adalah Hafsah binti Umar bin Khattab. Beliau memiliki kapasitas keilmuwan, pemahaman, dan juga ketakwaan yang luar biasa. Menjadi salah satu penerang ilmu pengetahuan di tengah masyarakat muslim ketika itu.

Hafsah seringkali menjadi rujukan bagi para sahabat bahkan Umar sendiri mengenai berbagai hukum agama, masalah hadis dan ibadah. Pada saat kepemimpinan Abu Bakar As Sidiq, Hafsah jugalah yang dipercayakan untuk menjaga lembaran-lembaran al-Qur’an yang suci yang berhasil dikumpulkan.

2.      Berperan dalam Metode Verifikasi Hadis

Dalam bidang ini yang sangat berperan adalah Aisyah Ra. Sudah sangat familiar bahwa beliau adalah seorang perempuan yang cerdas dan telah meriwayatkan banyak hadis yang menjadi rujukan bagi kaum muslimin hingga saat ini. Walaupun usianya masih sangat muda ketika menjadi istri Rasulullah Saw, ini menjadi kelebihan Aisyah dalam menyerap berbagai pembelajaran dari Rasulullah Saw.

Aisyah memiliki metode dalam memeriksa hadis sehingga ada banyak hadis shahih yang ia riwayatkan. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan hadis dengan teks al-Qur’an, lalu membandingkannya dengan hadis yang lebih kuat, membandingkan dengan sunnah yang dilakukan Rasulullah Saw.

Kemudian memeriksa berdasarkan peristiwa penyebabnya//konteksnya, lalu kesulitan dalam pengamalannya dan juga memeriksa kesalahan pemahaman terhadap makna sebenarnya. Dalam periwayatan hadis ini peran Aisyah sangat besar. Sehingga hadis-hadis yang shahih dapat terus menjadi pedoman bagi umat muslim hingga saat ini.

3.      Berkarya dengan Keterampilan Tangannya (Pengrajin)

Peran perempuan ketika itu juga ada yang berkarya menjadi pengrajin. Beberapa hadis menceritakan tentang hal ini.

Aisyah Ra berkata, “… ternyata yang terpanjang tangannya di antara kami adalah Zainab. Sebab dia sudah biasa berusaha dengan tangannya sendiri dan bersedekah.” (HR. Muslim)

Hal ini juga disebutkan oleh Al Hafidz Ibn Hajar dalam kitab Al-Fath bahwa al-Hakim meriwayatkan dalam kitab al-Mustadrak Dia berkata menurut syarah Muslim bahwa Zainab binti Jahsy adalah wanita pengrajin. Dia ahli menyamak dan menjahit kulit dengan hasil usahanya itu dia bersedekah pada jalan Allah.

4.      Keterlibatan dalam Produksi Barang dan Perniagaan

Ibn Hisyam dan Ibn Kahirun-Nash menceritakan hal ini bahwa para perempuan datang ke Madinah dengan barang produksinya. Mereka menjualnya di Pasar Bani Qainuqa. Kemudian setelah transaksi terlaksana, mereka membeli kebutuhan keluarga atau barang yang ingin dijual di tempat mereka dan daerah-daerah lain dan seterusnya. Jadi para perempuan juga ikut andil dalam produksi barang dan dunia perniagaan. Bahkan Bunda Khadijah pun juga merupakan contoh seorang womenpreneur yang sukses ketika itu.

5.      Keikutsertaan Perempuan dalam Menjaga Masyarakat terkait Urusan Politik

Ada kisah seorang Hafsah yang turut serta dalam mempengaruhi dunia politik. Ketika itu Umar bin Khattab jatuh sakit dan ada kegelisahan mengenai khalifah penerusnya. Jika hal ini tidak dibahas mungkin akan menjadi perdebatan dan perang di antara kaum muslimin.

Dalam sebuah hadis disebutkan,

“Ibn Umar berkata, “Aku pergi menemui Hafsah. Dia berkata kepadaku: “Apakah kamu sudah tahu bahwa bapakmu tidak menunjuk seseorang untuk menjadi khalifah?” Aku menjawab, Memang, dan rasanya dia tidak mungkin melakukan hal itu.” Hafsah berkata, “Tetapi dia harus melakukannya.” Ibn Umar berkata, “Lalu aku bersumpah bahwa aku akan membicarakan hal itu kepada bapakku..” (HR. Muslim)

6.      Keikutsertaan dalam Aktivitas Militer

Dalam peperangan sekalipun, perempuan juga ikut andil di dalamnya. Dalam sebuah hadis diriwayatkan, “Ruba’i binti Mu’awwidz berkata: “Kami pernah ikut berperang bersama Rasulullah Saw, kami bertugas memberi minuman pasukan dan melayani mereka serta memulangkan orang-orang yang terbunuh dan terluka ke Madinah.” (HR. Bukhari)

“Ummu Athiyyah Al Anshariyyah berkata, “Aku ikut berperang bersama Rasulullah sebanyak 7 kali peperangan. Aku selalu ditempatkan di bagian belakang pasukan. Akulah yang membuatkan makanan untuk mereka, mengobati luka-luka dan membantu orang sakit.” (HR. Muslim)

7.      Bekerja di Bidang Pertanian

Ada sebuah cerita ketika itu yang mengisyaratkan tentang perempuan yang memiliki peran di bidang pertanian. Jabir bin Abdullah berkata: “Bibiku dicerai dan dia bermaksud hendak mengambil buah kurma pada masa ‘iddahnya. Namun, ada seorang laki-laki menghardiknya agar jangan keluar dari rumahnya. Lalu bibiku pergi menemui Rasulullah Saw. Beliau berkata, “Tidak apa-apa, potonglah buah kurmamu. Barangkali dengan begitu, kamu bisa bersedekah atau melakukan suatu kebajikan.”

8.      Menyediakan Akomodasi

Ada salah seorang sahabat perempuan bernama Ummu Suraik. Ia membukakan pintu rumahnya untuk para tamu dan golongan muhajirin. Ia menjadikan rumahnya sebagai tempat persinggahan tamu bagi yang menghendaki.

Menyediakan akomodasi di sini maksudnya adalah memberikan fasilitas rumah atau ruangan untuk aktivitas penting bagi masyarakat. Persinggahan yang memuliakan para tamu agar dapat beristirahat, berbincang, maupun berdiskusi dengan nyaman.

***

Begitulah peran-peran perempuan di masa Rasulullah Saw dan para sahabat. Konteksnya peran di sini mungkin bisa disesuaikan dengan masa sekarang. Bahwa perempuan ternyata punya peran-peran di berbagai lini. Perempuan bisa berkontribusi sesuai dengan kemampuannya di masyarakat. Dalam bidang pendidikan, politik, perniagaan, kesehatan, dan berbagai bidang lainnya, perempuan bisa ambil peran di sana dengan porsi yang sesuai dengan dirinya.

Islam telah mengatur berbagai peran baik laki-laki maupun perempuan sesuai dengan porsinya. Tidak merendahkan maupun meninggikan satu sama lain. Dengan berbagi peran inilah segala sesuatu yang dihadapi sehari-hari jadi lebih mudah.

Apapun peran yang kamu jalani saat ini wahai perempuan, contohlah para role model muslimah di masa lalu itu dalam peran-peranmu. Ke mana peran-peran itu bermuara, untuk misi apa, dan lakukanlah hal itu dengan peran yang terbaik. Setiap zaman pasti punya tantangan tersendiri. Mari para perempuan juga turut berkontribusi dengan perannya masing-masing.

Bagikan
Exit mobile version